Penanganan Kesulitan Makan Pada Si Kecil

“Anak saya mogok makan, dokter”, “Anak saya hanya mau minum susu, sehari bisa seliter”, “Anak saya selalu memilih-milih makanan” adalah masalah yang tersering dikeluhkan ibu-ibu. Pertama, mari kita coba perhatikan mengapa Si Kecil memiliki kesulitan makan.

Apakah Si Kecil sering batuk, tersedak, memiliki kesulitan menelan atau muntah berulang? Apakah Si Kecil selalu terlihat lemas atau sesak saat makan atau menyusui? Apakah berat badan Si Kecil tidak naik-naik? Apakah Si Kecil memiliki diare berdarah atau berkepanjangan? Apakah Si Kecil terlihat kesakitan saat makan? Apabila Anda menjawab “Ya” pada salah satu pertanyaan di atas, segera konsultasi ke dokter. Perhatikan kapan anak mulai mengalami kesulitan makan.

Setiap anak unik sehingga pendekatan kepada mereka perlu disesuaikan dengan karakteristik mereka masing-masing. Jika Si Kecil sudah bisa diajak berkomunikasi, tanyakan apa masalah mereka dan mengapa mereka tidak ingin makan. Cari tahu makanan kesukaannya, makanan yang kurang disukai dan mengapa? Perhatikan variasi makanan yang diberikan ke anak, apakah anak bosan dengan makanan yang diberikan sehari-hari?

Jadwal pemberian makan yang teratur tidak kalah pentingnya untuk menambahkan nafsu makan seorang anak. Dengan jadwal makanan berjarak minimal 3 jam di antara makan, kita dapat menimbulkan siklus lapar dan kenyang sehingga anak akan makan cukup saat waktunya makan. Jumlah pemberian makan ideal per hari adalah sekitar 6 – 8 kali per hari berdasarkan usia.

Selain itu, tipe makanan juga perlu diperhatikan, yaitu, hindari pemberian susu terlalu banyak. Susu terlalu banyak sudah pasti akan mengurangi nafsu makan anak karena mereka sudah akan merasa terlalu kenyang untuk makan dengan porsi yang cukup. Sebagai gambaran, untuk anak 6 – 8 bulan, disarankan pemberian makan pendamping 2 x/hari dan ASI 6x/hari. Untuk anak usia 9 – 11 bulan disarankan 4 x pendamping ASI dan 4 x ASI. Dan untuk anak 12 bulan ke atas, disarankan pemberian 6 x pendamping ASI dan 2 x susu.

Si Kecil adalah peniru yang sangat handal. Ajaklah anak Anda duduk bersama di meja makan pada saat keluarga makan malam. Si Kecil akan mulai memperhatikan proses makan dan akan muncul ketertarikan untuk mencoba makanan yang tersedia. Perhatikan apakah Anda atau pasangan Anda mempunyai kebiasaan buruk untuk memilih-milih makanan (atau tidak suka/tidak pernah makan suatu jenis makanan). Jika iya, kemungkinan Si Kecil meniru kebiasaan buruk Anda.

Hindari bermain saat makan, namun buatlah proses makan menyenangkan dengan memberikan mereka variasi makanan dengan berbagai warna dan bentuk. Ajaklah Si Kecil memasak bersama. Pastikan anak Anda duduk pada satu tempat dan tidak bermain gadget saat sedang makan. Anda boleh memberikan mangkok berisi makanan yang telah dipotong kecil-kecil agar Si Kecil dapat “bermain” dan mencoba makan sendiri dari mangkok tersebut. Isi mangkok disesuaikan dengan usia dan dapat merupakan lauk yang sama yang sedang disuapi oleh Ibu atau pengasuh. Contoh, tempe, ayam atau ikan suwir dan buncis atau wortel yang dipotong kecil.

Jika masalah kesulitan makan terus berlanjut, berkonsultasilah dengan dokter anak Anda secepatnya.

Penulis          : Dr. Dimple Gobind Nagrani. Sp.A

Reviewer        : Dr. Endang Dewi Lestari, Sp.A(K)

Ikatan Dokter Anak Indonesia.

“SKRINING” Pada Bayi Baru Lahir, Yang Perlu Diketahui Oleh Orang Tua

Skrining pada bayi baru lahir, bertujuan untuk deteksi dan intervensi dini agar tumbuh kembang bayi dapat optimal. Skrining pada bayi baru lahir ada yang rutin, ada pula yang hanya dilakukan pada keadaan khusus.

1. Skrining pendengaran bayi baru lahir

Di beberapa rumah sakit sudah termasuk skrining yang rutin, mengingat :

  • Gangguan pendengaran pada bayi dan anak sulit diketahui sejak awal.
  • Adanya periode kritis perkembangan pendengaran dan berbicara, yang dimulai dalam 6 bulan pertama Kehidupan dan terus berlanjut sampai usia 2 tahun.
  • Bayi yang mempunyai gangguan pendengaran bawaan atau didapat yang segera diintervensi sebelum usia 6 bulan, pada usia 3 tahun akan mempunyai kemampuan berbahasa normal dibandingkan bayi yang baru diintervensi setelah berusia 6 bulan.

Ada faktor risiko yang diidentifikasi kemungkinan mengakibatkan gangguan pendengaran pada bayi  baru lahir yaitu :

  • Riwayat keluarga dengan gangguan pendengaran
  • Kelainan bawaan bentuk telinga dan kelainan tulang tengkorak-muka
  • Infeksi janin ketika dalam kandungan (infeksi toksoplasmosis, rubella,sitomegalovirus, herpes)
  • Sindrom tertentu seperti sindrom Down
  • Berat lahir < 1500 gram
  • Nilai Apgar yang rendah
  • Perawatan di NICU
  • Penggunaan obat2 tertentu yang bersifat toksik terhadap saraf pendengaran
  • Kenyataannya adalah bahwa 50% bayi dengan gangguan pendengaran tidak mempunyai faktor risiko tersebut diatas, sehingga bila hanya menggunakan kriteria faktor risiko tersebut maka banyak bayi yang mempunyai gangguan pendengaran tidak terdiagnosis. Sehingga skrining pendengaran direkomendasikan untuk semua bayi baru lahir.

Skrining pendengaran bayi baru lahir hanya menunjukkan ada/tidaknya respons terhadap rangsangan dengan intensitas tertentu dan tidak mengukur beratnya gangguan pendengaran ataupun membedakan jenis tuli (tuli konduktif atau tuli saraf). Alat yang direkomendasikan untuk skrining pendengaran bayi adalah otoacoustic emissions (OAE) atau  automated auditory brainstem response (AABR)

 

OAE dilakukan pada bayi baru lahir berusia 2 hari (di RSCM: usia 0-28 hari)

  1. Bila hasil OAE pass dan bayi tanpa faktor risiko, dilakukan pemeriksaan AABR atau click 35db pada usia 1-3 bulan;
    1. Bila hasilnya pass, tidak perlu tindak lanjut
    2. Bila hasilnya refer, dilakukan pemeriksaan lanjutan (ABR click dan tone B 500 Hz atau ASSR, timpanometri high frequency), dan bila terdapat neuropati auditorik, dilakukan habilitasi usia 6 bulan.
  2. Bila hasil OAE pass dan bayi mempunyai faktor risiko, atau  bila hasil OAE refer ( di RSCM juga dilakukan pemeriksaan AABR 35 db):

Pada usia 3 bulan, dilakukan pemeriksaan otoskopi, timpanometri, OAE, AABR.

