Mainan Anak Sesuai Fase Perkembangan

Ada beberapa fase perkembangan penting dalam usia anak yang perlu kita jadikan sebagai bahan pertimbangan saat memilih mainan yang tepat untuk anak kita. Karena mainan pun bisa berperan penting dalam stimulasi perkembangan anak, baik dari segi motorik kasar, halus, kognitif, dan sosial.

Usia 0-6 bulan

Pada usia ini fungsi pendengaran dan penglihatan bayi mulai berkembang. Pada fase ini bayi mulai menyukai melihat dan mengikuti gerak benda. Ia juga akan berpaling jika mendengar suara di dekatnya dan dapat menggenggam dan mulai meraih mainan. Pada usia ini, permainan dengan warna yang mencolok akan menarik bagi bayi dan dapat membantu bayi mengembangkan penglihatannya. Selain itu mainan yang memiliki bunyi yang dapat dipegangnya seperti icik-icik, akan menarik baginya.

Usia 7-12 bulan

Bayi yang lebih besar kemampuan motor kasarnya mulai lebih berkembang. Ia mulai senang bergerak sepertirolling, duduk, merangkak, dan berdiri. Ia juga sudah mulai mengerti jika namanya dipanggil dan mengerti beberapa kata yang sering didengarnya, serta dapat menunjuk bagian tubuh. Ia juga senang mencari benda yang disembunyikan, menaruh, dan mengambil benda dari tempatnya. Beberapa mainan yang dapat diberikan pada usia ini antara lain boneka, mainan mobil dari plastik untuk membantunya bermain pura-pura. Untuk permainan mengambil dan menaruh benda dapat diberikan cangkir atau mangkuk yang berisi biskuit atau cereal. Bola, dan mainan kubus juga dapat diperkenalkan pada bayi.

Usia 1-2 tahun

Pada usia 1 tahun biasanya anak sudah dapat berdiri, dan mulai berjalan. Pada usia ini anak juga mulai belajar naik tangga dan mulai mengucapkan kata berarti, serta bermain dengan anak lain. Permainan yang cocok untuk usia ini antara lain buku cerita bergambar, musik dan lagu, alat gambar yang aman seperi crayon, kertas besar, dan pensil warna. Permainan pura-pura juga menarik untuk usia ini seperti telepon, boneka dan stroller, dress-up accessories, binatang dari plastik dan juga puzzle atau peg boards.

Usia 2 tahun

Pada usia 2 tahun anak sudah berkembang kemampuan bahasanya. Ia sudah dapat merangkai 2 kata, menyampaikan keinginannya secara verbal sederhana. Secara fisik anak juga mulai menyukai kegiatan fisik yang lebih beragam seperti melompat, memanjat, dan bergelantungan. Kemampuan motor halus juga mulai lebih baik. Berbagai permainan dapat meningkatkan keterampilan anak 2 tahun seperti puzzle, lego, yang memiliki berbagai bentuk dan warna. Set konstruksi, alat transport, furniture, boneka dan asesoris serta permainan pasir atau air juga menarik bagi anak.

Usia 3-6 tahun

Pada usia ini, anak memiliki kemampuan bahasa lebih baik. Anak banyak bertanya dan berbicara. Mereka juga senang bermain dengan anak lain dan tidak senang menerima kekalahan. Anak sudah dapat bermain permainan yang membutuhkan aturan khusus seperti bermain bergiliran. Anak juga mulai menyukai permainan di alam karena mereka memiliki kemampuan motor kasar yang lebih baik. Berbagai mainan tersedia untuk anak usia ini, seperti puzzle, kubus, lego, dan permainan lain yang meningkatkan keterampilan membuat bentuk khusus. Selain itu, board games seperti permainan ular tangga, halma, atau kartu dapat menjadi sarana anak bermain dengan aturan khusus dan giliran. Permainan pura seperti set konstruksi, set transportasi atau boneka akan merangsang imajinasinya. Penggunaan warna dengan krayon atau pensil warna juga dapat melatih kemampuan motor halusnya. Di samping itu, permainan outdoor dengan menggunakan alat atau mainan yang lebih bervariasi juga diminati seperti sepeda, bola, dan lainnya.

Usia sekolah

Permainan yang cocok untuk anak usia sekolah adalah permainan yang merangsang kemampuan peran, ketangkasan, dan kreativitas pada anak. Permainan board games dapat yang memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi seperti monopoli, scrabble, catur dan lainnya. Selain itu berbagai jenis mainan outdoor juga cocok untuk mereka seperti sepeda, skateboard, dan lainnya.

Berbagai permainan tradisional juga bermanfaat bagi anak. Permainan tradisional seperti engklek, layangan, ular naga dan lompat tali, serta permainan indoor tradisional seperti congklak, bola bekel dan lainnya dapat menjadi pilihan bagi orangtua.

Penulis : Dr. Bernie Endyarni Medise, Sp.A(K), MPH

Pentingnya Ajari Etika Batuk Pada Anak

“Dokter, anak saya batuk-batuk sejak 3 hari ini. Memang sih, Kakak dan Ayahnya sedang batuk. Bagaimana ya Dok….?”

Di musim penghujan ini, insidens infeksi saluran respiratori akut pada anak semakin meningkat. Sebuah penelitian pada tahun 2006 mengemukakan, insidens infeksi saluran respiratori akut, misalnya selesma, sinusitis hinga pneumonia atau radang paru, meningkat hingga 2 kali lipat pada musim hujan. Tak heran, keluhan batuk pilek pada anak sering sekali dikeluhkan oleh orangtua saat kunjungan ke dokter spesialis anak.

Berbagai penyakit infeksi saluran respiratori akut mudah sekali menular lewat udara, terutama melalui batuk atau bersin. Padahal, batuk atau bersin merupakan gejala utama infeksi saluran respiratori akut yang hampir selalu dijumpai pada anak. Batuk atau bersin mengandung  droplet nuclei (percik renik) yang mengandung virus atau bakteri apabila dikeluarkan oleh anak atau dewasa yang sedang sakit infeksi saluran respiratori. Pada saat batuk, terdapat aliran udara berkecapatan tinggi dari saluran respiratori sehingga percik renik tersebut dapat tersebar cukup jauh mencapai jarak beberapa meter. Apabila terhirup oleh orang lain, virus atau bakteri tersebut dapat menyebabkan infeksi pada orang lain tersebut. Oleh karena itu, etika batuk yang benar penting sekali dilakukan dan diajarkan pada anak.

