Apa Itu Disleksia?

Orang tua sering mengeluh mengapa anaknya yang usia 7 tahun masih belum lancar membaca, susah mengenal beberapa huruf, lambat dalam menulis dan tulisannya jelek sampai susah dibaca. Beberapa lagi mengeluh tiba – tiba menurun prestasi sekolahnya dan biasanya orang tua  ”tidak terima” jika guru melaporkan bahwa penyebab kemunduran prestasinya adalah kesulitan membaca. Karena masih banyak yang beranggapan disleksia hanya masalah terbolik-balik huruf, dan jika membaca hurufnya lari – lari atau terbang.

Kata disleksia berakar dari kata Yunani dyslexia, yang tersusun atas awalan “dys” berarti kesukaran dan kata ”lexis” yang berarti berbahasa sehingga makna kata disleksia adalah “kesukaran dalam berbahasa”. Pada kenyataannya kesulitan yang terjadi ternyata tidak hanya pada kegiatan berbahasa saja tetapi juga melibatkan domain kemampuan berbahasa lain seperti kemampuan membaca, menulis dan bahasa sosial.  Kondisi disleksia ini didasari oleh kelainan neurobiologis dimana anak disleksia memiliki perbedaan dalam memproses informasi dalam hal ini berupa informasi bahasa, seperti bagaimana mengambil informasi (input), bagaimana mereka memahami informasi tersebut, mengingatnya, dan mengaturnya dalam pikiran mereka (cognitive processing) sehingga menghasilkan tanggapan (response), serta bagaimana mereka menyampaikan tanggapan tersebut (output). Seluruh tahapan ini dapat terganggu pada seorang anak dengan disleksia. Dengan latar belakang tersebut dapat dipahami mengapa salah satu ciri yang mucul dari  seorang anak dengan disleksia adalah kesulitan memahami dan mengikuti instruksi lisan.

Walaupun anak disleksia cenderung memiliki kemampuan berbahasa di bawah rata rata atau tidak sesuai dengan usianya, tetapi ternyata anak disleksia memiliki potensi kognitif yang baik. Anak disleksia memiliki tingkat kepandaian yang normal bahkan beberapa diatas rata – rata.

Disleksia dapat terjadi pada siapa saja tanpa memandang jenis kelamin, etnis dan status sosioekonomi. Riwayat keluarga dengan disleksia terutama bila terjadi pada orangtuanya merupakan faktur risiko signifikan bagi seorang anak menyandang disleksia. Reid menyebutkan jika salah satu dari orang tua menyandang disleksia maka terdapat probabilitas 40% akan diturunkan pada anaknya.

Penegakan diagnosa menurut DSM V ( Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder V) dilakukan pada usia sekolah yaitu sekitar usia 7 tahun tetapi gejala – gejala yang mengarah pada kemungkinan terjadinya disleksia dapat diketahui jauh sebelum usia tersebut. Pada usia prasekolah anak disleksia akan menemui hambatan berbicara dan berbahasa. Mereka sulit mengenali dan membedakan kata – kata yang memiliki persamaan bunyi dan melafalkan kata – kata tersebut seperti kata “pesawat” menjadi “sepawat” . Mereka juga bingung dalam membedakan beberapa bunyi  huruf dan  bentuk huruf misanya “b” dengan “p” atau “m” dengan “n.  Saat anak memasuki usia sekolah mulai muncul kesulitan dalam kemampuan membaca dan menulis. Mereka sulit mengenali dan membaca kata – kata baru atau yang belum pernah dikenalinya sehingga lambat dalam kemampuan membaca. Hal ini akan menyebabkan anak tampak menemui kesulitan menyelesaikan tugas dengan tenggat waktu yang sudah ditentukan serta sulit mempelajari bahasa asing. Anak juga mengalami kendala dalam berkomunikasi karena memiliki perbendaharaan kata yang terbatas sehingga tampak tidak lancar berbicara dan terkadang menggunakan kata – kata yang tidak tepat. Meskipun demikian, tidak semua anak dengan disleksia memiliki semua tanda atau ciri tersebut. Karena disleksia memiliki memiliki gradasi dari yang ringan sampai berat.