  • Bila hasilnya Pass, dilakukan pemantauan perkembangan bicara dan audiologi tiap 3-6 bulan sampai usia 3 tahun (sampai anak bisa bicara)
  • Bila hasilnya refer, dilakukan pemeriksaan lanjutan (ABR click dan tone B 500 Hz atau ASSR, timpanometri high frequency), dan bila terdapat tuli saraf, dilakukan habilitasi usia 6 bulan.

 

2.Skrining penglihatan untuk bayi prematur

Retinopathy of prematurity (ROP) sering terjadi pada bayi prematur dan merupakan salah satu penyebab kebutaan bayi dan anak di dunia, termasuk di Indonesia. Dengan kemajuan teknologi di bidang perawatan bayi prematur, memungkinkan bayi prematur dengan berat lahir rendah dan usia kehamilan yang sangat muda dapat bertahan hidup, namun seiring dengan meningkatnya angka kehidupan bayi prematur tersebut, menyebabkan kejadian ROP juga meningkat. Untuk itu perlu dilakukan skrining pada bayi prematur untuk mendeteksi dini ROP, sehingga dapat dilakukan terapi yang sesuai untuk mencegah terjadinya kebutaan.

Skrining ROP dilakukan pada:

  • Bayi baru lahir dengan berat ≤ 1500 gram atau masa kehamilan ≤ 34 minggu
  • Bayi risiko tinggi seperti mendapat fraksi oksigen (Fi O2) tinggi, transfusi berulang, kelainan Jantung bawaan, gangguan pertumbuhan janin dalam rahim, infeksi/sepsis, gangguan napas, asfiksia,perdarahan di otak (IVH), berat lahir ≤ 1500 gram, masa gestasi ≤ 34 minggu.

Waktu pemeriksaan:

  • Masa gestasi > 30 minggu: 2-4 minggu setelah lahir
  • Masa gestasi ≤ 30 minggu: 4 minggu setelah lahir.
  • Tidak dapat memfiksasi dan mengikuti objek pada usia 3 bulan.
  • Riwayat katarak bawaan, retinoblastoma, penyakit metabolik dalam keluarga, juling

 

3. Skrining Hipotiroid

Skrining ini bertujuan untuk mendeteksi dini adanya hipotiroid kongenital/bawaan.  Hipotiroid kongenital yang tidak diobati sejak dini dapat mengakibatkan retardasi mental berat.  Angka kejadian hipotiroid kongenital (bawaan) bervariasi antar Negara, umumnya sebesar 1:3000 – 4000 kelahiran hidup.

Mengingat gejala hipotiroid kongenital pada bayi baru lahir biasanya tidak jelas, dan hipotiroid kongenital dapat memengaruhi masa depan anak dengan menyebabkan retardasi mental berat kecuali jika mendapat terapi secara dini maka mutlak sangat diperlukan (rutin) skrining hipotiroid pada bayi baru lahir untuk menemukan kasus hipotiroid secara dini.

Program skrining hipotiroid ini memungkinkan bayi mendapatkan terapi secara dini dan diharapkan memiliki tumbuh kembang yang lebih optimal. Skrining ini dilakukan saat bayi berusia 48-72 jam, sedikit darah diteteskan di atas kertas saring khusus, setelah bercak darah mengering dilakukan pemeriksaan kadar hormon TSH.

Skrining bayi baru lahir yang lain, belum rutin dilakukan di Indonesia, skrining dilakukan berdasarkan riwayat keluarga, gejala klinis yang timbul seperti skrining bayi baru lahir terhadap  phenylketonuria (PKU) (insidens 1:10.000), Hiperplasia adrenal kongenital (insidens 1:10.000), dan penyakit metabolik lainnya seperti Maple Syrup Urine disease (insidens 1:200.000), Methylmalonic academia (insidens 1:48.000).

Penulis : Dr. Jenny K. Dahliana, Sp.A

Reviewer : DR. Dr. Rinawati Rohsiswatmo, Sp.A(K)

Ikatan Dokter Anak Indonesia

Dampak Jangka Panjang Keterlambatan/Gangguan Bicara Dan Bahasa

Keterlambatan atau gangguan bicara dan bahasa, dapat berakibat amat besar pada aspek kehidupan seorang anak, disamping itu juga dapat berdampak jangka panjang; pernyataan ini dapat menimbulkan kekhawatiran orangtua yang mempunyai anak dengan riwayat keterlambatan bicara,  atau bahkan ada orangtua yang sulit menerima keadaan ini, namun hal ini perlu diketahui oleh orangtua atau guru agar dapat memantau terus perkembangan seorang anak.

Keterlambatan atau gangguan bicara dan bahasa kini semakin banyak dijumpai, angka resmi untuk gangguan ini belum ada, di Jakarta diperkirakan 21%. Karenanya, orangtua harus waspada akan perkembangan bicara anaknya,  mengingat bila keterlambatan ini tidak ditangani secara dini, akan berakibat terjadi gangguan kecerdasan dan perilaku.

Dampak jangka panjang keterlambatan bicara:

  1. Gangguan bahasa berpengaruh pada luaran akademik dan pekerjaan

Kesulitan belajar

  • Kesulitan pemahaman, mengakibatkan anak sangat rentan dalam kaitannya dengan pendidikan
  • Gangguan bahasa (dibandingkan gangguan bicara) sejak dini (Batita) jelas berhubungan dengan kesulitan melanjutkan sekolah sampai dewasa
  • Anak dengan gangguan bahasa berisiko untuk mempunyai masalah membaca dan perilaku, apalagi gangguan perilaku ini berhubungan dengan ketidakmampuan anak untuk membaca
  • Penurunan berbahasa yang bermakna secara klinis terdapat pada 50% remaja dengan perilaku menantang dan ada hubungan antara kemampuan berbahasa lisan pada awal kehidupan dengan risiko terjadinya perilaku menantang pada remaja
  1. Gangguan bahasa berhubungan dengan peningkatan risiko ansietas sosial
  • Remaja dengan gangguan perkembangan bahasa mempunyai kadar kecemasan yang lebih tinggi dibandingkan rekannya yang normal
  • Anak dengan gangguan perkembangan bahasa mempunyai peluang lebih besar untuk mengalami ketakutan berlebihan saat sosialisasi di usia 19 tahun dan gejala kecemasan akibat kegiatan bersosialisasi di usia 31 tahun
  1. Gangguan bahasa berdampak pada partisipasi sosial
  • Anak dengan gangguan bahasa mempunyai kualitas persahabatan dan partisipasi aktivitas sosial yang lebih rendah dibandingkan anak dengan perkembangan normal
  • Masalah dengan teman sebaya diteliti selama lebih dari 9 tahun pada 171 anak berusia 7-16 tahun dengan riwayat gangguan bahasa, anak dengan gangguan bahasa lebih berisiko menunjukkan kesulitan hubungan dengan teman sebaya
  1. Gangguan bahasa tidak menghilang ketika anak disekolahkan
  • Gangguan bicara dan bahasa yang diidentifiasi saat usia 5 tahun, 72% tetap mengalami gangguan di usia 12 tahun.
  • Penelitian pada remaja yang diidentifikasi mempunyai gangguan bahasa yang disebut specific language impairment saat usia 5 tahun dan dipantau saat usia 12 dan 19 tahun, ditemukan masih terdapat kesulitan komunikasi yang tinggi pada anak dengan riwayat gangguan bahasa tersebut