Bagaimana cara batuk yang benar? Lakukanlah batuk sesuai dengan etika yang baik sesuai dengan langkah-langkah yang benar. Tujuannya adalah supaya penyebaran percik renik yang mengandung virus atau bakteri tersebut dapat dibatasi. Nah, berikut adalah etika batuk yang benar…..

  • Ketika batuk atau bersin, tutup mulut dan hidung dengan lengan atau lengan baju, dan jika memungkingan dengan tissue.
  • Buang tissue di tempat sampah, jangan di sembarang tempat.
  • Jika menutup batuk atau bersin menggunakan telapak tangan, setelahnya cuci tangan menggunakan air dan sabun, atau hand sanitizer.

Melakukan dan mengajarkan untuk melakukan batuk atau bersin dengan etika yang benar dapat mencegah penularan berbagai penyakit infeksi saluran respiratori. Akibatnya, penularan penyakit infeksi saluran napas dihindari. Maka, Ayah dan Bunda….jangan lupa contohkan etika batuk yang benar, dan ajarkan etika batuk yang benar pada anak ya…

Sumber gambar: https://www.cdc.gov/flu/protect/covercough.htm

Penulis Dr. Madeleine Ramdhani Jasin, Sp.A

Ikatan Dokter Anak Indonesia

Anak Gemuk Lebih Beresiko Terkena Berbagai Penyakit

Orangtua sering mengeluhkan anaknya kurus dan susah makan karena melihat teman-teman si anak di sekolah lebih gemuk dan aktif. Namun, anggapan bahwa anak gemuk itu sehat dan lucu sebetulnya hanya mitos karena anak gemuk justru mudah sakit. Pernahkah terbayang anak gemuk ternyata bisa mengalami penyakit akibat komplikasi kegemukan pada usia sekolah? Anak gemuk seringkali sudah mengalami berbagai gangguan kesehatan, seperti ngorok, tekanan darah tinggi (hipertensi), kadar kolesterol tinggi, perlemakan hati, asma, gangguan tidur (sleep apnea), kaki bengkok membentuk huruf O, bahkan kencing manis (diabetes mellitus).

 

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan pada tahun 2013 mencatat angka kegemukan pada anak mencapai 11%. Angka ini bisa mencapai 30% di daerah perkotaan yang artinya 1 dari 3 anak mengalami kegemukan. Hal ini bisa bahaya karena anak dan orangtua merasa bahwa anak gemuk adalah hal yang wajar dan justru lebih sehat.

Sebelumnya, komplikasi penyakit akibat kegemukan hampir pasti hanya ditemukan pada orang dewasa. Beberapa tahun belakangan, kejadian diabetes mellitus tipe 2 semakin meningkat pada anak dan remaja. Penelitian menunjukkan bahwa 85% anak yang mengalami diabetes mellitus tipe 2 merupakan anak yang gemuk. Risiko hipertensi tiga kali lipat lebih tinggi pada anak yang gemuk dibandingkan anak yang tidak gemuk. Hampir separuh dari anak yang gemuk sudah mengalami dislipidemia (kadar trigliserida tinggi, kolesterol low density lipoprotein(LDL) tinggi, kolesterol high density lipoprotein (HDL) rendah).  Kegemukan pada anak juga menimbulkan dampak psikologis, seperti anak rendah diri karena sering diejek oleh teman, merasa kesepian, meningkatkan risiko depresi, lebih mudah stres, dan gangguan belajar.

Seringkali kita tidak menyadari dan cenderung mengabaikan anak yang mulai gemuk serta tidak mengambil inisiatif untuk mengatur makan dan banyak berolahraga, sehingga kegemukan ini menetap (dan makin berat) sewaktu remaja dan dewasa. Orang dewasa berusia 40 tahun yang gemuk diprediksi akan meninggal 3-7 tahun lebih awal dibandingkan yang tidak gemuk. Oleh karena itu, penting bagi kita semua untuk mencegah kegemukan sejak anak-anak karena bahaya kegemukan yang akan terus berlangsung hingga usia dewasa.

Lalu langkah apa yang harus dilakukan oleh orangtua agar anak terhindar dari kegemukan? Pertama, terapkan jadwal makan yang teratur sehingga anak belajar rasa lapar dan kenyang. Selain itu, jangan biasakan memberikan makanan sebagai hadiah. Langkah kedua, biasakan anak untuk beraktivitas fisik sesuai usianya, misalnya biasakan bayi untuk beraktivitas saat “tummy time”, ajak anak batita bermain di taman, atau dorong anak usia sekolah untuk mengikuti tim olahraga di sekolahnya. Hal terakhir yang penting dilakukan adalah mengurangi “screen time”, yaitu waktu yang dihabiskan anak untuk menonton televisi atau perangkat elektronik lain. Batasi “screen time” maksimal 2 jam per hari dan anak di bawah 2 tahun tidak dianjurkan untuk menonton televisi atau semacamnya.  Jika anak sudah mengalami kegemukan, segera bawa anak ke dokter untuk mencegah timbulnya komplikasi atau mengatasi komplikasi penyakit yang sudah ada.

Penulis : Dr. Cut Nurul Hafifah, Sp.A

Reviewer : Dr. Titis Prawitasari, Sp.A(K)

Ikatan Dokter Anak Indonesia

Makan Kok Diemut?

Makan adalah sebuah proses yang melibatkan dua pihak, yaitu pemberi makan (orangtua atau pengasuh lainnya) dan yang diberi makan (anak). Interaksi dalam proses makan dipengaruhi oleh kondisi kedua belah pihak, baik temperamen, perilaku maupun kebiasaan masing-masing. Selain itu terdapat pengaruh lingkungan yang juga akan ikut memberi nuansa dan hasil yang berbeda. Yang dimaksud lingkungan di sini adalah adanya orang lain, mainan, televise, gadget yang sering menjadi pengganggu (distraktor) dalam proses makan tersebut. Proses makan juga merupakan proses belajar.

