Bagaimana Penanganan Demam Pada Anak?

Demam pada anak merupakan alasan konsultasi tersering  ke dokter anak dan dokter umum, sekitar 30% dari seluruh total kunjungan. Demam merupakan reaksi normal tubuh yang bermanfaat melawan kuman. Walaupun banyak orangtua memberikan obat penurun panas, perlu ditekankan bahwa tujuan utama obat tersebut adalah membuat anak merasa nyaman, bukan mempertahankan suhu yang normal.

Saat anak mengalami demam, orang tua harus memperhatikan aktivitas anaknya secara umum, apakah masih bisa bermain, makan dan minum dengan baik, dan perhatikan buang air kecil anaknya setiap 3-4 jam. Jika anak lebih sering tidur, malas minum dan buang air kecil semakin jarang, segera bawa anak ke dokter. Pada anak sedang tertidur lelap, sebaiknya orangtua tidak membangunkan untuk memberi obat penurun panas.

Obat penurun panas harus disimpan di tempat yang aman dan tidak terjangkau oleh anak-anak. Pemberian obat penurun panas harus diberikan berdasarkan berat badan anak dan diperlukan sendok obat yang khusus, yang bisa didapatkan dari apotek saat membeli obat tersebut.

Penurunan suhu tubuh dapat dibantu dengan penggunaan obat penurun panas (antipiretik), terapi fisik (nonfarmakologi) seperti istirahat baring, kompres hangat, dan banyak minum. Penggunaan obat tradisional dengan produk herbal atau homeopatik belum terbukti secara ilmiah dapat menurunkan demam, tapi hanya berdasarkan pengalaman semata sehingga perlu dikaji lebih lanjut.

Obat Penurun Panas (Antipiretik)

Penggunaan obat penurun panas bertujuan untuk menurunkan suhu tubuh dan membuat anak merasa lebih nyaman, namun tidak efektif untuk mencegah kejang demam. Parasetamol merupakan pilihan lini pertama untuk menurunkan demam dan menghilangkan nyeri. Kombinasi dua antipiretik parasetamol dan ibuprofen secara selang seling setiap 4 jam tidak terbukti  secara ilmiah memiliki efek antipiretik/analgetik yang lebih kuat dibanding pengguaan satu macam antipiretik.

Indikasi pemberian obat penurun panas:

Indikasi  utama pemberian obat penurun panas adalah membuat anak merasa nyaman dan mengurangi kecemasan  orangtua, bukan menurunkan suhu tubuh. Pemberian obat penurun panas diindikasikan untuk anak demam dengan suhu 38oC (pengukuran dari lipat ketiak). Dengan menurunkan suhu tubuh maka aktivitas dan kesiagaan anak membaik, dan perbaikan suasana hati (mood) dan nafsu makan juga semakin membaik.

Kombinasi antipiretik

Beberapa tahun terakhir, penggunaan dua antipiretik parasetamol dan ibuprofen sering digunakan untuk  mengobati demam pada anak di Rumah Sakit dan di rumah. Praktik seperti ini tidak dianjurkan karena sering terjadi kesalahan dosis obat, interval pemberian salah, dan intoksikasi obat karena berlebihan.

Pengobatan Secara Fisik

Tirah baring:

Aktifitas fisik yang tinggi dapat meningkatkan suhu tubuh anak dengan demam dan tanpa demam. Walaupun demikian, pergerakan anak yang demam selama aktivitas normal tidak cukup menyebabkan demam. Memaksakan anak demam untuk tirah baring tidak efektif, tidak disenangi dan mengganggu secara psikologis. Suatu penelitian kontrol-kasus dari 1082 anak dengan demam, ditemukan bahwa tirah baring tidak menurunkan suhu secara signifikan.

Kompres alkohol:

Kompres dengan menggunakan etil alkohol 70% / isopropil alkohol dalam air tidak efektif menurunkan suhu, dan lebih superior dengan mengompres dengan air. Inhalasi alkohol selama kompres berbahaya menimbulkan hipoglikemia dan koma.

Kompres air hangat (tepid sponging):

Tepid merupakan suatu kompres/sponging dengan air hangat. Penggunaan kompres air hangat di lipat ketiak dan lipat selangkangan (inguinal) selama 10-15 menit akan membantu menurunkan panas dengan cara panas keluar lewat pori-pori kulit melalui proses penguapan. Jika dokter dan orang tua merasa kompres diperlukan (misalnya suhu tubuh meningkat lebih dari 40 derajat Celsius, yang tidak respon obat penurun panas, maka penting untuk memberikan obat penurun panas terlebih dahulu untuk menurunkan pusat pengatur suhu di susunan saraf otak bagian hipotalamus, kemudian dilanjutkan kompres air hangat.

Kompres dingin:

Kompres dingin tidak direkomendasikan untuk mengatasi demam karena dapat meningkatkan pusat pengatur suhu (set point) hipotalamus, mengakibatkan badan menggigil sehingga terjadi kenaikan suhu tubuh. Kompres dingin mengakibatkan pembuluh darah mengecil (vasokonstriksi), yang meningkatkan suhu tubuh. Selain itu, kompres dingin mengakibatkan anak merasa tidak nyaman.

Pengobatan Herbal

Homeopati, terapi herbal, aromaterapi, akupuntur, refleksiologi, pijat, shiatsu, kiropraktik, osteopati dan penyembuhan spiritual belum terbukti secara ilmiah dapat menurunkan demam.

Kesimpulan

Tujuan utama pemberian obat penurun panas antipiretik adalah untuk membuat anak menjadi nyaman, dan juga berfungsi sebagai anti nyeri sehingga dapat mengurangi rasa nyeri. Penggunaan kombinasi antipiretik parasetamol dan ibuprofen secara bergantian tidak dianjurkan. Obat penurun panas tidak mempengaruhi perjalanan penyakit dan tidak mengurangi rerata hari demam.

Penulis: Mulya Rahma Karyanti (Divisi Infeksi dan Pediatri Tropis RSCM)

Gejala Lamban/Canggung Pada Remaja: Kelainan Atau Normal?

Gejala lamban/canggung pada remaja dapat merupakan kondisi normal atau merupakan lanjutan gangguan keteramplan motor/alat gerak yang sudah ada sejak dari usia sekolah dasar dan dikenal dengan “gangguan perkembangan koordinasi (GPK)”, yang diterjemahkan dari developmental coordination disorder (DCD).

(lihat artikel  Anak lamban akibat Gangguan Perkembangan Koordinasi)

Gejala lamban/canggung pada remaja karena gangguan perkembangan koordinasi

Gejala lamban karena GPK perlu mendapat perhatian khusus, mengingat masa remaja merupakan masa transisi (dari anak ke dewasa) yang merupakan masa sulit dalam kehidupan tiap anak. Kesulitan remaja ini akan bertambah banyak bila remaja tersebut sudah mempunyai gangguan tertentu sejak usia sekolah.