Kesimpulan

  • Orangtua harus tetap memperhatikan perkembangan anak dengan riwayat terlambat bicara, walaupun anaknya sudah dapat berkomunikasi dengan baik setelah dilakukan terapi wicara. Perkembangan yang perlu dipantau orangtua seperti prestasi akademik anak, terutama yang berhubungan dengan membaca, menulis, memahami kalimat, dan perkembangan emosi, perilaku anak dan hubungan anak dengan teman sebayanya.
  • Orangtua perlu mengetahui tonggak perkembangan bicara anak, agar penanganan kasus terlambat bicara dapat dilakukan sedini mungkin, dan penanganan sebaiknya dikonsultasikan dulu ke dokter tumbuh kembang anak, bukan hanya terbatas pada menyekolahkan anak saja.
  • Orangtua perlu membawa anaknya ke Puskesmas untuk pemeriksaan skrining, terutama untuk anak usia dibawah 2 tahun, untuk mengetahui apakah perkembangan anaknya sudah sesuai dengan umurnya, atau ada penyimpangan perkembangan sehingga perlu konsultasi lanjutan.

Autisme: Adakah harapan?

Autisme masih merupakan momok bagi sebagian orang tua. Apakah anak saya menderita autisme? Bagaimana mengenali anak dengan autisme? Ke mana saya harus mencari bantuan? Apakah autisme bisa disembuhkan? Pada artikel ini akan dibahas mengenai autisme, bagaimana deteksi dini dan hubungannya dengan masa depan anak dengan autisme.

Mengenal autisme lebih jauh

Autisme atau yang sekarang disebut sebagai gangguan spektrum autisme (GSA) adalah kumpulan gangguan perkembangan dengan karakteristik lemahnya pada bidang interaksi sosial, komunikasi, dan perilaku berulang atau minat terbatas. Angka kejadian autisme meningkat dari tahun ke tahun, namun sampai sekarang penyebab autisme masih belum diketahui secara pasti. Diduga faktor genetik dan faktor lingkungan merupakan penyebab dari gangguan ini.

Anak dengan autisme biasanya mengalami kesulitan dalam menjalin hubungan sosial-emosional timbal balik. Mereka sulit diajak bercakap-cakap, kurang sampai tidak memiliki emosi atau ekspresi yang sesuai untuk suatu keadaan, atau tidak memberi respons sama sekali jika dipanggil atau diajak bicara. Tidak adanya kontak mata, tidak ada ekspresi wajah, atau bahasa tubuh lainnya dapat menunjukkan anak menderita autisme. Untuk anak yang lebih besar, dimana pertemanan biasanya mulai terbentuk, anak dengan autisme sulit menjalin pertemanan sampai tidak menaruh minat terhadap teman.

Perilaku, minat, dan aktivitas anak dengan autisme sangat terbatas (stereotipik) dan sifatnya berulang (repetitif). Dalam berbicara atau interaksi dengan benda, anak biasanya menggerakan anggota tubuh tertentu berulang-ulang, menderetkan mainan, menumpuk kaleng, mebalik-balik benda atau lembaran buku, atau mengulangi perkataan orang (ekolalia). Anak cenderung melakukan rutinitas seperti ritual dan kaku dan anak hanya menyukai benda atau mainan tertentu.

Selain reaksi yang kurang terhadap rangsangan luar, anak dengan autisme dapat memberikan reaksi berlebihan atau reaksi yang tidak wajar terhadap rangsangan nyeri, suhu, suara, atau tekstur benda. Gejala-gejala ini sampai mengganggu interaksi sosial, aktivitas sekolah, bermain, atau fungsi kehidupan anak sehari-hari.

Waspada red flags Autisme

Sangatlah penting bagi orang tua, pengasuh, guru, atau masyarakat awam untuk mewaspadai red flags (tanda bahaya). Red flags adalah tanda atau gejala yang apabila masih terlihat pada usia tertentu, harus segera dilakukan intervensi. Red flags tersebut antara lain:

  1. Tidak ada babbling (ocehan), tidak menunjuk, atau tidak menunjukkan mimik wajah yang wajar pada usia 12 bulan
  2. Tidak ada kata-kata berarti pada usia 16 bulan
  3. Tidak ada kalimat terdiri dari 2 kata yang bukan ekolalia pada usia 24 bulan
  4. Hilangnya kemampuan berbahasa atau kemampuan sosial pada usia berapa pun
  5. Anak tidak menoleh atau sulit menoleh apabila dipanggil namanya pada usia 6 bulan – 1 tahun

Apabila menemukan salah satu red flags, anak harus segera dibawa ke dokter spesialis anak untuk selanjutnya dilakukan skrining dan pemeriksaan lebih lanjut sehingga diagnosis dapat ditegakkan sedini mungkin dan intervensi dapat dilakukan atau anak dirujuk ke dokter spesialis saraf anak dan/atau disiplin ilmu lainnya.

Sebaiknya anak dibawa ke dokter spesialis anak untuk dilakukan skrining perkembangan rutin mulai usia 9 bulan, 18 bulan, dan 30 bulan. Pada usia 18 bulan dan 24 bulan, atau pada usia berapapun anak ditemukan red flags, anak dilakukan skrining khusus untuk autisme.

Tata laksana autisme

Setelah anak didiagnosis autisme, anak membutuhkan konsultasi kepada ahli dari berbagai disiplin ilmu. Tidak semua anak dengan dengan autisme memerlukan terapi obat, tetapi semua anak dengan autisme harus mendapatkan intervensi non-obat, diikuti dengan sekolah dan pembinaan kemampuan mandiri serta kemampuan bekerja. Penilaian kebutuhan intervensi dilakukan oleh dokter saraf anak dan dokter rehabilitasi medis bersama terapis yang sudah berpengalaman. Penentuan intervensi ini berdasarkan dari usia anak, beratnya gejala, dan kemampuan intelektual anak.

Beberapa program dan teknik intervensi telah terbukti kuat secara ilmiah untuk menatalaksana autisme. Beberapa intervensi tersebut antara lain: sensory integrationsensory-based intervention, intervensi perilaku (program verbal behaviour), intervensi wicara, dan sekolah. Intervensi dilakukan oleh terapis yang ahli dan berpengalaman di tempat-tempat pelayanan autisme. Pelatihan terhadap orang tua sesuai dengan intervensi yang didapat anak juga perlu dilakukan, sehingga orang tua tahu apa yang harus diperbuat dan secara tidak langsung mengurangi stres.