Anak secara bertahap belajar mengenal tekstur, konsistensi, rasa, bau dan jenis makanan sesuai tahapan perkembangannya. Tidak ada aturan baku dalam mengenalkan makanan, tetapi sesuai dengan kemampuan dan kesiapan makan seorang anak, yang pada awalnya hanya dapat menghisap dan menelan ASI berangsur-angsur mampu mengantarkan makanan padat dengan lidah serta mengunyah dengan rahang dang giginya. Tekstur dimulai dengan halus, konsistensi lunak, tidak terlalu tajam rasanya atau terlalu berbumbu. Setelah usia 1 tahun, anak telah dapat diberikan makanan keluarga dengan lauk-pauk yang masih dicincang/disesuaikan teksturnya.

Mengapa diemut?

Penyebab tersering kebiasaan mengemut makanan terjadi karena kita sering berlama-lama dalam proses makan, karena banyak orangtua terlalu berorientasi untuk menghabiskan target volume/banyaknya makanan. Seringkali terjadi bahwa proses makan berlangsung lebih dari 1 jam.

Penyebab lain yang juga sering terjadi adalah banyaknya pengganggu yang ada di sekeliling anak. Adanya mainan, siaran televisi/video (film maupun lagu atau sekedar iklan), dan kegiatan orang dewasa yang menarik perhatian anak menyebabkan ia “melupakan” kegiatan makan dan berhenti mengunyah makanan.

Satu lagi penyebab mengapa anak sering mengemut makanan adalah karena makanan yang diberikan justru tidak “menantang” untuk dikunyah karena tidak terasa enaknya (mungkin kurang berbumbu, atau hambar) serta bosan dengan makanan yang itu-itu saja.

Bagaimana mengatasinya?

Implementasikan “aturan makan” yang meliputi:

  1. Jadwal:

Buatlah jadwal makan yang tetap dan proses makan tidak lebih dari 30 menit

  1. Lingkungan:

Bangun suasana makan yang nyaman, netral (tidak ada paksaan), tidak ada distraktor (mainan, games, TV), tidak dibawa jalan-jalan (walaupun tidak selalu harus di “high chair”)

  1. Prosedur:

Berikan porsi makan yang sedikit tapi sering, dahulukan padat baru cair, berikan variasi makanan yang beragam, tidak terlalu takut untuk mencobakan makanan baru, tetapi tetap berhati-hati dan disesuaikan dengan tahapan perkembangan.

Penulis : Dr. Titis Prawitasari, Sp.A(K)

Ikatan Dokter Anak Indonesia

Kapan Balita Perlu Minum Obat Cacing?

Kapan anak saya diberi obat cacing? Pertanyaan ini sering muncul saat orangtua berkonsultasi dengan dokter. Berdasarkan Kemenkes RI tahun 2006, hasil survei  yang dilakukan Subdit diare pada tahun 2002 dan 2003 pada 40 Desa di 10 Provinsi menunjukkan prevalensi infeksi cacing menunjukan angka 2,2% – 96,3%. Paling banyak terjadi pada anak usia sekolah 5 – 14 tahun. Penyakit kecacingan dapat ditularkan melalui berbagai cara, diantaranya melalui makanan atau minuman yang tercemar telur cacing atau melalui tanah yang disebut juga soil transmited helminthiasis.

Gejala infeksi cacing bisa ringan hingga berat.  Pada infeksi cacing ringan, gejala tidak tampak khas. Gejala umum yang harus dikenali adalah lesu, tidak bersemangat, sering mengantuk, pucat dan kurang gizi. Infeksi cacing berpengaruh terhadap pemasukan, pencernaan, penyerapan, serta pengolahan makanan sehingga berakibat hilangnya protein, karbohidrat, lemak, dan vitamin dalam jumlah besar. Selain itu dapat menimbulkan anemia, diare dan gangguan respon imun. Anak yang menderita infeksi cacing mempunyai risiko tinggi mengalami gangguan nutrisi, gangguan tumbuh kembang dan penurunan prestasi belajar.

Ada beberapa jenis cacing yang bisa  menimbulkan infeksi pada anak. Pertama adalah cacing gelang. Jenis cacing ini  masuk ke dalam tubuh manusia berupa telur yang terdapat pada sayuran dan buah yang tidak dibersihkan dengan baik. Cacing gelang dewasa berukuran 20-30 cm dan mampu bertelur 200.000 telur per harinya. Cacing ini akan menimbulkan kerusakan pada lapisan usus halus, menyebabkan diare, sehingga mengganggu penyerapan karbohidrat dan protein.

Kedua adalah cacing cambuk dewasa yang mampu bertelur hingga 5-10 ribu butir per hari. Cacing ini dapat membenamkan kepalanya pada dinding usus besar sehingga menyebabkan luka di usus. Pada infeksi yang berat akan terjadi diare yang mengandung lendir dan darah.

Ketiga, yaitu cacing tambang yang mampu bertelur 15-20 ribu butir per hari. Larva cacing tambang mampu menembus kulit kaki dan selanjutnya terbawa oleh pembuluh darah ke dalam usus halus, paru dan jantung. Infeksi cacing tambang ini akan menimbulkan perlukaan usus yang lebih dalam sehingga perdarahan dapat lebih berat dibanding infeksi cacing jenis lain.

Keempat adalah cacing kremi yang berbentuk kecil dan berwarna putih. Cacing ini bersarang di usus besar. Cacing  kremi dewasa akan berpindah ke anus untuk bertelur. Telur inilah yang menimbulkan rasa gatal pada anus. Bila digaruk, telur akan pecah dan larva masuk ke dalam dubur. selain itu, telur akan bersembunyi di jari, kuku, menempel pada pakaian/sprei/handuk sehingga menulari orang lain.

Indonesia dengan iklim yang tropis memiliki angka kecacingan yang tinggi sebesar 28% faktor – faktor yang mempengaruhi, Yaitu kurangnya kebersihan, sanitasi, pasokan air, kepadatan penduduk, serta tanah yang lembab.

Infeksi cacing ini dapat dicegah dengan cara menjaga pola perilaku hidup bersih dan sehat, yaitu dengan cara mencuci tangan dengan sabun sebelum makan, menggunting kuku seminggu sekali, menggunakan alas kaki, mencuci buah dan sayur sebelum dikonsumsi dan minum obat cacing jika ada anak atau anggota keluarga yang menderita kecacingan.