Banyak anak usia sekolah yang belum mencapai ketrampilan motor yang seharusnya sudah dimiliki oleh anak seusianya. Anak-anak seperti ini digambarkan sebagai anak “lamban”, dan mereka mungkin mempunyai kesulitan dengan tulisan tangannya ataupun dengan kemandiriannya. Namun keadaan ini sering luput dari pengamatan karena orangtua tidak mengenalnya sebagai suatu masalah medis, dan menganggapnya sebagai “anak yang malas, ceroboh”. Bila pun kelambanan ini dikeluhkan oleh orangtua kepada dokter, umumnya para dokter juga akan berupaya meyakinkan orangtua bahwa masalah  ini akan teratasi dengan sendirinya.

Ini tidak mengherankan karena kondisi GPK memang belum dikenal bila dibandingkan dengan gangguan perkembangan seperti ADHD (attention deficit hyperavtive disorder) atau kesulitan belajar.

Pada survei terhadap 255 dokter anak, 501 orangtua  dan 202 guru, terbukti bahwa hanya 41% dokter anak yang mengenal GPK, dibandingkan 99% yang mengenal ADHD dan  93% mengenal kesulitan belajar. Demikian pula guru sekolah atau orangtua yang mengenal GPK hanya sebanyak 6% dibandingkan 74% mengenal ADHD. Di Indonesia, meski belum ada survey seperti ini, namun diduga kondisinya tidak berbeda.

Istilah sindrom anak lamban (clumsy child syndrome) digunakan untuk menggambarkan anak dengan inteligensia normal, tanpa kelainan medis yang teridentifikasi, namun mempunyai gangguan  koordinasi yang berpengaruh pada performa akademik dan atau sosialisasi. Belakangan, istilah sindrom anak lamban diganti dengan istilah “gangguan perkembangan koordinasi (GPK)”.Penelitian juga telah membuktikan bahwa pada umumnya kelambanan ini cenderung dapat menetap sampai remaja dan dewasa.Remaja GPK sudah sewajarnya mendapatkan perhatian dari para orangtua dan guru, mengingat mereka umumnya berisiko mengalami kesulitan belajar, masalah emosi dan perilaku.

Apa itu Gangguan Perkembangan Koordinasi (GPK)?

Kondisi GPK menyebabkan kesulitan mengkoordinasikan cara tubuh bergerak. Diinterpretasikan sendiri oleh remaja sebagai ”lamban”.  Kondisi GPK dapat menyebabkan masalah dengan otot kasar tubuh yang digunakan untuk  berlari, melompat dan berolahraga (juga disebut koordinasi gerak kasar). GPK juga dapat menyebabkan masalah dengan otot halus yang digunakan untuk mengikat tali sepatu, atau menulis (koordinasi gerak halus), atau dapat terjadi pada keduanya.

GPK membuat aktifitas sekolah yang membutuhkan koordinasi gerak menjadi tantangan yang menguras tenaga dan membuat frustrasi. Para remaja mengalami kesulitan dalam menulis rapih, mengetik cepat, menggunakan gunting, kunci kombinasi atau peralatan sains, kesulitan dalam mengorganisir diri dan kegiatan olahraga. Mereka juga menghadapi tantangan dengan aktivitas kehidupan sehari-hari di rumah, misalnya menggunakan garpu – pisau untuk memotong makanan, mengeringkan rambut dengan pengering rambut, mencukur atau memakai anting di telinga. Kegiatan yang sebenarnya relatif santai dan sosial juga terpengaruh oleh GPK, misalnya kesulitan berolahraga skateboard, atau kesulitan bermain bola dalam tim olahraga.Kesulitan-kesulitan ini tidak berarti para remaja tidak dapat berprestasi, hanya saja remaja dengan kondisi GPK memerlukan kerja yang lebih keras untuk mencapai tujuannya bila dibandingkan teman bermain seusianya.

Penyebab GPK

Minimal terdapat 5% remaja dengan GPK, dan remaja lelaki lebih banyak dari remaja perempuan. Penyebabnya banyak faktor, namun yang pasti belum diketahui, dan diduga ada pengaruh genetik atau terjadi gangguan ketika di dalam kandungan, ketika lahir,  atau setelah lahir yang memengaruhi perkembangan otak atau motorik. Mencari jawaban mengenai terjadinya GPK memang cukup sulit, sehingga yang lebih diutamakan adalah penanganan yang dapat dilakukan untuk membantu mereka melakukan tugas secara mandiri dengan baik dan berhasil.

Untuk mengatasi masalah GPK, remaja perlu mempunyai kiat-kiat, antara lain “ M.A.T.C.H” yaitu:

M = Modification modifikasi tugas

A = Alternative alternatif  pada tujuan

T = Try mencoba menggunakan siasat yang baru

C = Change mengganti dan memanfaatkan lingkungan

H = Help membantu dan memberi pengertian pada diri sendiri dan orang lain.

Kiat M.A.T.C.H. dapat digunakan dalam:

  • Menyelesaikan tugas/pekerjaan rumah/sekolah: menulis dengan pensil berbentuk khusus yang sesuai atau menggunakan komputer untuk mengetik, sediakan tempat yang mudah dijangkau untuk menaruh benda-benda untuk aktivitas sehari-hari, tempat dapat berupa kotak bewarna dan diberi label seperti “alat tulis”, “perlengkapan mandi” dan lain-lain agar mudah ditemukan. Biasakan untuk mengatur sendiri tas sekolah, pilih tas sekolah yang mempunyai kantung luar untuk menyimpan barang penting yang sama sehingga mudah ditemukan misalnya buku catatan aktivitas dan pensil.
  • Merawat diri: pilih corak pakaian yang dapat menyamarkan noda bila terjadi tumpahan makanan, hindari baju dengan leher yang ketat karena akan menyulitkan memakai dan membukanya, pilih celana berkantung retsleting agar mudah menyimpan dan menemukan benda yang dibutuhkan, gunakan carabiner agar dapat dikaitkan ke ikat pinggang untuk menyimpan benda penting seperti kunci. Untuk mandi/mencuci rambut dianjurkan menggunakan sabun “untuk tubuh dan rambut”,agar tidak membingungkan remaja dan untuk mengeringkan badan dengan mudah di daerah yang sulit dijangkau dianjurkan menggunakan handuk berbentuk baju. Menggunakan kondisioner rambut anti kusut agar rambut mudah disisir setelah dicuci. Bila ada masalah dengan keseimbangan, remaja GPK dapat menyikat gigi atau menyisir rambutnya dengan posisi duduk.
  • Aktivitas diluar sekolah: tentukan aktivitas kesukaan para remaja dan amati bagaimana dapat melakukannya, dan teruskan aktivitas ini untuk menunjang kesehatan jangka panjang.
  • Keterampilan sosial: perlu diingat remaja dengan GPK merupakan individu yang unik dan tidak perlu mengerjakan sesuatu yang membuatnya tidak nyaman hanya karena keinginan bergabung dengan temannya, namun remaja GPK dapat ikut aktif dalam organisasi yang disukainya, ikut serta dalam klub seperti drama, fotografi, jalan santai, komputasi. Bila terdapat ketidaksesuaian di kelompoknya, remaja GPK jangan menyalahkan dirinya sendiri, mengingat semua remaja dapat membuat kesalahan yang lebih buruk.