Masa depan anak dengan autisme

Berkembangnya ilmu kedokteran menimbulkan harapan pada penyakit autisme. Sudah semakin banyak instrumen skrining yang dapat dipakai untuk mendeteksi dini autisme dengan lebih spesifik. Semakin dini diagnosis autisme ditegakkan, maka semakin cepat pula intervensi yang dapat diberikan. Hal ini telah terbukti memberikan hasil yang lebih baik. Sebuah penelitian menunjukkan sebesar 20% anak dengan autisme dapat mandiri dalam kesehariannya atau hanya membutuhkan sedikit bantuan, 30% independen terbatas dan memerlukan bantuan, dan 50% masih membutuhkan pengawasan terus menerus atau memerlukan perawatan di tempat khusus atau rumah sakit.

Penulis: Dr. Kartika Novieka Wirawan

Si Kecil Sulit Konsentrasi

Namanya juga anak-anak, laki-laki maupun perempuan, mereka akan merasa senang bila hari-harinya lebih banyak diisi dengan bermain. Saat masuk waktu belajar, terkadang perilakunya tampak mudah teralihkan dan sulit berkonsentrasi; padahal saat bermain sepertinya si Kecil betah berlama-lama. Apakah ini pertanda serius? Kapan saatnya untuk mencemaskan kondisi ini dan bagaimana menyikapinya?

Perlu diingat bahwa kesulitan berkonsentrasi pada anak bisa disebabkan oleh banyak hal. Masalah ini bisa saja dipengaruhi oleh kondisi anak yang terlalu lelah, gelisah atau cemas akan sesuatu, misalnya baru saja pindah sekolah, atau ada kondisi baru di rumah. Anak bisa juga sulit berkonsentrasi karena mendapat stimulasi yang berlebihan.

Namun demikian, bila kondisi ini berkepanjangan, misalnya sampai memengaruhi nilai pelajaran di sekolah, atau anak mudah marah dan tantrum, tentu perlu lebih waspada. Sikapi dengan sabar dan bijak sebelum terburu-buru menduga anak mengalami kondisi tertentu, seperti ADD atau ADHD, sebelum berkonsultasi dengan tenaga profesional.

Ada banyak hal yang bisa dilakukan di rumah, untuk membantu meningkatkan konsentrasi anak, di antaranya:

  • Pastikan anak cukup beristirahat setiap harinya. Anak-anak di usia 5-6 tahun rata-rata membutuhkan waktu tidur sekitar 10 jam.
  • Kurangi asupan gula yang hanya memberikan kalori kosong, ganti dengan asupan berprotein tinggi, seperti daging tanpa lemak, almond, dan telur. Asupan ini membantu meningkatkan hormon dopamin yang berfungsi khusus untuk berkonsentrasi.
  • Kurangi atau hilangkan hal-hal yang bisa mengganggu konsentrasinya, misalnya TV, suara bising, lampu yang terlalu terang, juga orang yang berlalu lalang. Saat belajar, sebaiknya anak berada di dalam ruangan yang tenang dan nyaman.
  • Latihlah anak untuk mengikuti arahan atau urutan, misalnya urutan huruf alfabeth, deret angka, atau permainan yang melatihnya untuk mengikuti instruksi seperti mewarnai, menggambar, dll.

Perlu ketahui bagaimana kecenderungan anak dalam menerima informasi, baik informasi verbal atau visual. Sebagian anak bisa merespon dengan baik bila dibantu dengan petunjuk visual, sementara yang lainnya lebih menyukai arahan verbal. Bila gangguan konsentrasi anak terasa sulit diatasi, lebi baik dikonsultasi dengan tenaga profesional.

 

Penulis : dr. Rini Sekartini SpAk

Klinik Tumbuh Kembang Anak Lalita

Anak Terlambat Bicara, Kapan Harus Khawatir?

Dokter, anak saya berumur 3 tahun, tetapi belum lancar bicaranya. Saya jadi sulit memasukkannya ke playgroup.

Dok, anak saya sudah 2 tahun, kok bicaranya cuma mama, papa, dan mimi, ya? Anak-anak lain seusianya sepertinya sudah banyak bicaranya?

Pertanyaan-pertanyaan di atas tidak jarang muncul di ruang praktik dokter anak. Lambat bicara pada anak memang dapat menimbulkan kecemasan orangtua. Di lain sisi, terkadang anak dengan gangguan bicara dan bahasa terlambat mendapat perhatian karena orangtua berpikir Ah, tidak apa-apa, nanti juga bisa bicara atau Dia hanya terlambat mulai saja, nanti dia pasti akan mengejar.

Keterlambatan bicara dan bahasa dialami oleh 5-8% anak usia prasekolah. Agar dapat mengetahui kapan seorang anak terlambat bicara, terlebih dahulu kita perlu mengenal tahapan perkembangan bicara normal.

Usia 0-6 bulan

Saat lahir, bayi hanya dapat menangis untuk menyatakan keinginannya. Pada usia 2-3 bulan, bayi mulai dapat membuat suara-suara sseperti aah atau uuh yang dikenal dengan istilah cooing. Ia juga senang bereksperimen dengan berbagai bunyi yang dapat dihasilkannya, misalnya suara menyerupai berkumur. Bayi juga mulai bereaksi terhadap orang lain dengan mengeluarkan suara. Setelah usia 3 bulan, bayi akan mencari sumber suara yang didengarnya dan menyukai mainan yang mengeluarkan suara.

Mendekati usia 6 bulan, bayi dapat berespons terhadap namanya sendiri dan mengenali emosi dalam nada bicara.Cooing berangsur menjadi babbling, yakni mengoceh dengan suku kata tunggal, misalnya papapapapa, dadadadada, bababababa, mamamamama. Bayi juga mulai dapat mengatur nada bicaranya sesuai emosi yang dirasakannya, dengan ekspresi wajah yang sesuai.

Waspada bila: tidak menoleh jika dipanggil namanya dari belakang, tidak ada babbling.

Usia 6-12 bulan

Pada usia 6-9 bulan, bayi mulai mengerti nama-nama orang dan benda serta konsep-konsep dasar seperti ya, tidak, habis. Saat babbling, ia menggunakan intonasi atau nada bicara seperti bahasa ibunya. Ia pun dapat mengucapkan kata-kata sederhana seperti mama dan papa tanpa arti.

Pada usia 9-12 bulan, ia sudah dapat mengucapkan mama dan papa (atau istilah lain yang biasa digunakan untuk ibu dan ayah atau pengasuh utama lainnya) dengan arti. Ia menengok apabila namanya dipanggil dan mengerti beberapa perintah sederhana (misal lihat itu, ayo sini). Ia menggunakan isyarat untuk menyatakan keinginannya, misalnya menunjuk, merentangkan tangan ke atas untuk minta digendong, atau melambaikan tangan (dadah). Ia suka membeo, menirukan kata atau bunyi yang didengarnya. Pada usia 12 bulan bayi sudah mengerti sekitar 70 kata.

Waspada bila: bayi tidak menunjuk dengan jari pada usia 12 bulan, ekspresi wajah kurang pada usia 12 bulan.

Usia 12-18 bulan

Pada usia ini, anak biasanya sudah dapat mengucapkan 3-6 kata dengan arti, dapat mengangguk atau menggelengkan kepala untuk menjawab pertanyaan, menunjuk anggota tubuh atau gambar yang disebutkan orang lain, dan mengikuti perintah satu langkah (Tolong ambilkan mainan itu). Kosakata anak bertambah dengan pesat; pada usia 15 bulan ia mungkin baru dapat mengucapkan 3-6 kata dengan arti, namun pada usia 18 bulan kosakatanya telah mencapai 5-50 kata. Pada akhir masa ini, anak sudah bisa menyatakan sebagian besar keinginannya dengan kata-kata.