Selain menerapkan pola perilaku hidup bersih dan sehat, pencegahan infeksi cacing dapat dilakukan dengan pemberian obat cacing. Pemberian obat cacing dapat dimulai sejak anak usia 2 tahun. Hal ini, disebabkan karena pada anak usia 2 tahun sudah terjadi adanya kontak dengan tanah yang merupakan sumber penularan infeksi cacing. Pemberian obat cacing dapat diulang setiap 6 bulan sekali. Sedangkan, untuk daerah non endemis pemberian obat cacing harus diberikan sesuai indikasi dan sesuai pemeriksaan dokter dengan hasil pemeriksaan tinja positif ditemukan telur cacing atau cacing.

Kesimpulan

Kapan balita perlu minum obat cacing ? Balita usia 2 tahun dapat mulai diberikan obat cacing, bersamaan dengan menjaga kebersihan lingkungan. Prinsip pemberian obat cacing pada anak adalah bila hasil pemeriksaan tinja ditemukan telur cacing atau cacing,  dan memiliki gejala anemia, gangguan nutrisi dan lekas letih, lesu. Semoga penjelasan ini dapat membantu para orangtua agar anak terhindar atau sembuh dari infeksi cacing sehingga sang buah hati dapat tumbuh dan berkembang optimal.

Penulis : Dr. Bagus Budi Santoso

Reviewer : Dr. Mulya Rahma Karyanti, Sp.A(K)

Ikatan Dokter Anak Indonesia

Kembung Pada Bayi Dan Anak

Kembung pada bayi dapat merupakan suatu kelainan serius yang memerlukan tindakan pembedahan. Kembung yang memerlukan tindakan pembedahan biasanya disebabkan sumbatan saluran usus, baik total maupun sebagian. Kelaianan yang sering menyebabkan sumbatan total adalah terpuntirnya usus (volvulus), bagian usus atas terlipat masuk ke bagian yang lebih bawah (invaginasi), atau tidak terbentuknya segmen usus sejak lahir (atresia).

Gejala klinis volvulus adalah kembung disertai muntah berwarna hijau serta tidak buang air besar dan buang angin. Gejala invaginasi adalah kembung yang didahului sakit perut dan buang air besar disertai lendir dan darah. Atresiausus terjadi dalam kandungan sehingga gejala kembungnya timbul 24 – 48 jam sesudah lahir tergantung letak usus tidak terbentuk.

Kelainan lain yang menyebabkan sumbatan sebagian adalah hirschprung atau kelainan usus besar bagian bawah akibat tidak terbentuknya saraf sehingga segmen usus bawah itu tidak dapat berkonstraksi seperti usus normal. Gejalanya, kembung disertai kesulitan berhajat sejak lahir dan bila anusnya dicolok, tinja akan menyemprot keluar.

Kembung pada bayi dapat juga menyertai gangguan pencernaan lain, seperti muntah, diare, sakit perut, dan konstipasi. Bayi yang kembung biasanya mudah muntah. Bayi yang diare kadar kaliumnya akan berkurang sehingga kembung. Kolik infantil terutama yang disebabkan intoleransi laktosa sering disertai kembung. Bayi dengan konstipasi juga akan kembung.

Bayi yang banyak menangis sering mengalami kembung karena banyak menelan udara (aerofagia). Bayi yang minum susu botol lebih mudah mengalami aerofagia. Menyendawakan bayi sesudah minum dapat mengurangi kembung seperti ini.

Bayi yang terlalu banyak makan atau minum susu (overfeeding) juga dapat kembung karena sebagian dari susu tersebut tidak dicerna. Ganguan penyerapan akibat fungsi enzim pencernaan yang belum sempurna juga dapat menyebabkan kembung karena makanan atau susu yang tidak dicerna tersebut akan turun ke usus besar yang banyak mengandung bakteri komensal. Zat makanan tersebut akan difermentasi oleh bakteri tadi dan menghasilkan gas yang menimbulkan kembung.

Intoleransi laktosa juga dapat menimbulkan kembung karena laktosa dalam susu tidak dicerna akibat kurangnya enzim laktase (enzim untuk memecah laktosa menjadi glukosa dan galaktosa). Laktosa yang tidak tercerna akan turun ke usus besar dan difermentasi oleh bakteri penghuni usus besar dan menghasilkan gas. Kekurangan enzim laktase dapat terjadi karena belum matangnya perkembangan usus pada bayi (transient lactose intolerance).

Adanya pertumbuhan berlebih bakteri dalam usus halus (bacterial overgrowth) juga dapat menimbulkan kembung. Hal ini terjadi pada keadaan yang membuat sistem kekebalan usus berkurang seperti gizi kurang, gangguan peristaltik usus, kurangnya produksi asam lambung akibat pemakaian obat jangka panjang, dan sembelit.

Pemakaian antibiotik jangka panjang juga dapat menyebabkan bacterial growth karena tumbuhnya tumbuh bakterianaerob yang biasanya tidak mati karena jenis antibiotik itu. Keadaan ini dapat diobati dengan pemberian probiotik (bakteri “baik”) yang dapat mengimbangi pertumbuhan bakteri “jahat” pada bacterial overgrowth. Kembung padabacterial overgrowth lebih sering terjadi pada anak yang lebih besar, kadang disertai diare dan mulut berbau.

Meski biasanya bukan merupakan suatu kegawatan, orangtua harus mengetahui dan mewaspasdai kembung yang mungkin terjadi lebih serius. Bila kembung disertai muntah berwarna hijau, buang air besar berdarah dan lendir, sakit perut, demam tinggi, atau tidak bisa buang air besar dan kentut, segera periksakan anak ke dokter.

Penulis : Dr. Muzal Kadim, Sp.A(K)

Artikel ini pernah dimuat di kolom Apa Kata Dokter, Kompas, Minggu, 22 Januari 2017.

Ikatan Dokter Anak Indonesia.