II. Gejala lamban/canggung pada remaja yang masuk dalam kategori normal

Gejala lamban/canggung pada remaja yang masuk dalam kategori normal dapat terjadi pada masa pacu tumbuh.  Peneliti Bisi (2016) mengatakan bahwa pertambahan tinggi badan yang cepat berpengaruh pada kemampuan tubuh untuk mengontrol keterampilan alat gerak yang sudah terbentuk sejak dini seperti berjalan. Peneliti menduga otak berusaha keras untuk menanggulangi perubahan tinggi badan yang terjadi secara tiba-tiba selama masa pacu tumbuh.8

Pada penelitian yang membandingkan performa berjalan remaja lelaki yang sedang mengalami pacu tumbuh (19 remaja dengan pertambahan tinggi badan 3 cm dalam 3 bulan) dengan remaja lelaki yang tidak dalam pacu tumbuh (19 remaja dengan pertambahan tinggi badan kurang dari 1 cm dalam 3 bulan) didapatkan adanya pengaruh dalam keteraturan, kelancaran dan variabilitas gaya berjalan pada remaja lelaki yang sedang dalam pacu tumbuh. Pada kelompok kontrol, otak masih  dapat mengatasi perubahan dengan mempertahankan stabilitas sistim gaya berjalan.

Apa yang harus dilakukan orangtua?

Mengingat kondisi GPK mempunyai dampak terhadap pertumbuhan berupa peningkatan risiko terjadinya kelebihan berat badan dan obesitas dan dampak terhadap perkembangan berupa gangguan dalam prestasi akademik,dan kesulitan dengan hubungan social,maka perlu kesadaran orangtua untuk membawa anaknya ke klinik tumbuh kembang anak/remaja untuk melakukan skrining.  Skrining terutama pada anak usia dini untuk menemukan gangguan pertumbuhan / perkembangan anak sebelum makin berat.

Bila dalam skrining ditemukan adanya indikasi GPK, maka selanjutnya dilakukan pemeriksaan saraf oleh dokter saraf anak untuk menilai koordinasi otot dan keseimbangan, kualitas gerakan, kecepatan dan ketangkasan anggota gerak dan kecepatan respon dan control motor-visual.

Bila terdapat GPK, maka perlu dilakukan intervensi penanganan. Terdapat bukti kuat bahwa anak yang mendapat intervensi akan menjadi lebih baik daripada yang tidak diintervensi.  Intervensi yang efektif dengan cara pendekatan keterampilan fungsional dengan mengajari kegiatan hidup sehari-hari yang harus mampu dilakukan oleh anak, dan penerapan contoh kiat-kiat di atas.

Penulis : Dr. Jenni K Dahliana, Sp.A(K)

Reviewer : Prof. DR. Dr. Rini Sekartini, Sp.A(K)

Ikatan Dokter Anak Indonesia

Kapan Rambut Bayi Harus Dicukur?

Salah satu kebiasaan yang melekat di masyarakat Indonesia saat ada bayi baru lahir adalah tradisi mencukur rambut. Ada yang mengatakan rambut bayi harus dicukur pada hari ketujuh, sementara ada pula yang melakukan tradisi tersebut pada hari keempat puluh. Manakah yang lebih tepat?

Pada dasarnya, tidak ada waktu khusus kapan rambut bayi harus dicukur untuk pertama kalinya.

“Boleh dicukur, boleh tidak,” tegas Dr. Rosalina Dewi Roeslani, Sp.A(K), ahli perinatologi dari RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Rambut pertama bayi, atau dikenal juga dengan velus, akan rontok sendirinya pada bulan-bulan pertama. Tanpa dicukurpun, rambut halus tersebut akan rontok pada waktunya.

Rambut manusia akan melewati tiga fase pertumbuhan, yaitu fase tumbuh, fase istirahat, dan fase lepas. Setiap helai rambut mungkin berada pada fase pertumbuhan yang berbeda sehingga seringkali nampak ada area kulit kepala bayi yang agak jarang rambutnya, sementara bagian lain tampak lebat. Memotong–ataupun tidak memotong–rambut bayi tidak mempengaruhi kecepatan pertumbuhan ataupun membuat rambut tampak “lebih tebal”.

Pada bayi yang sudah lebih besar, rambut boleh dicukur sesuai dengan kebutuhan. Misalnya, ketika rambut sudah terlalu panjang sehingga menutupi mata atau mengganggu anak bergerak dan bermain. Saat memotong rambut, pastikan keamanan dan kenyamanan anak. Hindari membuat anak ketakutan dan pastikan kebersihan alat-alat yang digunakan seperti gunting, pisau cukur, dan sisir.

Nyatanya, hal yang lebih penting dilakukan daripada memotong rambut adalah menjaga kebersihan kulit kepala. Rambut bayi sebaiknya dikeramas setiap dua sampai tiga hari sekali menggunakan sampo yang sesuai. Tidak disarankan untuk keramas tiap hari karena dapat menghilangkan lapisan lemak kulit kepala dan menyebabkan kulit kering.

Salah satu masalah yang sering ditemui terkait kulit kepala adalah dermatitis seboroik, yang muncul sebagai lapisan atau serpihan berawarna kuning berminyak yang menempel pada kulit kepala. Kondisi ini kadang baru disadari ketika rambut bayi dicukur hingga botak. Pada bayi dengan kondisi ini, gunakanlah sampo hipoalergenik, karena salah satu penyebabnya adalah alergi.

 

Penulis: Dr. Ireska Tsaniya Afifa

Narasumber: Dr. Rosalina Dewi Roeslani, Sp.A(K)

Ikatan Dokter Anak Indonesia

Bagaimana Menyikap Difteri?

Bulan Desember 2017 ditandai dengan merebaknya penyakit difteri. Laporan penyakit ini berdatangan dari seluruh negeri, membuat jumlah kasus meningkat pesat hingga melebihi angka 700 sepanjang tahun. Tentu kejadian luar biasa yang menakutkan ini perlu diketahui oleh para orang tua. Berikut adalah beberapa fakta mengenai KLB difteri di Indonesia.

  1. Difteri adalah penyakit mematikan. Sebelum vaksin ditemukan, sekitar separuh penderita meninggal dunia. Pada jaman itu beberapa orang terkenal diduga juga meninggal karena penyakit difteri. Situasi berubah dramatis sejak vaksin ditemukan.
  2. Difteri disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae. Bakteri ini mampu menghasilkan racun yang merusak sel di tingkat lokal maupun menyeluruh. Di tingkat lokal, yang tersering terlihat adalah bercak atau selaput putih kotor, terutama di dalam rongga mulut. Secara menyeluruh, racun difteri sering menyerang jantung dan menyebabkan kematian.
  3. Difteri dapat dicegah. Salah satu upaya pencegahan paling penting adalah melalui imunisasi. Vaksin difteri adalah salah satu vaksin tertua yang masih digunakan hingga saat ini. Kemampuan vaksin ini sangat baik. Vaksin tidak cukup diberikan hanya 3 kali. Sedikitnya seseorang harus menerima 6-7 kali dalam hidupnya.
  4. Penularan utama difteri adalah melalui percikan cairan atau ludah (droplet). Penyakit ini tidak menular untuk jarak yang relatif jauh.
  5. Difteri dapat menyerang semua organ. Dimanapun yang diserang pasti akan terlihat selaput atau bercak putih dengan persyaratan tertentu. Seandainya meragukan, penilaian dari orang yang lebih berkompeten sangat penting.
  6. Pengobatan difteri terdiri dari beberapa unsur seperti isolasi, anti racun, antibiotika, pengobatan keluhan tambahan, melengkapi imunisasi, dan pengobatan komplikasi.
  7. Karena menular, pada setiap kasus difteri selalu dilakukan penelusuran orang terdekat di lingkungan penderita. Kelompok yang dievaluasi adalah orang serumah, teman sekelas, rekan sekantor, teman sepermainan, dsb. Kepada mereka ini dapat diberikan upaya pencegahan, imunisasi, serta pemeriksaan hapusan dari hidung dan tenggorok.
  8. Ada lebih dari 20 provinsi yang terdampak tahun 2017. Daerah dengan jumlah kasus terbanyak adalah Jawa Timur dan Jawa Barat.