Waspada bila: tidak ada kata berarti pada usia 16 bulan

Usia 18-24 bulan

Dalam kurun waktu ini anak mengalami ledakan bahasa. Hampir setiap hari ia memiliki kosakata baru. Ia dapat membuat kalimat yang terdiri atas dua kata (mama mandi, naik sepeda) dan dapat mengikuti perintah dua langkah. Pada fase ini anak akan senang mendengarkan cerita. Pada usia dua tahun, sekitar 50% bicaranya dapat dimengerti orang lain.

Waspada bila: Tidak ada kalimat 2 kata yang dapat dimengerti pada usia 24 bulan

Usia 2-3 tahun

Setelah usia 2 tahun, hampir semua kata yang diucapkan anak telah dapat dimengerti oleh orang lain. Anak sudah biasa menggunakan kalimat 2-3 kata – mendekati usia 3 tahun bahkan 3 kata atau lebih – dan mulai menggunakan kalimat tanya. Ia dapat menyebutkan nama dan kegunaan benda-benda yang sering ditemui, sudah mengenal warna, dan senang bernyanyi atau bersajak (misalnya Pok Ami-Ami).

Usia 3-5 tahun

Anak pada usia ini tertarik mendengarkan cerita dan percakapan di sekitarnya. Ia dapat menyebutkan nama, umur, dan jenis kelaminnya, serta menggunakan kalimat-kalimat panjang (>4 kata) saat berbicara. Pada usia 4 tahun, bicaranya sepenuhnya dapat dimengerti oleh orang lain. Anak sudah dapat menceritakan dengan lancar dan cukup rinci tentang hal-hal yang dialaminya.

Apabila terdapat salah satu tanda waspada di atas, bawalah anak Anda ke dokter anak. Secara umum, pada usia berapapun, bawalah anak ke dokter jika ia menunjukkan kemunduran dalam kemampuan berbicara atau kemampuan sosialnya.

Penyebab keterlambatan bicara

Keterlambatan bicara dapat disebabkan gangguan pendengaran, gangguan pada otak (misalnya retardasi mental, gangguan bahasa spesifik reseptif dan/atau ekspresif), autisme, atau gangguan pada organ mulut yang menyebabkan anak sulit melafalkan kata-kata (dikenal sebagai gangguan artikulasi). Untuk menegakkan diagnosis penyebab keterlambatan bicara, perlu pemeriksaan yang teliti oleh dokter, yang terkadang membutuhkan pendekatan multidisiplin oleh dokter anak, dokter THT, dan psikolog atau psikiater anak.

Tata laksana keterlambatan bicara bergantung pada penyebabnya, dan juga melibatkan kerja sama antara dokter anak, dokter spesialis lain yang terkait, terapis wicara, dan tentunya orangtua.

Yang bisa dilakukan orangtua

Orangtua dan lingkungan terdekat memegang peranan penting dalam perkembangan bicara dan bahasa seorang anak. Kosakata anak berbanding lurus dengan jumlah kata yang didengarnya pada masa kritikal perkembangan bicaranya. Hal-hal yang dapat dilakukan orangtua untuk mengoptimalkan perkembangan bicara dan bahasa anak antara lain:

  1. Rajin berbicara dan berkomunikasi dengan anak, dimulai pada masa bayi. Kapanpun, di manapun Anda berada bersama anak Anda, katakanlah apa yang sedang terjadi, apa yang sedang Anda lakukan, dan sebutkan nama benda-benda yang ditemui. Walau bayi yang sangat muda belum bisa berbicara, kata-kata yang didengarnya akan menjadi bekal dalam perkembangan bicara dan bahasanya!
  2. Membacakan cerita adalah cara yang baik untuk meningkatkan kosakata anak. Bayi dan anak kecil biasanya tertarik pada cerita yang bersajak. Sembari membaca, anak dapat diajak menunjuk gambar dan menyebut nama benda yang ditunjuk.
  3. Periksakan ke dokter agar lebih jelas keterlambatan bicara anak sejauh mana dan bagaimana solusinya agar bisa mengejar keterlambatan tersebut.

Keterlambatan perkembangan bicara dan bahasa sebaiknya dapat dikenali oleh orangtua sedini mungkin, agar tata laksana yang diberikan dapat memaksimalkan kapasitas bicara dan bahasa yang dimiliki anak.

Penulis : Amanda Soebadi (Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI – RSCM)

Kembung Pada Bayi Dan Anak

Kembung pada bayi dapat merupakan suatu kelainan serius yang memerlukan tindakan pembedahan. Kembung yang memerlukan tindakan pembedahan biasanya disebabkan sumbatan saluran usus, baik total maupun sebagian. Kelaianan yang sering menyebabkan sumbatan total adalah terpuntirnya usus (volvulus), bagian usus atas terlipat masuk ke bagian yang lebih bawah (invaginasi), atau tidak terbentuknya segmen usus sejak lahir (atresia).

Gejala klinis volvulus adalah kembung disertai muntah berwarna hijau serta tidak buang air besar dan buang angin. Gejala invaginasi adalah kembung yang didahului sakit perut dan buang air besar disertai lendir dan darah. Atresia usus terjadi dalam kandungan sehingga gejala kembungnya timbul 24 – 48 jam sesudah lahir tergantung letak usus tidak terbentuk.

Kelainan lain yang menyebabkan sumbatan sebagian adalah hirschprung atau kelainan usus besar bagian bawah akibat tidak terbentuknya saraf sehingga segmen usus bawah itu tidak dapat berkonstraksi seperti usus normal. Gejalanya, kembung disertai kesulitan berhajat sejak lahir dan bila anusnya dicolok, tinja akan menyemprot keluar.

Kembung pada bayi dapat juga menyertai gangguan pencernaan lain, seperti muntah, diare, sakit perut, dan konstipasi. Bayi yang kembung biasanya mudah muntah. Bayi yang diare kadar kaliumnya akan berkurang sehingga kembung. Kolik infantil terutama yang disebabkan intoleransi laktosa sering disertai kembung. Bayi dengan konstipasi juga akan kembung.

Bayi yang banyak menangis sering mengalami kembung karena banyak menelan udara (aerofagia). Bayi yang minum susu botol lebih mudah mengalami aerofagia. Menyendawakan bayi sesudah minum dapat mengurangi kembung seperti ini.

Bayi yang terlalu banyak makan atau minum susu (overfeeding) juga dapat kembung karena sebagian dari susu tersebut tidak dicerna. Ganguan penyerapan akibat fungsi enzim pencernaan yang belum sempurna juga dapat menyebabkan kembung karena makanan atau susu yang tidak dicerna tersebut akan turun ke usus besar yang banyak mengandung bakteri komensal. Zat makanan tersebut akan difermentasi oleh bakteri tadi dan menghasilkan gas yang menimbulkan kembung.