Pentingnya Psikotest Bagi Anak dan Orang Tua

Para orang tua pasti tidak asing lagi mendengar istilah IQ dan Psikotes. Sedikitnya lima belas tahun terakhir ini permintaan akan jasa psikologi, berupa jasa psikotes, terutama di bidang jasa psikotes dibidang pendidikan terasa meningkat. Banyak sekolah yang mensyaratkan calon muridnya untuk di psikotes dulu sebelum diterima di sekolah itu.

Kebanyakan orang mengartikan IQ sebagai suatu kemampuan dari seseorang yang dijadikan patokan untuk meramalkan keberhasilannya di masa mendatang. Benarkah demikian? Apa manfaatnya tes psiokologi bagi anak dalam bidang pendidikan? Apa manfaat tes psikologi bagi orang tua itu. Pertanyaan-pertanyaan diatas secara berturut-turut akan kita bahas secara terperinci dibawah ini.

Manfaat Tes Psikologi Bagi Anak :
1. Meningkatkan Proses Dan Pengalaman Belajar Siswa.
Karena hasil tes intelegensi dapat memberikan gambaran tentang status intelegensi siswa, maka hal ini akan dapat membantu siswa dalam mengenal kekuatan dan kelemahan diriya. Seseorang yang mengenal dirinya tidak akan memiliki konsep. Ciri yang salah tentang dirinya, dengan demikian perencanaan belajar dapat disesuaikan dengan kemampuan siswa itu juga pengembangannya.

2. Menciptakan Teknik Belajar Mengajar Yang Efektif.
Tujuan yang kedua ini dapat kita golongan pada hasil pemanfaatan hasil tes intelegensi, guru dapat mengetahui kecepatan belajar siswanya, sehingga guru dapat menciptakan situasi belajar mengajar yang efektif bagi siswa.

3. Mendukung Kegiatan Bimbingan Dan Konseling.
Hasil tes intelegensi yang dilengkapi dengan tes prestasi belajar terutama ditujukan kepada siswa yang mengalami kesalahan/kesulitan belajar. Hasil pemeriksaan ini membantu pendidikan dalam upaya memberikan bantuan “REMEDIAL TEACHING” bagi siswa yang bersangkutan.

4. Hasil pemeriksaan psikologik dapat dipakai guru untuk mengurangi hambatan belajar yang bersumber pada sekolah dan proses belajar mengajar itu sendiri.

Manfaat Tes Psikologi Bagi Orang Tua :
1. Orang tua dapat menyalurkan anak di bidang yang sesuai dengan bakat dan kemampuannya.
2. Orang tua mengenal kelemahan anak, sehingga diharapkan tidak memaksakan kehendaknya bila anak ternyata memang tidak mampu.
3. Dengan mengetahui kekurangan anak, orang tua dapat melakukan intervensi pada aspek-aspek tersebut dengan cara memberikan perangsang yang dibutuhkannya.

Demikian beberapa manfaat psiokologi untuk anak dan orang tua yang saya sajikan, semoga dari artikel ini kita lebih mengenal diri pribadi serta anak, sehingga dapat menjadi bahan tuntunan dalam pengembangan kepribadian. Semoga bermanfaat.

Menumbuhkan Minat Baca Anak

Menumbuhkan minat baca pada anak usia dini dapat dimulai dengan memperkenalkan huruf dan kata melalui buku cerita yang sering dibacakan atau melakukan permainan yang terdapat unsur bacaannya. Hal itu disebabkan anak usia dini lebih mudah menyerap hal-hal yang bersifat permainan. Dalam membacakan buku sebaiknya dengan suara yang terdengar oleh anak (read a loud). Aktivitas ini bila dilakukan secara terus menerus maka anak akan mengalami “magic reading”, yaitu anak akan tiba-tiba bisa membaca tanpa diajari membaca secara formal.

Dengan sering membacakan buku kepada anak, dapat meningkatkan listening level  mereka dan anak akan tumbuh menjadi orang yang terbiasa mendengarkan dengan baik bukan hanya sekedar mendengar saja. Anak akan mendengarkan apa yang disebut dan melihat apa yang ditunjukkan.   Sehingga koneksi otaknya terbangun. Hal ini akan mendukung perkembangan otak anak dengan baik.   Ketika anak mendengar apa yang dibacakan, dia akan mampu mengucapkan, ketika dia mampu mengucapkan maka dia akan mampu membacanya dan pada akhirnya anak itu akan mampu menuliskannya.

Menurut Soeseno Bachtiar seperti dikutip dalam bukunya yang berjudul “Buku Pintar Memahami Psikologi Anak Didik : Panduan Sukses Menjadi Guru Teladan dan Profesional” bahwa ada 7  hal yang harus diketahui oleh para pendidik untuk menumbuhkan minat baca anak yaitu :

  1. Memberikan stimulus kearah minat baca jauh lebih baik daripada langsung mengajari mereka baca tulis. Ingat dunia anak-anak adalah dunia bermain, yang pantas kita berikan kepada mereka adalah sebuah permainan walaupun didalamnya ada unsur edukasi baca tulis.
  2. Untuk membangun minat baca anak, orang tua memiliki andil besar untuk memberikan contoh. Anak biasanya akan mencontoh perilaku orang terdekatnya, salah satunya orangtua. Tumbuhkan minat mereka dengan memberikan buku-buku bacaan yang disertai gambar-gambar dan warna-warna yang menarik, sesuai dengan minat dan usianya. Misalnya jika anak senang dengan robot-robotan, maka anak akan cepat merespon ketika diberikan buku yang bercerita dan bergambar tentang robot-robotan. Yang lebih penting lagi,  pilih buku yang lebih banyak gambarnya daripada hanya tulisan saja.
  3. Sebelum diajarkan menulis, anak harus dilatih kemampuan motorik halusnya terlebih dahulu.   Misalnya meronce, puzzle, lego, melipat, mengelem, menggunting, mewarnai, membuat berbagai bentuk dengan bahan clay, dan lain-lain. Setelah itu jika motorik halusnya sudah bagus, ajari bagaimana memegang pensil dengan benar baru ajari mereka menulis.
  4. Jika anak sudah menunjukkan minat untuk membaca dan menulis maka berikanlah bantuan padanya.
  5. Orang tua tidak perlu menjadi stres jika anak belum bisa membaca dan menulis. Nanti kalau sudah tiba waktunya ia akan cepat membaca dan menulis. Pada usia 6 tahun pada umumnya anak sudah bisa baca tulis.
  6. Jangan memberikan label ‘bodoh’ atau label negatif lainnya pada anak karena akan membentuk konsep diri yang negatif dan anak menjadi tidak percaya diri. Lihatlah kelebihan yang dimiliki anak karena setiap anak pasti memiliki kelebihan.
  7. Pilih sekolah yang sesuai dengan kemampuan si anak.  Jangan memaksakan anak untuk masuk di sekolah favorit yang dianggap terbaik untuknya, padahal belum tentu sekolah tersebut adalah yang terbaik untuk anak bila tidak sesuai dengan kondisi anak.