Menyikapi beberapa fakta mengenai penyakit difteri di atas, berikut adalah saran bagaimana sebaiknya orang tua bersikap.

  1. Selalu memperbaharui status imunisasi anak. Periksalah data imunisasi anak secara berkala. Jika telah tiba saat imunisasi segera bawa ke sarana kesehatan. Jika terlambat, imunisasi tetap dapat diberikan.
  2. Hindari kerumunan banyak orang dan menggunakan masker untuk mengurangi kemungkinan penularan di tempat umum. Secara fisik, orang yang membawa bakteri difteri di tubuhnya tidak akan dapat dibedakan dengan mereka yang sehat. Kewaspadaan perlu lebih dituingkatkan.
  3. Jika anak sakit, selalu mengecek rongga mulut. Anak diminta membuka mulutnya. Jika nampak lapisan atau bercak putih, segera bawa anak berobat. Semua difteri selalu ditandai dengan bercak putih namun tidak semua bercak putih adalah difteri.
  4. Mengikuti petunjuk petugas kesehatan, baik dalam hal pencegahan, diagnosis, serta pengobatan.
  5. Orang tua sebaiknya tetap tenang dan tidak perlu panik. Semua hal akan menjadi lebih terarah bila dilakukan dengan tenang. Melakukan upaya pencegahan, memeriksakan secara dini anak sakit, serta mengupayakan pengobatan sesegera dan setepat mungkin adalah hal penting dalam menghadapi penyakit difteri.
  6. Apabila ada anggota keluarga yang sakit, seluruh anggota keluarga dan semua orang yang tinggal di rumah yang sama perlu ditelusuri. Penelusuran mencakup pemeriksaan hidung tenggorok, pemberian obat pencegahan, dan melengkapi imunisasi. Kegiatan ini dilakukan terkoordinir oleh petugas dinas kesehatan setempat.
  7. Menyikapi berita miring atau gosip atau hoax menyangkut difteri dan imunisasi secara bijaksana. Setiap berita perlu dievaluasi kebenarannya, bahkan yang berasal dari orang yang kita percayai sepenuhnya. Disarankan berita di media sosial atau media massa tidak langsung disebarluaskan sebelum dibuktikan kebenarannya.
  8. Hanya menggunakan sumber terpercaya untuk memperoleh informasi mengenai difteri serta imunisasi. Sumber ini bisa berasal dari Ikatan Dokter Anak Indonesia, Ikatan Dokter Indonesia, Rumah Sakit terakreditasi, Kementerian Kesehatan RI, serta media massa terkemuka dengan reputasi baik.
  9. Mengikuti petunjuk petugas kesehatan sekiranya memang terkena penyakit difteri. Aturan isolasi, lama pengobatan, variasi jenis obat, kesulitan dalam pengobatan, serta beberapa hal lain akan menjadi jauh lebih baik bila dikerjakan sepenuhnya dalam koordinasi dengan petugas kesehatan.

Khusus mengenai Outbreak Response Immunization (ORI), berikut beberapa hal untuk diketahui orang tua :

  1. ORI adalah salah satu respon dalam situasi kejadian luar biasa (KLB)
  2. Sasaran ORI saat ini adalah seluruh anak berusia di bawah 19 tahun.
  3. Semua sasaran akan menjalani 3 kali imunisasi, pada bulan ke-0, 1, dan 6. Semua sasaran tidak lagi dipengaruhi oleh status imunisasi sebelumnya.
  4. ORI hanya dilakukan di daerah tertentu sesuai ketentuan pemerintah. Daerah di luar ORI tidak melakukan kegiatan ini.
  5. ORI tidak perlu ditanggapi dengan kepanikan. Sebaliknya, bawalah semua orang berusia di bawah 19 tahun di dekat anda untuk menerima imunisasi dalam rangka ORI ini.
  6. Mereka yang tinggal di luar daerah ORI namun berkeinginan mendapatkan imunisasi seperti ORI dapat menghubungi puskesmas/RS setempat.
  7. Mereka yang tidak berasal dari daerah ORI namun mengunjungi daerah ORI ini juga boleh mendapat imunisasi.
  8. Informasi yang benar perlu disebarluaskan dengan tujuan sebanyak mungkin orang akan hadir untuk ORI.

 

Penulis: Dr. Dominicus Husada, Sp.A(K)

Reviewer: DR. Dr. Anggraini Alam, Sp.A(K)

Betulkah Baby Led Weaning (BLW) Lebih Baik?

World Health Organization (WHO) menyarankan pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) dimulai paling lambat saat bayi berusia 6 bulan (timely), dengan memperhatikan kecukupan zat gizi pada MPASI (adequate), aman dan higienis dalam penyiapan dan pemberian (safe), dan diberikan secara responsif (responsive feeding). Beberapa bulan terakhir, para orangtua mengenal metode pemberian MPASI alternatif yang banyak disebut-sebut di media sosial, yaitu baby-led weaning (BLW).  Sehingga tidak sedikit orangtua yang menjadi bingung memilih metode pemberian MPASI yang mana yang paling baik untuk sang buah hati.

Berbeda dengan pendekatan “tradisional” yang biasa dilakukan pada bayi dalam memperkenalkan MPASI, Baby-Led Weaning (LBW) adalah metode memperkenalkan MPASI dengan membiarkan bayi memilih sendiri semua makanannya (red: baby-led = dipimpin oleh bayi) sejak awal pemberian MPASI. Walaupun sesungguhnya pada praktik pemberian makan yang tradisional memfasilitasi bayi untuk memilih sendiri makanannya juga dilakukan, tetapi tidak untuk semua jenis makanan dan umumnya tidak dilakukan sejak awal periode perkenalan MPASI.

Metode BLW diperkenalkan oleh Rapley dan Markett pada tahun 2005 setelah buku mereka yang berjudul Baby Led Weaning: Essential Guide to Introducing Solid Foods and Helping your Baby to Grow Up a Happy and Confident Eaterdipublikasi. Mereka menyarankan bayi diberi “finger food”, yaitu makanan yang dapat dipegang oleh bayi, sejak bayi berusia 6 bulan, tanpa melalui tahap pemberian makanan berkonsistensi lunak (bentuk puree atau lumat). Orangtua menentukan apa yang ditawarkan untuk dimakan, tetapi bayi yang menentukan apa yang akan mereka pilih, berapa banyak, dan seberapa cepat menghabiskan.