Intoleransi laktosa juga dapat menimbulkan kembung karena laktosa dalam susu tidak dicerna akibat kurangnya enzim laktase (enzim untuk memecah laktosa menjadi glukosa dan galaktosa). Laktosa yang tidak tercerna akan turun ke usus besar dan difermentasi oleh bakteri penghuni usus besar dan menghasilkan gas. Kekurangan enzim laktase dapat terjadi karena belum matangnya perkembangan usus pada bayi (transient lactose intolerance).

Adanya pertumbuhan berlebih bakteri dalam usus halus (bacterial overgrowth) juga dapat menimbulkan kembung. Hal ini terjadi pada keadaan yang membuat sistem kekebalan usus berkurang seperti gizi kurang, gangguan peristaltik usus, kurangnya produksi asam lambung akibat pemakaian obat jangka panjang, dan sembelit.

Pemakaian antibiotik jangka panjang juga dapat menyebabkan bacterial growth karena tumbuhnya tumbuh bakteri anaerob yang biasanya tidak mati karena jenis antibiotik itu. Keadaan ini dapat diobati dengan pemberian probiotik (bakteri “baik”) yang dapat mengimbangi pertumbuhan bakteri “jahat” pada bacterial overgrowth. Kembung pada bacterial overgrowth lebih sering terjadi pada anak yang lebih besar, kadang disertai diare dan mulut berbau.

Meski biasanya bukan merupakan suatu kegawatan, orangtua harus mengetahui dan mewaspasdai kembung yang mungkin terjadi lebih serius. Bila kembung disertai muntah berwarna hijau, buang air besar berdarah dan lendir, sakit perut, demam tinggi, atau tidak bisa buang air besar dan kentut, segera periksakan anak ke dokter.

 

Penulis : Dr. Muzal Kadim, Sp.A(K)

Ikatan Dokter Anak Indonesia.

Apa Itu Disleksia?

Orang tua sering mengeluh mengapa anaknya yang usia 7 tahun masih belum lancar membaca, susah mengenal beberapa huruf, lambat dalam menulis dan tulisannya jelek sampai susah dibaca. Beberapa lagi mengeluh tiba – tiba menurun prestasi sekolahnya dan biasanya orang tua  ”tidak terima” jika guru melaporkan bahwa penyebab kemunduran prestasinya adalah kesulitan membaca. Karena masih banyak yang beranggapan disleksia hanya masalah terbolik-balik huruf, dan jika membaca hurufnya lari – lari atau terbang.

Kata disleksia berakar dari kata Yunani dyslexia, yang tersusun atas awalan “dys” berarti kesukaran dan kata ”lexis” yang berarti berbahasa sehingga makna kata disleksia adalah “kesukaran dalam berbahasa”. Pada kenyataannya kesulitan yang terjadi ternyata tidak hanya pada kegiatan berbahasa saja tetapi juga melibatkan domain kemampuan berbahasa lain seperti kemampuan membaca, menulis dan bahasa sosial.  Kondisi disleksia ini didasari oleh kelainan neurobiologis dimana anak disleksia memiliki perbedaan dalam memproses informasi dalam hal ini berupa informasi bahasa, seperti bagaimana mengambil informasi (input), bagaimana mereka memahami informasi tersebut, mengingatnya, dan mengaturnya dalam pikiran mereka (cognitive processing) sehingga menghasilkan tanggapan (response), serta bagaimana mereka menyampaikan tanggapan tersebut (output). Seluruh tahapan ini dapat terganggu pada seorang anak dengan disleksia. Dengan latar belakang tersebut dapat dipahami mengapa salah satu ciri yang mucul dari  seorang anak dengan disleksia adalah kesulitan memahami dan mengikuti instruksi lisan.

Walaupun anak disleksia cenderung memiliki kemampuan berbahasa di bawah rata rata atau tidak sesuai dengan usianya, tetapi ternyata anak disleksia memiliki potensi kognitif yang baik. Anak disleksia memiliki tingkat kepandaian yang normal bahkan beberapa diatas rata – rata.

Disleksia dapat terjadi pada siapa saja tanpa memandang jenis kelamin, etnis dan status sosioekonomi. Riwayat keluarga dengan disleksia terutama bila terjadi pada orangtuanya merupakan faktur risiko signifikan bagi seorang anak menyandang disleksia. Reid menyebutkan jika salah satu dari orang tua menyandang disleksia maka terdapat probabilitas 40% akan diturunkan pada anaknya.

Penegakan diagnosa menurut DSM V ( Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder V) dilakukan pada usia sekolah yaitu sekitar usia 7 tahun tetapi gejala – gejala yang mengarah pada kemungkinan terjadinya disleksia dapat diketahui jauh sebelum usia tersebut. Pada usia prasekolah anak disleksia akan menemui hambatan berbicara dan berbahasa. Mereka sulit mengenali dan membedakan kata – kata yang memiliki persamaan bunyi dan melafalkan kata – kata tersebut seperti kata “pesawat” menjadi “sepawat” . Mereka juga bingung dalam membedakan beberapa bunyi  huruf dan  bentuk huruf misanya “b” dengan “p” atau “m” dengan “n.  Saat anak memasuki usia sekolah mulai muncul kesulitan dalam kemampuan membaca dan menulis. Mereka sulit mengenali dan membaca kata – kata baru atau yang belum pernah dikenalinya sehingga lambat dalam kemampuan membaca. Hal ini akan menyebabkan anak tampak menemui kesulitan menyelesaikan tugas dengan tenggat waktu yang sudah ditentukan serta sulit mempelajari bahasa asing. Anak juga mengalami kendala dalam berkomunikasi karena memiliki perbendaharaan kata yang terbatas sehingga tampak tidak lancar berbicara dan terkadang menggunakan kata – kata yang tidak tepat. Meskipun demikian, tidak semua anak dengan disleksia memiliki semua tanda atau ciri tersebut. Karena disleksia memiliki memiliki gradasi dari yang ringan sampai berat.

 

Disleksia dapat dideteksi dini dengan mengenal tanda waspada atau red flags.

Red flags disleksia pada anak usia pra-sekolah :

Kesulitan dalam memahami fonem, atau kemampuan untuk mengidentifikasi  dan memanipulasi suara dalam kata adalah tanda awal kemungkinan anak mengalami disleksia. Contoh kemampuan membedakan fonem adalah :

  • Memecah suku kata dalam kalimat (berapa suku kata yang didengar pada kata “berhitung”
  • Membedakan bunyi huruf dalam kata-kata yang berbeda (huruf e pada “bebek”, “telor”)
  • Isolasi fonem (huruf “s” pada kata “sapi” di awal, tengah atau akhir kata)
  • Penghilangan huruf (kata “sapi” menjadi “api”, huruf s menjadi hilang)
  • Kesulitan membaca kata
  • Membaca huruf atau kata terbalik-balik
  • Kesulitan mengidentifikasi bunyi huruf, apakah pada awal atau akhir suatu kata. Kata apa yang dimulai dengan huruf /r/ ?  :  “rel” atau “ular “

Red flags disleksia pada anak usia sekolah dasar :

Anak denagn kemmapuan membaca dan menulis dibawah kemamuan intelejensia nya. Tanda waspada termasuk :

  • Kesultan melakukan sekuensing : alfabet, nama bulan
  • Tetap mengalami kesulitan dalam membedakan bunyi huruf
  • Kesulitan menemukan kata untk melabel suatu benda atau aktifitas : contoh naik ke atas pohon atau memanjat pohon, benda yang bulat untuk “bola”
  • Kesulitan dalam mengorganisasikan kegiatan dan belajar
  • Kesulitan dalam menceritakan suatu peristiwa
  • Menghndari atau tidak suka kegiatan membaca.