Pentingnya Mengatur Jadwal Makan Anak

Pemberian makan merupakan keharusan demi kelangsungan hidup dan tumbuh kembang optimal serta kualitas hidup seorang anak, khususnya anak batita (bawah tiga tahun). Pemberian makan ini tidak hanya urusan kualitas dan kuantitas, tetapi merupakan kegiatan interaktif antara anak dan pemberi makan. Dalam kegiatan interaktif ini, banyak aspek yang sering kali dilupakan atau tidak terpikirkan, misalnya pembinaan suasana dan lingkungan, sikap responsive terhadap bahasa tubuh anak (tanda lapar/kenyang), pengaturan jadwal makan, dan lain-lain.

Regulasi rasa lapar dan kenyang dipengaruhi faktor eksternal dan faktor internal. Pada anak, sangat penting untuk membangun regulasi internal agar anak mampu menyadari rasa lapar dan kenyang yang timbul pada dirinya. Selain itu, rasa lapar terkait dengan masa pengosongan lambung. Pada anak normal, waktu rerata pengosongan lambung adalah 50 persen dan waktu 100 menit untuk makanan padat dan 75 menit untuk makanan cair. Waktu pengosongan makin cepat sejalan dengan bertambahnya usia anak.

Salah satu upaya membangun regulasi internal adalah mengatur jadwal makan yang dikaitkan dengan masa pengosongan lambung. Dalam sehari anak perlu makan 3 kali sehari, 1-2 kali makanan selingan (snack) dan ASI/susu 2-3 kali. Prinsip dan keberhasilan pemberian makanan pada anak, khususnya batita, adalah beri anak makan saat anak merasa lapar. Karenanya, sangatlah penting membuat jadwal yang teratur dan terencana (lihat contoh) dan di antara waktu makan hanya boleh mengonsumsi air putih. Jangan biasakan anak ngemil karena hal ini akan menyebabkan anak tidak merasa lapar ketika waktu makan tiba.

Di samping pengaturan jadwal, lakukan responsive feeding karena saat pemberian makan bukan hanya makanan yang diberikan, tetapi juga pembelajaran dan kasih sayang. Orangtua harus peka terhadap bahasa tubuh anak-kenali tanda lapar dan kenyang. Perlu diketahui oleh para orangtua bahwa anaklah yang menentukan jumlah makanan yang dibutuhkannya. Lakukan kontak mata dan berbicaralah dengan anak. Motivasi anak untuk mencoba makan sendiri, damping anak selama proses makan berlangsung. Anak dapat diajak makan bersama keluarga sehingga dia belajar bagaimana seharusnya makan dengan mencontoh orang di sekitarnya.

Contoh jadwal makan

06.00     ASI/Susu

08.00     Makan pagi

10.00     Makanan selingan

12.00     Makan siang

14.00     ASI/Susu

16.00     Makanan selingan

18.00     Makan malam

21.00     ASI/Susu

 

  1. Terjadwal

– Jadwal makan termasuk snack teratur dan terencana.

– Lama makan tidak lebih dari 3 menit.

– Di antara waktu makan hanya boleh mengonsumsi air putih.

  1. Lingkungan

– Netral, tidak dipaksa meskipun anak hanya makan 1-2 suap.

– Jangan memberikan makanan sebagai hadiah.

– Tidak sambil bermain atau nonton televisi, dan lain-lain.

  1. Prosedur makan

– Porsi kecil.

– Hentikan pemberian makan jika setelah 15 menit anak bermain-main

tanpa makan atau tampak kesal dan membuang-buang makanannya.

– Anak dimotivasi untuk makan sendiri.

– Membersihkan mulut hanya setelah makan selesai.

Penulis: Sri S Nasar

Ikatan Dokter Anak Indonesia

Nilai Nutrisi Air Susu Ibu

Keunggulan dan keistimewaan Air Susu Ibu (ASI) sebagai nutrisi untuk bayi sudah tidak diragukan lagi. Masyarakat luas khususnya kaum ibu telah paham benar kegunaan dan manfaat ASI, berbagai tulisan yang membahas masalah ASI telah banyak dipublikasi. Dalam makalah ini akan dibahas nilai nutrisi yang terkandung dalam ASI dan keunggulannya dibanding nutrisi lain untuk bayi, dengan demikian diharapkan para ibu akan lebih percaya diri dalam memberikan ASI kepada bayinya.

Seperti halnya nutrisi pada umumnya, ASI mengandung komponen makro dan mikro nutrien. Yang termasuk makronutrien adalah karbohidrat, protein dan lemak sedangkan mikronutrien adalah vitamin & mineral. Air susu ibu hampir 90%nya terdiri dari air. Volume dan komposisi nutrien ASI berbeda untuk setiap ibu bergantung dari kebutuhan bayi. Perbedaan volume dan komposisi di atas juga terlihat pada masa menyusui (kolostrum, ASI transisi, ASI matang dan ASI pada saat penyapihan). Kandungan zat gizi ASI awal dan akhir pada setiap ibu yang menyusui juga berbeda. Kolostrum yang diproduksi antara hari 1-5 menyusui kaya akan zat gizi terutama protein.

ASI transisi mengandung banyak lemak dan gula susu (laktosa). ASI yang berasal dari ibu yang melahirkan bayi kurang bulan (prematur) mengandung tinggi lemak dan protein, serta rendah laktosa dibanding ASI yang berasal dari ibu yang melahirkan bayi cukup bulan. Pada saat penyapihan kadar lemak dan protein meningkat seiring bertambah banyaknya kelenjar payudara. Walapun kadar protein, laktosa, dan nutrien yang larut dalam air sama pada setiap kali periode menyusui, tetapi kadar lemak meningkat.