Banyak perdebatan mengenai metode BLW sebagai metode pemberian ASI pertama. Bayi yang mendapat BLW berisiko mengalami kekurangan nutrisi karena bayi yang menentukan jenis makanan yang dihabiskan dan berapa banyak. Seringkali apa yang dipilih bayi tersebut tidak dapat memenuhi kebutuhan karbohidrat, protein, lemak, serta zat gizi mikro terutama zat besi. Sebagian beranggapan bahwa metode BLW mendorong bayi untuk menerima berbagai macam tekstur dan rasa makanan sehingga lebih mudah menerima makan “sehat” seperti sayur-sayuran. Ada pula anggapan bahwa metode BLW berdampak pada kemampuan bayi mengatur rasa lapar dan mencegah obesitas. Namun hal ini tidak terbukti berdasarkan studi terbaru oleh Taylor (2017) yang menemukan bahwa bayi yang menjalani metode BLW memiliki indeks massa tubuh yang sama dengan bayi yang diberi MPASI secara konvensional.

Pemberian MPASI melalui metode BLW juga banyak ditentang karena bayi berisiko mengalami tersedak. Dua studi kecil oleh Cameron (2013) dan Morrison (2016) mengindikasikan adanya risiko tersedak lebih tinggi pada bayi yang mendapat BLW. Studi BLISS (Baby-Led Introduction to SolidS, 2017) mencoba mengurangi risiko tersedak dengan melakukan modifikasi terhadap metode BLW, yaitu dengan tetap mengikuti aturan umum pemberian makan seperti:

  1. Memastikan faktor kesiapan dan keamanan bagi bayi:
  • Posisi bayi harus sudah menegakkan dada dan selama proses makan dapat mempertahankan posisi tersebut
  • Bayi harus selalu didampingi saat pemberian makan
  • Memperkenalkan makanan yang cukup dapat digenggam oleh bayi (biasanya dalam bentuk finger food; makanan seukuran jari orang dewasa)
  • Pastikan makanan cukup lembut sehingga mudah hancur di mulut
  • Hindari makanan yang berisiko menyebabkan tersedak, yaitu makanan berbentuk koin, seperti kacang, popcorn, buah anggur, dan lainnya
  1. Perkenalkan berbagai macam makanan
  2. Ajak bayi makan bersama dengan anggota keluarga lain
  3. Hindari makanan cepat saji atau mengandung banyak gula dan garam

Studi BLISS juga memperingatkan berbagai hal mengenai metode BLW ini, yaitu jangan berharap dengan menggunakan metode ini bayi dapat langsung menyukai makanan yang dicobanya serta bayi dapat segera mengkonsumsi makanan dengan menu seimbang, Atau juga berharap bahwa bayi langsung dapat menghabiskan makanannya dengan cepat dan tepat waktu.

Sebagai kesimpulan, metode BLW saat ini masih menimbulkan kontroversi dan belum dapat dibuktikan sebagai metode pemberian MPASI yang aman dan lebih superior dibandingkan metode pemberian MPASI yang dianjurkan WHO. Masih banyak hal yang harus diperhatikan dengan cermat sehingga metode BLW ini masih belum dianjurkan untuk diterapkan. Oleh karena itu, ayah dan bunda perlu menelaah lebih lanjut dan berdiskusi dengan dokter sebelum mencoba metode baru yang banyak tertulis di media sosial.

Penulis : Dr. Cut Nurul Hafifah, Sp.A

Reviewer : Dr. Titis Prawitasari , Sp.A(K)

Ikatan Dokter Anak Indonesia

Bagaimana Penanganan Kesulitan Makan Pada Anak?

“Anak saya mogok makan, dokter”, “Anak saya hanya mau minum susu, sehari bisa seliter”, “Anak saya selalu memilih-milih makanan” adalah masalah yang tersering dikeluhkan ibu-ibu. Pertama, mari kita coba perhatikan mengapa Si Kecil memiliki kesulitan makan.

Apakah Si Kecil sering batuk, tersedak, memiliki kesulitan menelan atau muntah berulang? Apakah Si Kecil selalu terlihat lemas atau sesak saat makan atau menyusui? Apakah berat badan Si Kecil tidak naik-naik? Apakah Si Kecil memiliki diare berdarah atau berkepanjangan? Apakah Si Kecil terlihat kesakitan saat makan? Apabila Anda menjawab “Ya” pada salah satu pertanyaan di atas, segera konsultasi ke dokter. Perhatikan kapan anak mulai mengalami kesulitan makan.

Setiap anak unik sehingga pendekatan kepada mereka perlu disesuaikan dengan karakteristik mereka masing-masing. Jika Si Kecil sudah bisa diajak berkomunikasi, tanyakan apa masalah mereka dan mengapa mereka tidak ingin makan. Cari tahu makanan kesukaannya, makanan yang kurang disukai dan mengapa? Perhatikan variasi makanan yang diberikan ke anak, apakah anak bosan dengan makanan yang diberikan sehari-hari?

Jadwal pemberian makan yang teratur tidak kalah pentingnya untuk menambahkan nafsu makan seorang anak. Dengan jadwal makanan berjarak minimal 3 jam di antara makan, kita dapat menimbulkan siklus lapar dan kenyang sehingga anak akan makan cukup saat waktunya makan. Jumlah pemberian makan ideal per hari adalah sekitar 6 – 8 kali per hari berdasarkan usia.

Selain itu, tipe makanan juga perlu diperhatikan, yaitu, hindari pemberian susu terlalu banyak. Susu terlalu banyak sudah pasti akan mengurangi nafsu makan anak karena mereka sudah akan merasa terlalu kenyang untuk makan dengan porsi yang cukup. Sebagai gambaran, untuk anak 6 – 8 bulan, disarankan pemberian makan pendamping 2 x/hari dan ASI 6x/hari. Untuk anak usia 9 – 11 bulan disarankan 4 x pendamping ASI dan 4 x ASI. Dan untuk anak 12 bulan ke atas, disarankan pemberian 6 x pendamping ASI dan 2 x susu.

Si Kecil adalah peniru yang sangat handal. Ajaklah anak Anda duduk bersama di meja makan pada saat keluarga makan malam. Si Kecil akan mulai memperhatikan proses makan dan akan muncul ketertarikan untuk mencoba makanan yang tersedia. Perhatikan apakah Anda atau pasangan Anda mempunyai kebiasaan buruk untuk memilih-milih makanan (atau tidak suka/tidak pernah makan suatu jenis makanan). Jika iya, kemungkinan Si Kecil meniru kebiasaan buruk Anda.

Hindari bermain saat makan, namun buatlah proses makan menyenangkan dengan memberikan mereka variasi makanan dengan berbagai warna dan bentuk. Ajaklah Si Kecil memasak bersama. Pastikan anak Anda duduk pada satu tempat dan tidak bermain gadget saat sedang makan. Anda boleh memberikan mangkok berisi makanan yang telah dipotong kecil-kecil agar Si Kecil dapat “bermain” dan mencoba makan sendiri dari mangkok tersebut. Isi mangkok disesuaikan dengan usia dan dapat merupakan lauk yang sama yang sedang disuapi oleh Ibu atau pengasuh. Contoh, tempe, ayam atau ikan suwir dan buncis atau wortel yang dipotong kecil.