Jika ditemukan tanda waspada di atas, belum tentu diagnosis akhir adalah disleksia, dapat juga gangguan membaca atau bahasa lain.

Disleksia bukanlah suatu keadaan atau kondisi yang akan hilang atau sembuh dengan terapi atau pengobatan sehingga seorang anak dengan disleksia akan memiliki masalah tersebut seumur hidupnya. Hendaya akibat disleksia pada masa anak anak yang seakan akan berkurang atau sembuh ketika memasuki masa dewasa terjadi bukan karena disleksianya menurun atau hilang tetapi karena individu  tersebut berhasil menemukan cara untuk mengatasi masalah yang muncul akibat disleksianya. Kemampuan mengatasi masalah (coping strategy) ini dapat dikembangkan oleh setiap anak disleksia karena pada dasarnya anak disleksia memiliki intelegensia yang normal. Kemampuan mengatasi masalah ini dapat dikembangkan melalui terapi remediasi dan akomodasi sehingga seorang anak disleksia dapat tumbuh menjadi seorang individu dewasa tanpa disleksia atau berkurang derajat disleksianya

Selain dukungan dari orang tua dan keluarga dekatnya, peran guru juga tidak kalah penting dalam mengelola anak disleksia. Anak disleksia rentan mengalami bullying. Perlakuan bullying dapat berakibat penurunan self esteemyang pada akhirnya akan memperberat kondisi disleksianya. Anak disleksia akan terlihat sebagai anak yang tertinggal di kelasnya, malas, bodoh dan tidak mau bergaul dengan teman – temannya. Pendekatan dan kerjasama multidisiplin dari berbagai pihak memegang peranan penting dalam mengelola kondisi ini. Para stake holderberupa tenaga professional yaitu dokter, psikolog dan guru bersama sama dengan orang tua diharapkan dapat melakukan identifikasi dini dan memberikan penanganan lebih awal sehingga terhindar dari kondisi yang lebih berat. Sehingga diharapkan seorang  anak dengan disleksia dapat berkembang secara optimal dengan  menggali seluruh potensi dan kelebihan dirinya.

Penulis : Dr. Trully Kusumawardhani, Sp.A

Reviewer : DR.Dr. RA. Setyo Handryastuti, Sp.A(K)

Ikatan Dokter Anak Indonesia

Cara Menghentikan Penggunaan Dot Dan Botol Susu Pada Anak

Kebiasaan menggunakan dot dan botol susu pada anak sering sulit dihentikan. Sesungguhnya waktu terbaik untuk menghentikan penggunaan dot dan botol susu adalah pada usia 9 bulan. American Academy of Pediatrics (AAP) menyatakan bahwa sebetulnya anak sudah dapat minum dari sippy cup (gelas hisap) sejak usia 6-9 bulan.American Academy of Pediatrics juga menyarankan paling lambat pada usia 18 bulan penggunaan dot atau botol susu ini telah dihentikan. Studi membuktikan bahwa semakin cepat dot atau botol susu tersebut disingkirkan, semakin mudah proses penghentian  penggunaannya.

Masalahnya, seringkali  anak sudah terlanjur terbiasa dan memiliki keterikatan  dengan dot dan botol susunya. Terdapat beberapa trik yang dapat dilakukan untuk menghentikan penggunaannya, yaitu: lakukan pendekatan dan katakan bahwa sekarang adalah saatnya untuk belajar minum dari gelas. Beri pujian kepada anak Anda jika ia mencoba minum dari gelas. Saat akan menyingkirkan atau membuang botol, lakukanlah di depan anak Anda. Berikan pengalaman minum yang menyenangkan, antara lain dengan memberikan gelas beraneka ragam warna dan gambar. Bahkan, dapat saja Anda mengajak anak Anda berbelanja dan izinkan ia untuk memilih gelasnya sendiri. Apabila trik tersebut tidak berhasil, cobalah pendekatan yang lain, yaitu: dengan melakukan penghentian penggunaan dot dan botol susu secara bertahap (misalnya hanya boleh menggunakannya pada malam hari saja). Secara bertahap dibiasakan penggunaan gelas, mulai dari minuman yang bukan susu hingga menggantikan penggunaan dot dan botol susu sewaktu minum susu. Tambahkan frekuensi penggunaan gelas setiap harinya, sampai akhirnya anak sudah terbiasa dan tidak perlu menggunakan dot dan botol susu lagi. Dampingi dan berikan kehangatan berupa dekapan atau pangkuan sehingga menambah kenyamanan pada anak saat proses adaptasi ini berlangsung.

Kesulitan bertambah, apabila Anda mulai pada tahapan untuk menghentikan kebiasaan minum susu dengan dot dan botol susu sebelum tidur. Kenyamanan anak seringkali terganggu karena ia kehilangan “benda kesayangan” pengantar tidurnya. Apabila anak Anda memiliki kesulitan untuk beradaptasi tanpa dot dan botol susu kesayangannya, carilah pengganti “peran” dot dan botol susu tersebut. Penggantinya dapat berupa boneka, bantal atau selimut kesayangan. Selain itu, saat anak Anda baru mulai minum dari gelas, jangan lupa untuk memberikan rasa aman dan nyaman kepadanya. Buatlah transisi tersebut senyaman mungkin untuk  si kecil.

Apa dampak penggunaan dot dan botol susu dalam jangka waktu lama? Banyak studi yang menghubungkannya dengan karies gigi dan/atau infeksi telinga. Kondisi ini sering terjadi apabila saat minum anak banyak dalam posisi tidur (utamanya posisi terlentang).  Studi lain juga mengaitkan penggunaan dot dan botol susu dengan obesitas.  Hal ini terjadi karena rasa aman dan nyaman yang ditimbulkan dari proses menghisap dan dari botol itu sendiri membuat anak menjadi lebih sering minum susu. Akibatnya, kebiasaan ini dapat menyebabkan anak kurang nafsu makan karena rasa lapar telah terpenuhi dengan susu yang dikonsumsi. Sebaliknya orangtua sering menuruti permintaan anak untuk minum susu sebagai pengganti makan. Oleh karenanya menjadi penting untuk menghentikan pemberian dot dan botol susu sedini mungkin serta dorong dan berikan dukungan bagi anak  untuk menggunakan gelas sesuai usia perkembangannya.

Penulis : Dr. Dimple Nagrani, Sp.A

Reviewer: Dr. Titis Prawitasari, Sp.A(K)

Ikatan Dokter Anak Indonesia

Anak Lamban Akibat Gangguan Perkembangan Koordinasi

Adi, anak laki-laki umur 9 tahun, sehat, namun terkesan gerakannya lamban dan tidak dapat bersepeda bersama teman-temannya. Ia telah mencoba bermain dalam kelompok olahraga, tapi selalu gagal hingga akhirnya memilih menarik diri. Adi masih dibantu ibunya dalam berpakaian. Sekilas Adi tampak lamban dalam melakukan berbagai kegiatan sehari-hari.