Jumlah total produksi ASI dan asupan ke bayi bervariasi untuk setiap waktu menyusui dengan jumlah berkisar antara 450 -1200 ml dengan rerata antara 750-850 ml per hari. Banyaknya ASI yang berasal dari ibu yang mempunyai status gizi buruk dapat menurun sampai jumlah hanya 100-200 ml per hari.

Komposisi 

ASI mengandung air sebanyak 87.5%, oleh karena itu bayi yang mendapat cukup ASI tidak perlu lagi mendapat tambahan air walaupun berada di tempat yang mempunyai suhu udara panas. Kekentalan ASI sesuai dengan saluran cerna bayi, sedangkan susu formula lebih kental dibandingkan ASI. Hal tersebut yang dapat menyebabkan terjadinya diare pada bayi yang mendapat susu formula.

Karbohidrat

Laktosa adalah karbohidrat utama dalam ASI dan berfungsi sebagai salah satu sumber energi untuk otak. Kadar laktosa yang terdapat dalam ASI hampir 2 kali lipat dibanding laktosa yang ditemukan pada susu sapi atau susu formula. Namun demikian angka kejadian diare yang disebabkan karena tidak dapat mencerna laktosa (intoleransi laktosa) jarang ditemukan pada bayi yang mendapat ASI. Hal ini disebabkan karena penyerapan laktosa ASI lebih baik dibanding laktosa susu sapi atau susu formula. Kadar karbohidrat dalam kolostrum tidak terlalu tinggi, tetapi jumlahnya meningkat terutama laktosa pada ASI transisi (7-14 hari setelah melahirkan). Sesudah melewati masa ini maka kadar karbohidrat ASI relatif stabil.

Protein

Kandungan protein ASI cukup tinggi dan komposisinya berbeda dengan protein yang terdapat dalam susu sapi. Protein dalam ASI dan susu sapi terdiri dari protein whey dan Casein. Protein dalam ASI lebih banyak terdiri dari protein whey yang lebih mudah diserap oleh usus bayi, sedangkan susu sapi lebih banyak mengandung protein Casein yang lebih sulit dicerna oleh usus bayi. Jumlah protein Casein yang terdapat dalam ASI hanya 30% dibanding susu sapi yang mengandung protein ini dalam jumlah tinggi (80%). Disamping itu, beta laktoglobulin yaitu fraksi dari protein whey yang banyak terdapat di protein susu sapi tidak terdapat dalam ASI. Beta laktoglobulin ini merupakan jenis protein yang potensial menyebabkan alergi.

Kualitas protein ASI juga lebih baik dibanding susu sapi yang terlihat dari profil asam amino (unit yang membentuk protein). ASI mempunyai jenis asam amino yang lebih lengkap dibandingkan susu sapi. Salah satu contohnya adalah asam amino taurin; asam amino ini hanya ditemukan dalam jumlah sedikit di dalam susu sapi. Taurin diperkirakan mempunyai peran pada perkembangan otak karena asam amino ini ditemukan dalam jumlah cukup tinggi pada jaringan otak yang sedang berkembang. Taurin ini sangat dibutuhkan oleh bayi prematur, karena kemampuan bayi prematur untuk membentuk protein ini sangat rendah.

ASI juga kaya akan nukleotida (kelompok berbagai jenis senyawa organik yang tersusun dari 3 jenis yaitu basa nitrogen, karbohidrat, dan fosfat) dibanding dengan susu sapi yang mempunyai zat gizi ini dalam jumlah sedikit. Disamping itu kualitas nukleotida ASI juga lebih baik dibanding susu sapi. Nukleotida ini mempunyai peran dalam meningkatkan pertumbuhan dan kematangan usus, merangsang pertumbuhan bakteri baik dalam usus dan meningkatkan penyerapan besi dan daya tahan tubuh.

Lemak

Kadar lemak dalam ASI lebih tinggi dibanding dengan susu sapi dan susu formula. Kadar lemak yang tinggi ini dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan otak yang cepat selama masa bayi. Terdapat beberapa perbedaan antara profil lemak yang ditemukan dalam ASI dan susu sapi atau susu formula. Lemak omega 3 dan omega 6 yang berperan pada perkembangan otak bayi banyak ditemukan dalam ASI. Disamping itu ASI juga mengandung banyak asam lemak rantai panjang diantaranya asam dokosaheksanoik (DHA) dan asam arakidonat (ARA) yang berperan terhadap perkembangan jaringan saraf dan retina mata.

Susu sapi tidak mengadung kedua komponen ini, oleh karena itu hampir terhadap semua susu formula ditambahkan DHA dan ARA ini. Tetapi perlu diingat bahwa sumber DHA & ARA yang ditambahkan ke dalam susu formula tentunya tidak sebaik yang terdapat dalam ASI. Jumlah lemak total di dalam kolostrum lebih sedikit dibandingkan ASI matang, tetapi mempunyai persentasi asam lemak rantai panjang yang tinggi.

ASI mengandung asam lemak jenuh dan tak jenuh yang seimbang dibanding susu sapi yang lebih banyak mengandung asam lemak jenuh. Seperti kita ketahui konsumsi asam lemah jenuh dalam jumlah banyak dan lama tidak baik untuk kesehatan jantung dan pembuluh darah.

Karnitin

Karnitin ini mempunyai peran membantu proses pembentukan energi yang diperlukan untuk mempertahankan metabolisme tubuh. ASI mengandung kadar karnitin yang tinggi terutama pada 3 minggu pertama menyusui, bahkan di dalam kolostrum kadar karnitin ini lebih tinggi lagi. Konsentrasi karnitin bayi yang mendapat ASI lebih tinggi dibandingkan bayi yang mendapat susu formula.

Vitamin

Vitamin K

Vitamin K dibutuhkan sebagai salah satu zat gizi yang berfungsi sebagai faktor pembekuan. Kadar vitamin K ASI hanya seperempatnya kadar dalam susu formula. Bayi yang hanya mendapat ASI berisiko untuk terjadi perdarahan, walapun angka kejadian perdarahan ini kecil. Oleh karena itu pada bayi baru lahir perlu diberikan vitamin K yang umumnya dalam bentuk suntikan.