Jika masalah kesulitan makan terus berlanjut, berkonsultasilah dengan dokter anak Anda secepatnya.

Penulis          : Dr. Dimple Gobind Nagrani. Sp.A

Reviewer        : Dr. Endang Dewi Lestari, Sp.A(K)

Ikatan Dokter Anak Indonesia.

Bolehkah Susu Kental Manis Diberikan Pada Anak?

Salah satu pertanyaan yang paling sering kami dapat di klinik konsultasi website IDAI adalah penggunaan susu kental manis pada anak. Pertimbangan orangtua memilih susu kental manis adalah harga yang relatif lebih murah, mudah disimpan dan tidak cepat basi dibandingkan dengan susu formula.

Sebelum menjawab pertanyaan diatas, perlu Ayah Bunda ketahui pada anak usia dibawah 1 tahun susu yang dianjurkan adalah Air Susu Ibu (ASI). Apabila ASI tidak dapat diberikan, pilihan susu yang dapat diberikan adalah ASI donor yang telah terjamin higienis dan keamanannya. Jika Ayah Bunda tidak mendapatkan ASI donor, maka pilihan selanjutnya adalah susu formula untuk bayi dan anak. Susu formula merupakan susu sapi yang telah dimodifikasi

Selanjutnya bagaimana penggunaan susu kental manis pada anak usia diatas 1 tahun? Pada anak usia diatas 1 tahun, konsumsi jenis makanan si kecil sama seperti pada orang dewasa. Perlu Ayah Bunda ketahui pemberian susu pada anak usia diatas 1 tahun, baik ASI ataupun susu lainnya pada si kecil tidak utama, karena  hanya boleh diberikan maksimal 30% dari total kebutuhan kalori, dan 70% sisanya seharusnya  diberikan berupa makanan padat.

Ayah dan Bunda, perlu diketahui bahwa susu didalam konteks makanan anak usia Batita dan Balita adalah sebagai sumber kalsium dan sumber protein dengan asam amino esensial yang lengkap.

Bagaimana dengan penggunaan susu kental manis pada anak?

Susu kental manis (SKM) adalah susu yang dibuat dengan melalui proses evaporasi atau penguapan dan umumnya memiliki kandungan protein yang rendah. Selain diuapkan, susu kental manis juga diberikan added sugar (gula tambahan). Hal ini menyebabkan susu kental manis memiliki kadar protein rendah dan kadar gula yang tinggi. Kadar gula tambahan pada makanan untuk anak yang direkomendasikan oleh WHO tahun 2015 adalah kurang dari 10% total kebutuhan kalori.

Susu kental manis sebaiknya tidak  dikonsumsi oleh balita. Ayah Bunda  harus pintar memilah dan harus terlebih dahulu melihat kandungan nutrisi setiap porsinya. Contohnya salah satu jenis susu kental manis yang dijual secara komersil menuliskan dalam satu takar porsi (4 sendok makan) memasok 130kkal, dengan komposisi  gula tambahan 19 gram dan protein 1 gram. Jika dikonversikan dalam kalori, 19gram gula sama dengan 76kkal. Kandungan gula dalam 1 porsi susu kental manis tersebut lebih dari 50% total kalorinya, jauh melebihi nilai rekomendasi gula tambahan yang dikeluarkan oleh WHO.

Kesimpulan :

Susu kental manis tidak boleh diberikan pada bayi dan anak, karena memiliki kadar gula yang tinggi, dan kadar protein yang rendah. Pemberian susu yang direkomendasikan untuk bayi adalah ASI atau ASI donor yang telah terbukti aman atau susu formula bayi. Sedangkan jika berusia di atas 1 tahun, selain ASI dapat mengonsumsi susu sapi yang sudah dipasteurisasi atau UHT atau.susu formula pertumbuhan. Untuk pemberian susu selain ASI sendiri sebaiknya berkonsultasi kepada dokter spesialis anak . Semoga sehat selalu.

Penulis : Dr. Bagus Budi Santoso

Narasumber : Dr. Damayanti, Sp.A(K), Ph.D

Kapan Anak Siap Masuk Sekolah Dasar

Orang tua sering bertanya , “Apakah Anak saya sudah siap masuk, SD?”. Apakah yang menjadi dasar untuk menilai anak sudah siap masuk Sekolah Dasar atau SD?. Apakah dari segi usia?, kemampuan kognitifnya seperti baca tulis?, atau kematangan emosinya?. Beberapa orang tua bahkan menginginkan anaknya yang belum genap berusia 6 tahun segera masuk bangku Sekolah Dasar karena dianggap sudah mampu mengenal huruf, angka bahkan sudah bisa membaca, berhitung dan menulis. Beberapa orang tua bahkan sudah mempersiapkan anaknya sejak Taman Kanak – Kanak dengan berbagai les atau bimbingan membaca dan menulis agar dapat diterima di SD favorite yang menerapkan seleksi masuk seperti layaknya ujian masuk Perguruan Tinggi.

Terjadi banyak perubahan saat anak masuk ke jenjang pendidikan formal seperti Sekolah Dasar. Anak akan mengalami perubahan dalam hal lingkungan fisik. Saat TK mereka “belajar dan bermain dalam gedung yang lebih kecil, dengan jumlah siswa yang relatif lebih sedikit. Saat SD akan belajar di dalam gedung yang lebih besar dan jumlah murid yang lebih banyak.

Di Sekolah Dasar anak sudah mulai dikenalkan dengan aturan  dan prosedur yang harus ditaati. Seperti berbaris sebelum masuk ke kelas, jam pelajaran yang lebih awal, angkat tangan jika bertanya dan beberapa aturan lain yang dibuat untuk ketertiban kelas. Juga mereka mulai mengenal suatu proses belajar yang terstruktur dan formal sehingga anak diharapkan sudah dapat duduk tenang dalam waktu tertentu saat mengikuti kegiatan pembelajaran di sekolah dan sudah lebih mandiri saat di kelas.

Selain itu  dibutuhkan kemampuan social relationship karena mereka mulai mengenal tidak hanya teman dan guru yang tentu jumlahnya lebih banyak tetapi ada komponen lain di sekolah seperti bapak satpam, tukang kebun, ibu penjaja kantin sekolah dan karyawan administrasi yang bertugas di kantor sekolah.

Kesiapan anak untuk masuk jenjang pendidikan formal seperti Sekolah Dasar, harus melihat dari semua aspek kesiapan perkembangan anak, yaitu meliputi : perkembangan motorik kasar dan halus, kognitif, sosial emosi, bahasa, literacy/numeracy,  dan bukan umur biologis saja. Umur biologis belum menjamin kesiapan anak untuk bersekolah. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kemampuan perkembangan anak lebih penting daripada umur biologis untuk menilai kesiapan anak masuk sekolah.