Pada pertemuan antara guru dengan orangtua, gurunya juga menjelaskan kalau Adi sebenarnya anak cerdas tapi tulisannya kurang rapi, tidak dapat menyelesaikan tugas tepat waktu dan berakibat nilai sekolahnya rendah.

Cerita tersebut adalah gambaran ‘anak lamban’ yang tidak jarang ditemukan. Istilah anak lamban di sini sebenarnya adalah  terjemahan bebas dari “clumsy child”. Dalam terminologi terbaru, ini disebut Gangguan Perkembangan  Koordinasi (GPK), sebagai  terjemahan dari Developmental Coordination Disorder yang artinya gangguan keterampilan motor (alat gerak) yang berpengaruh terhadap kemampuan untuk melakukan tugas umum sehari-hari. Gangguan ini bukan karena kelainan visus, mental retardasi atau palsi serebral tetapi karena ketidakmampuan melakukan koordinasi antara beberapa fungsi sensoris, gerak kasar dan halus.

Anak yang mengalami GPK ini perlu mendapat perhatian orangtua dan guru sekolah dasar mengingat dampaknya terhadap tumbuh kembang anak. Gangguan pertumbuhan yang dimaksud di sini yaitu anak menjadi gemuk/obesitas karena menarik diri dari aktivitas fisik.

Gangguan perkembangan dapat berupa prestasi belajar/akademik yang rendah, sering gagal dalam ujian karena tulisan yang jelek dan lamban. Di dalam keluargakemandirian anak kurang, sering dibantu oleh anggota keluarga lain, cenderung  terjadi kecelakaan seperti menjatuhkan barang.

Gangguan perkembangan lainnya  berupa :

  • Di lingkungan sosial, aktivitas fisik bersama teman bermain berkurang dan penolakan oleh teman kelompok bermainnya, anak lebih senang bermain dengan anak yang lebih kecil umurnya
  • Emosi dan perilaku, cepat marah bila anak mengalami kesulitan dengan tugas sehari-hari
  • Kepercayaan diri rendah atau tidak ada, karena sering disebut sebagai anak lamban atau ceroboh

Mengingat dampak GPK ini terhadap tumbuh kembang anak, maka orangtua perlu mengenal gejala dan cara membantu anak.

Gejala anak lamban/GPK pada usia pra-sekolah :

  • Terlambat dalam  perkembangan motor kasar dan halus
  • Sering menabrak benda, mudah jatuh, makan cenderung berantakan dan lebih memilih menggunakan tangan, kesulitan dalam menggenggam pensil atau menggunakan gunting

Gejala anak lamban pada usia sekolah :

Aspek fisik :

  • Mudah terjatuh bila berjalan atau lari, tidak dapat memperkirakan jarak secara akurat
  • Kesulitan beraktivitas fisik bersama teman seperti bermain sepak bola
  • Komentar guru olahraga: lamban dan kesulitan mempelajari aktivitas fisik yang baru 

Aspek belajar:

  • Sering mengubah postur tubuh selama menulis untuk menyesuaikan posisi buku, lambat dalam menyalin/menulis, tulisan tangan jelek karena kesulitan dalam memanipulasi pulpen
  • Tidak dapat memotong, melipat ketika melakukan kerajinan tangan

Aspek perawatan diri

  • Sulit mengancingkan baju, mengikat tali sepatu, sehingga tampak lusuh
  • Mudah menjatuhkan benda atau menumpahkan minuman
  • Penelitian menunjukkan GPK ini tidak akan menghilang dengan usia. Namun, anak akan menunjukkan perbaikan yang jelas setelah pelatihan

Tips untuk orangtua

  1. Konsultasikan anak ke klinik tumbuh kembang bila ada kecurigaan GPK seperti: terlambat mencapai tonggak perkembangan motor (jalan, merangkak, duduk), menabrak benda, “clumsiness”, lamban, prestasi buruk dalam olahraga, tulisan tangan yang jelek. Dalam hal ini penting deteksi dini agar dapat diberikan pelatihan yang tepat sedini mungkin untuk meminimalkan gejala , di samping untuk meningkatkan kepercayaan diri.
  1. Bila terbukti anak mengalami GPK, orangtua berperan penting dalam membantu anak baik di rumah maupun di sekolah.

Hal yang dapat dikerjakan orangtua :

  • Dorong anak untuk berpartisipasi dalam olahraga yang disukainya.
  • Perkenalkan kegiatan individu dahulu (misal: berenang), kemudian berkelompok.
  • Dorong anak berinteraksi dengan temannya melalui kegiatan lain (misalnya musik, seni).
  • Pilihkan pakaian yang mudah dipakai atau dilepas.
  • Dorong anak melakukan kegiatan praktis sehari-hari terutama yang banyak menggunakan koordinasi tangan dan kaki, dan tonjolkan kelebihan anak.
  • Bekerja sama dengan guru, bahas kesulitan anak dan cara mengatasinya.

Guru mungkin perlu melakukan hal berikut:

  • Pastikan posisi anak sudah sesuai dengan meja kerjanya. Kaki anak harus menginjak lantai, lengan harus ditopang di atas meja dengan nyaman.
  • Menetapkan tujuan jangka pendek yang realistis untuk anak.
  • Menyediakan waktu ekstra bagi anak untuk menyelesaikan tugas akademik.
  • Memperkenalkan komputer untuk mengurangi jumlah tulisan tangan.
  • Fokus pada tujuan dari pelajaran yang diberikan.
  • Metode presentasi lain agar anak dapat menunjukkan pemahaman subjek, misalnya, menggunakan gambar untuk menggambarkan ide mereka

Dalam edukasi fisik :

  • Buat partisipasi, bukan kompetisi, karena partisipasi adalah tujuan utama
  • Hargai usaha anak, bukan keterampilan. Beri dorongan umpan balik positif
  • Gabungkan kegiatan yang memerlukan respon koordinasi lengan dan kaki
  • Biarkan anak mengambil peran kepemimpinan
  • Modifikasi peralatan untuk mengurangi risiko cedera.

Apa penyebab GPK?

Penyebabnya belum pasti. Banyak teori /hipotesis tentang penyebab GPK. Salah satunya adalah adanya ketidakmampuan anak untuk mengintegrasikan informasi sensorik yang masuk ke otak untuk menghasilkan gerakan yang terampil.

Berapa banyak anak yang mengalami GPK?

Diperkirakan sekitar 5 – 15% pada populasi sekolah dasar dan paling sedikit  5 – 6% dari semua anak. Perbandingan rasio laki-laki : perempuan =  2 : 1.

Apakah anak GPK  juga mempunyai gangguan perkembangan lain?

Penelitian menunjukkan hampir 50% anak dengan ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) mengalami GPK, demikian pula kesulitan belajar dan gangguan bahasa spesifik juga dapat disertai GPK.

Penulis : Dr. Jenni K. Dahliana, Sp.A

Reviewer : DR. Dr, Soedjatmiko, Sp.A(K), M.Si

Ikatan Dokter Anak Indonesia

 

 

1 2 3 4 9