Vitamin D

Seperti halnya vitamin K, ASI hanya mengandung sedikit vitamin D. Hal ini tidak perlu dikuatirkan karena dengan menjemur bayi pada pagi hari maka bayi akan mendapat tambahan vitamin D yang berasal dari sinar matahari. Sehingga pemberian ASI eksklusif ditambah dengan membiarkan bayi terpapar pada sinar matahari pagi akan mencegah bayi menderita penyakit tulang karena kekurangan vitamin D.

Vitamin E

Salah satu fungsi penting vitamin E adalah untuk ketahanan dinding sel darah merah. Kekurangan vitamin E dapat menyebabkan terjadinya kekurangan darah (anemia hemolitik). Keuntungan ASI adalah kandungan vitamin E nya tinggi terutama pada kolostrum dan ASI transisi awal.

Vitamin A

Selain berfungsi untuk kesehatan mata, vitamin A juga berfungsi untuk mendukung pembelahan sel, kekebalan tubuh, dan pertumbuhan. ASI mengandung dalam jumlah tinggi tidak saja vitamin A dan tetapi juga bahan bakunya yaitu beta karoten. Hal ini salah satu yang menerangkan mengapa bayi yang mendapat ASI mempunyai tumbuh kembang dan daya tahan tubuh yang baik.

Vitamin yang larut dalam air

Hampir semua vitamin yang larut dalam air seperti vitamin B, asam folat, vitamin C terdapat dalam ASI. Makanan yang dikonsumsi ibu berpengaruh terhadap kadar vitamin ini dalam ASI. Kadar vitamin B1 dan B2 cukup tinggi dalam ASI tetapi kadar vitamin B6, B12 dan asam folat mungkin rendah pada ibu dengan gizi kurang. Karena vitamin B6 dibutuhkan pada tahap awal perkembangan sistim syaraf maka pada ibu yang menyusui perlu ditambahkan vitamin ini. Sedangkan untuk vitamin B12 cukup di dapat dari makanan sehari-hari, kecuali ibu menyusui yang vegetarian.

Mineral

Tidak seperti vitamin, kadar mineral dalam ASI tidak begitu dipengaruhi oleh makanan yang dikonsumsi ibu dan tidak pula dipengaruhi oleh status gizi ibu. Mineral di dalam ASI mempunyai kualitas yang lebih baik dan lebih mudah diserap dibandingkan dengan mineral yang terdapat di dalam susu sapi.

Mineral utama yang terdapat di dalam ASI adalah kalsium yang mempunyai fungsi untuk pertumbuhan jaringan otot dan rangka, transmisi jaringan saraf dan pembekuan darah. Walaupun kadar kalsium ASI lebih rendah dari susu sapi, tapi tingkat penyerapannya lebih besar. Penyerapan kalsium ini dipengaruhi oleh kadar fosfor, magnesium, vitamin D dan lemak. Perbedaan kadar mineral dan jenis lemak diatas yang menyebabkan perbedaan tingkat penyerapan. Kekurangan kadar kalsium darah dan kejang otot lebih banyak ditemukan pada bayi yang mendapat susu formula dibandingkan bayi yang mendapat ASI.

Kandungan zat besi baik di dalam ASI maupun susu formula keduanya rendah serta bervariasi. Namun bayi yang mendapat ASI mempunyai risiko yang lebih kecil utnuk mengalami kekurangan zat besi dibanding dengan bayi yang mendapat susu formula. Hal ini disebabkan karena zat besi yang berasal dari ASI lebih mudah diserap, yaitu 20-50% dibandingkan hanya 4 -7% pada susu formula. Keadaan ini tidak perlu dikuatirkan karena dengan pemberian makanan padat yang mengandung zat besi mulai usia 6 bulan masalah kekurangan zat besi ini dapat diatasi.

 

Mineral zinc dibutuhkan oleh tubuh karena merupakan mineral yang banyak membantu berbagai proses metabolisme di dalam tubuh. Salah satu penyakit yang disebabkan oleh kekurangan mineral ini adalah acrodermatitis enterophatica dengan gejala kemerahan di kulit, diare kronis, gelisah dan gagal tumbuh. Kadar zincASI menurun cepat dalam waktu 3 bulan menyusui. Seperti halnya zat besi kandungan mineral zink ASI juga lebih rendah dari susu formula, tetapi tingkat penyerapan lebih baik. Penyerapan zinc terdapat di dalam ASI, susu sapi dan susu formula berturut-turut 60%, 43-50% dan 27-32%. Mineral yang juga tinggi kadarnya dalam ASI dibandingkan susu formula adalah selenium, yang sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan cepat.

ASI dan perkembangan ketrampilan makan

Bayi mengalami pengalaman pertama tentang rasa makanan sejak masih dalam kandungan. Rasa cairan ketuban berubah-ubah bergantung jenis makanan yang dikonsumsi oleh ibu. Rasa dari makanan yang dikonsumsi oleh ibu selama kehamilan di salurkan ke cairan ketuban yang tidak hanya dirasakan oleh janin tetapi juga meningkatkan penerimaan dan kenikmatan bayi pada saat masa penyapihan ASI. Kemampuan bayi untuk mengetahui dan menerima rasa dan selera berkembang setelah lahir. Oleh karena itu pengalaman pertama terhadap rasa dan selera mempunyai dampak terhadap penerimaan rasa dan selera pada masa bayi dan anak. Telah diketahui sejak lama bahwa bayi yang terpapar dengan rasa dalam ASI akan meningkatkan penerimaan rasa tersebut sehingga mempercepat keberhasilan penyapihan. Beberapa bayi yang mendapat ASI lebih dapat menerima sayur-sayuran pada pemberian pertama dibandingkan dengan bayi yang mendapat susu formula. Anak yang diberikan ASI paling sedikit 6 bulan juga lebih jarang mengalami kesulitan makan (picky eaters), sepanjang cara pemberian ASInya benar.

 

Penulis : Aryono Hendarto dan Keumala Pringgadini

Sumber : Buku Bedah ASI

1 2 3 4 5 9