Untuk usia sekolah, kemampuan motorik kasar meliputi kemampuan seperti : berjalan baik di garis lurus, berdiri dengan satu kaki, berlari baik, naik turun tangga sendiri, melompat jauh dan mendarat dengan dua kaki bersamaan, melempar, menendang dan menangkap bola, serta sudah dapat mengayuh sepeda roda tiga. Kemampuan motorik halus meliputi : kemampuan memegang pensil dengan baik (tripod posisi), dapat menggambar bentuk dasar seperti lingkaran, kotak dan segi tiga, dapat mewarnai didalam garis pembatas, dapat menggunting pola bentuk dasar, bermain menyusun balok 3 dimensi, mandiri untuk mampu melepas dan memakai baju berkancing, risluiting, memakai sepatu dan kaos kaki,dan makan serta minum sendiri.

Kemampuan kognitif yang dibutuhkan untuk seorang anak untuk siap di sekolah dasar diantaranya : kemampuan menjelaskan persamaan dan perbedaan suatu benda, dapat mengelompokan benda sesuai dengan klasifikasi sederhana, menyelesaikan puzzle sederhan (5 sampai 6 keping), dapat memahami pola berurutan dari deret bentuk atau warna, mengenal bentuk dan warna, mengetahui konsep waktu seperti hari, bulan dan tahun. Kemampuan lain yang tidak kalah penting adalah kemampuan sosial emosi. Yaitu : mengetahui nama, umur dan jenis kelamin, paham dan bisa mengantri, dapat bermain bersama dan berbagi, memulai pembicaraan dan permainan. Anak juga sudah mampu berpisah dari orang tua saat sekolah, mampu bertahan untuk menyelesaikan tugas yang diberikan, dapat mengungkapkan dan mengontrol emosi, sudah dapat mandiri saat buang air kecil dan air besar, dapat menumpukan perhatian dan meminta pertolongan kepada orang dewasa saat membutuhkan.

Aspek perkembangan berikutnya adalah : perkembangan bahasa, baik bahasa reseptif (pemahaman) maupun bahasa ekspresif (kata – kata yang dikeluarkan). Diantaranya adalah : memahami dan mengikuti dua instruksi bersamaan, memahami konsep dasar seperti arah, preposisi, ukuran dan perbandingan. Kemampuan berbahasa ekspresif meliputi : dapat membuat kalimat lengkap, artikulasinya jelas, dapat menceritakan kembali dengan urutan yang logis,dapat membuat kalimat berisi 10 kata atau lebih, dapat bertanya 5 W 1 H ( what, who, when, where, why and how).

Kemampuan literasi atau kecakapan menulis dan membaca serta berhitung atau angka, merupakan syarat paling terakhir untuk seorang anak dianggap siap sekolah. Karena dengan terpenuhinya kemampuan – kemampuan diatas yaitu perkembangan motorik kasar dan halus, kognitif, sosial emosi, bahasa, kemampuan literasi akan berkembang dan lebih mudah dipelajari seorang anak. Kemampuan literasi seperti, anak sudah lebih menyukai mendengarkan story telling dengan rima dan puisi, dapat menulis namanya,dapat mengidentifikasi dan menulis huruf besar dan huruf kecil, dan mudah memahami kata – kata yang sering dilihat atau sight words. Kemampuan berhitung seperti mengenal dan menulis angka 1 sampai 10 dan dapat memahami konsep kuantitas angka 1 sampai 10. Paham konsep lebih sedikit dan lebih banyak.

Hal yang paling penting adalah dukungan dari orang tua dalam menghadapi hal – hal yang dapat menimbulkan kecemasan saat awal masuk sekolah. Berupa penjelasan tentang hal – hal apa saja yang akan dihadapi anak disekolah. Hal ini penting karena anak akan takut atau cemas, karena dia belum mendapatkan gambaran yang jelas tentang apa saja yang akan dihadapinya saat masuk ke sekolah baru. Ada baiknya orang tua bersama anak survey ke sekolah tersebut. Melihat langsung kondisi sekolah, atau dapat juga melalui gambar atau foto – foto di website atau online. Membacakan cerita tentang suasana sekolah yang menyenangkan dan memberikan informasi yang positif tentang bersekolah dalam beberapa hari atau satu minggu sebelum anak masuk.

Penulis : Dr. Trully Kusumawardhani Triyanto, Sp.A

Reviewer : DR. Dr. Soedjatmiko, Sp.A(K), M.Si

Amandel Besar Pada Anak, Apakah Perlu Dioperasi?

Dalam praktek dokter anak sehari-hari, salah satu kejadian yang cukup sering dijumpai  adalah pertanyaan orang tua tentang amandel anaknya. Biasanya bila seorang anak mengalami demam, batuk dan pilek, dalam pikiran orangtuanya adalah anak sedang mengalami radang tenggorokan. Sebagian orang awam mengira kata ‘radang’ biasanya hanya dikaitkan dengan tenggorokan, akibat adanya infeksi yaitu penyakit akibat serangan kuman. Padahal radang dapat terjadi pada bagian tubuh manapun, dan penyebab radang bermacam-macam selain infeksi, misalnya akibat luka jatuh, tersiram air panas dan lain-lain. Pertanyaan terkait berikutnya adalah tentang ukuran amandelnya, apakah membesar dan perlu untuk diangkat atau dioperasi

Bila anak mengalami demam, batuk dan pilek, kemungkinan besar anak sedang mengalami selesma yaitu radang saluran napas atas – mulai dari hidung, rongga sinus, hingga tenggorokan – akibat infeksi virus. Radang infeksi adalah reaksi jaringan yang sedang mengalami kerusakan akibat ‘pertempuran’ antara kuman dengan mekanisme pertahanan tubuh.  Selesma atau istilah medisnya rinofaringitis ini sering keliru disebut dengan istilah flu, kependekan dari influenza, salah satu virus dari ratusan virus yang dapat menyebabkan selesma. Jika dokter tidak secara khusus memeriksa virus penyebab  common cold maka kita tidak dapat mendiagnosis sebagai flu atau influenza, dan didiagnosis sebagai rinofaringitis atau selesma.

Tenggorokan merupakan pintu gerbang masuk saluran napas dan saluran makan. Pintu gerbang tersebut dikawal oleh sistem perlawanan yang disebut organ limfoid. Ada 4 organ limfoid di antara hidung mulut dan tenggorokan, namun yang paling penting ada dua, yaitu amandel dan adenoid. Amandel atau tonsil palatina terletak di antara hidung dan tenggorokan, di kanan kiri ujung belakang rongga mulut, yang dapat dilihat bila anak membuka mulut lebar sambil menjulurkan lidahnya. Sedangkan adenoid berada di atas amandel, terletak di langit-langit belakang hidung, sehingga tidak dapat dilihat tanpa alat khusus. Pola pertumbuhan berbagai sistem organ pada anak berbeda-beda kecepatannya. Sistem saraf paling cepat perkembangannya, sedangkan sistem reproduksi paling lambat. Sistem limfoid (termasuk amandel) berada di pertengahan, dan mengalami perkembangan pesat saat anak berumur 5-15 tahun dengan puncak sekitar umur 10 tahun. Pada umur tersebut ukuran normal amandel anak dapat mencapai dua kali ukuran dewasa.  Dengan demikian ukuran amandel yang besar pada anak merupakan hal yang normal.

Bila seorang anak sedang selesma, amandelnya tentu ikut meradang. Suatu organ jika sedang meradang maka akan tampak merah, nyeri dan bengkak sehingga tampak lebih membesar. Dan hal itu bersifat sementara. Bila radang sudah mereda, maka organ tersebut akan kembali normal. Anak sehat dapat mengalami selesma hingga enam kali pertahun. Dengan demikian jika seorang anak mengalami selesma setiap 2-3 bulan sekali maka itu masih wajar dan normal. Ada beberapa alasan amandel perlu dioperasi. Ukuran amandel yang besar pada anak tidak menjadi alasan perlunya untuk dioperasi. Dari sekian banyak alasan, ada dua alasan tersering dan terpenting. Yang pertama adalah bila telah timbul gangguan napas saat tidur yang disebut OSAS – Obstructive sleep apnea syndrome. Yang kedua adalah apabila amandel dan tanggorokan sering mengalami radang khusus akibat kuman streptokokus.

Pasien diduga mengalami OSAS jika sering mendengkur saat tidur, lebih dari 3 hari dalam seminggu tidurnya mendengkur. Biasanya ada gejala henti napas saat tidur yang diikuti gelagapan seperti hendak terbangun, namun kemudian pasien tidur lagi. Gejala lain yang menyertai adalah gejala mengantuk berat siang hari dan gangguan prestasi belajar pada anak sekolah. Untuk memastikan adanya diagnosis OSAS perlu pemeriksaan khusus yang disebut polisomnografi (PSG). Alasan kedua adalah radang tenggorokan dan amandel (tonsilo-faringitis) akibat kuman streptokokus yang berulang terjadi. Radang ini harus dibedakan dengan selesma atau common cold yang seperti namanya memang sering terjadi. Radang amandel ini gejalanya lebih berat, demam tinggi dengan nyeri tenggorokan berat, tanpa gejala batuk, dan amandel terlihat sangat merah (cherry red) dan di permukaan amandel terlihat bercak-bercak putih. Disebut sering jika terjadi hingga 7 kali atau lebih dalam 1 tahun terakhir, atau 5 kali pertahun dalam dua tahun berturut, atau 3 kali pertahun dalam 3 tahun berturut.

Dari uraian di atas terlihat bahwa untuk melakukan operasi amandel diperlukan alasan yang kuat. Ukuran amandel yang besar semata tanpa gangguan fungsi napas tidak menjadi alasan operasi. Batuk pilek biasa (common cold) atau selesma walau terjadi berulang juga tidak menjadi alasan untuk operasi. Pada anak kelompok umur lebih muda, alasan yang lebih sering adalah OSAS sedangkan pada kelompok umur lebih tua alasan tersering adalah tonsilo-faringitis.

 

Penulis : Dr. Darmawan Budi Setyanto,Sp.A(K)

Ikatan Dokter Anak Indonesia

Yang Harus Dilakukan Jika Anak Tersedak

Tersedak adalah gangguan berupa sumbatan jalan nafas dan berpotensi menimbulkan kematian jika tidak segera dilakukan pertolongan awal. Pada bayi dana anak, kejadian ini bisa terjadi saat makan atau bermain karena mereka kadang suka memasukan benda asing ke mulut. Tersedak harus diwaspadai juga ketika bayi dan balita sedang dilatih makan sendiri.

Deteksi gejala tersedak harus dilakukan dengan cepat. Tersedak memliki ciri gangguan nafas tiba –  tiba dengan batuk dan sulit bicara. Arahkan kecurigaan pada tersedak benda asing jika gejala muncul tiba – tiba dan baru saja makan atau memainkan benda kecilsesaat sebelum timbul gejala. Kemudian amati keparahan sumbatan jalan nafas dengan menilai apakah korban bisa batuk dengan efektif.

Batuk yang tidak efektif adalah batuk yang tidak bersuara disertai kesulitan bernafas, kebiruan, dan penurunan kesadaran. Batuk yang efektif adalah batuk yang keras tanpa disertai kesulitan bernafas dan responsif. Anak yang batuk efektif juga bisa merespons pertanyaan dengan tangisan atau jawaban verbal.

Jika bayi tersedak, tidak bisa batuk efektif, dan masih sadar penuh, lakukan 5 hentakan (back blow) dengan cukup kuat menggunakan pangkal telapak tangan di punggung di antara dua tulang belikat. Penolong memposisikan bayi telungkup dengan kepala lebih rendah dan penolong berlutut atau duduk di kursi sehingga dapat menopang bayi di pangkuannya dengan aman.

Untuk bayi, topang  kepala dengan ibu jari di satu sisi rahang dan yang lain menggunakan satu atau dua jari tangan yang sama tanpa menekan jaringan lunak di bawah rahang. Untuk anak usia di atas 1 tahun, kepala tidak perlu ditopang secara khusus.

Jika manuver back blow gagal, lakukan 5 entakan dada (chest thrust) pada bayi. Penolong memosisikan bayi telentang dengan kepala lebih rendah mengarah ke bawah. Supaya lebih aman, sebaiknya penolong meletakan punggung bayi di lengan yang bebas dan menopang ubun – ubun dengan tangan, kemudian topang lengan dengan paha. Identifikasi lokasi chest thrust  di tengah – tenagh tulang dada, lakukan entakan dengan 2 jari (jari telunjuk dan jari tengah). Jika benda asing belum keluar, ulangi tindakan dari awal.

Pada anak usia di atas 1 tahun, untuk mengeluarkan benda asing bila anak sadar dapat dilakukan dengan cara manuver Heimlich. Penolong berdiri di belakang korban dan meletakan letak lengan di bawah lengan korban mengelilingi pinggangnya. Tangan penolong dikepalkan dan diletakan di antara pusar dan tulang dada penderita. Raih kepalan tangan dengan tangan lainnya dan entakan ke arah atas dan belakang tubuh penderita sebanyak 5 kali.

Bila korban mengalami sumbatan jalan nafas dan tidak sadar, lakukan bantuan hidup dasar, dan segera memanggil layanan gawat darurat. Bantuan hidup dasar versi CAB (kompresi dada, jalan nafas, bantuan nafas) dilakuakan dengan memberikan kompresi dada sebanyak 30 kali tanpa perlu memeriksa nadi, dilanjutkan dengan pemberian 2 kali bantuan nafas, dilakukan sebanyak 5 siklus ( 2 menit ). Jika mulut korban terbuka, periksa posisi benda asing dan keluarkan jika memungkinkan.

Bagaimanapun mencegah selalu lebih baik dibanding mengobati. Beberapa tindakan untuk mencegah tersedak pada anak adalah memotong makanan menjadi bagian yang kecil, memasak makanan yang keras sampai lunak, mengawasi anak saat makan, menghindarkan benda kecil dari jangkauan anak, membuang mainan yang rusak, memberikan mainan pada anak sesuai dengan usia yang direkomendasikan.

Matikan juga TV, komputer, atau ponsel saat anak sedang makan karena tersedak dapat terjadi ketika anak teralih perhatiannya oleh hal lain. Hal yang paling penting adalah pelajarilah bantuan hidup dasar sehingga selalu siap pada berbagai keadaan.

Penulis : DR. Dr. Dadang Hudaya Somasetia, Sp.A(K). M. Kes

Artikel ini pernah dimuat di kolom Apa Kata Dokter, Kompas, Minggu, 15 mei 2016.

Ikatan Dokter Anak Indonesia

1 2 3 9