 

Disleksia dapat dideteksi dini dengan mengenal tanda waspada atau red flags.

Red flags disleksia pada anak usia pra-sekolah :

Kesulitan dalam memahami fonem, atau kemampuan untuk mengidentifikasi  dan memanipulasi suara dalam kata adalah tanda awal kemungkinan anak mengalami disleksia. Contoh kemampuan membedakan fonem adalah :

  • Memecah suku kata dalam kalimat (berapa suku kata yang didengar pada kata “berhitung”
  • Membedakan bunyi huruf dalam kata-kata yang berbeda (huruf e pada “bebek”, “telor”)
  • Isolasi fonem (huruf “s” pada kata “sapi” di awal, tengah atau akhir kata)
  • Penghilangan huruf (kata “sapi” menjadi “api”, huruf s menjadi hilang)
  • Kesulitan membaca kata
  • Membaca huruf atau kata terbalik-balik
  • Kesulitan mengidentifikasi bunyi huruf, apakah pada awal atau akhir suatu kata. Kata apa yang dimulai dengan huruf /r/ ?  :  “rel” atau “ular “

Red flags disleksia pada anak usia sekolah dasar :

Anak denagn kemmapuan membaca dan menulis dibawah kemamuan intelejensia nya. Tanda waspada termasuk :

  • Kesultan melakukan sekuensing : alfabet, nama bulan
  • Tetap mengalami kesulitan dalam membedakan bunyi huruf
  • Kesulitan menemukan kata untk melabel suatu benda atau aktifitas : contoh naik ke atas pohon atau memanjat pohon, benda yang bulat untuk “bola”
  • Kesulitan dalam mengorganisasikan kegiatan dan belajar
  • Kesulitan dalam menceritakan suatu peristiwa
  • Menghndari atau tidak suka kegiatan membaca.

Jika ditemukan tanda waspada di atas, belum tentu diagnosis akhir adalah disleksia, dapat juga gangguan membaca atau bahasa lain.

Disleksia bukanlah suatu keadaan atau kondisi yang akan hilang atau sembuh dengan terapi atau pengobatan sehingga seorang anak dengan disleksia akan memiliki masalah tersebut seumur hidupnya. Hendaya akibat disleksia pada masa anak anak yang seakan akan berkurang atau sembuh ketika memasuki masa dewasa terjadi bukan karena disleksianya menurun atau hilang tetapi karena individu  tersebut berhasil menemukan cara untuk mengatasi masalah yang muncul akibat disleksianya. Kemampuan mengatasi masalah (coping strategy) ini dapat dikembangkan oleh setiap anak disleksia karena pada dasarnya anak disleksia memiliki intelegensia yang normal. Kemampuan mengatasi masalah ini dapat dikembangkan melalui terapi remediasi dan akomodasi sehingga seorang anak disleksia dapat tumbuh menjadi seorang individu dewasa tanpa disleksia atau berkurang derajat disleksianya

Selain dukungan dari orang tua dan keluarga dekatnya, peran guru juga tidak kalah penting dalam mengelola anak disleksia. Anak disleksia rentan mengalami bullying. Perlakuan bullying dapat berakibat penurunan self esteemyang pada akhirnya akan memperberat kondisi disleksianya. Anak disleksia akan terlihat sebagai anak yang tertinggal di kelasnya, malas, bodoh dan tidak mau bergaul dengan teman – temannya. Pendekatan dan kerjasama multidisiplin dari berbagai pihak memegang peranan penting dalam mengelola kondisi ini. Para stake holderberupa tenaga professional yaitu dokter, psikolog dan guru bersama sama dengan orang tua diharapkan dapat melakukan identifikasi dini dan memberikan penanganan lebih awal sehingga terhindar dari kondisi yang lebih berat. Sehingga diharapkan seorang  anak dengan disleksia dapat berkembang secara optimal dengan  menggali seluruh potensi dan kelebihan dirinya.

Penulis : Dr. Trully Kusumawardhani, Sp.A

Reviewer : DR.Dr. RA. Setyo Handryastuti, Sp.A(K)

Ikatan Dokter Anak Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *