Terapi Sensori Integrasi

Anak normal atau anak sehat sebagian besar juga mengalami masalah gangguan perilaku, gangguan konsentrasi, gangguan emosi dan gangguan perilaku lainnya. Meski dalam keadaan yang lebih ringan dibandingkan Autisme dan ADHD tetapi sering menanggu dan seringdikeluhakan orangtua kepada dokter. Bahkan sebagian klinisi menyikapi esacar berbeda. Ada yang menganggap normal tak perlu dikawatirkan tetapi ada juga yang menganggap berlebihan sehingga mencemaskan orangtua. Kadang sebagian anak norma ini sering didiagniosis ADHD atau Autism meski anak dalam keadaan normal. Hal ini sulit dihindari karena bila tidka cermat tanda dan gejalanya mirip gangguan tersebut.

Sensori integrasi

Sensori integrasi sendiri adalah sebuah proses otak alamiah yang tidak disadari. Dalam proses ini informasi dari seluruh indera akan dikelola kemudia diberi arti lalu disaring, mana yang penting dan mana yang diacuhkan. Proses ini memungkinkan kita untuk berprilaku sesuai dengan pengalaman dan merupakan dasar bagi kemampuan akademik dan prilaku sosial.

Sensori integrasi merupakan teori dan metode yang membantu memberikan penjelasan pada beberapa prilaku yang dimunculkan pada anak berkebutuhan khusus berhubungan dengan permasalahan proses sensori yang terjadi. Serta memberikan strategi penanganan yang dapat dilakukan di pusat terapi, rumah dan sekolah secara tepat..

Setiap detik, menit dan jam tak terhitung berapa banyak informasi sensori yang masuk kedalam tubuh manusia seperti aliran air sungai yang tak hentinya. Tidak hanya dari telinga dan mata, tapi dari seluruh bagian tubuh. Sang anak harus mampu untuk mengatur seluruh sensori tersebut jika seseorang ingin bergerak, belajar dan berprilaku. Sensori tersebut memberikan informasi tentang kondisi fisik tubuh dan lingkungan disekitar.

Kesulitan belajar yang disebabkan masalah pada sensori integrasi membuat sang siswa kesulitan mengatur informasi yang masuk yang membuatnya sulit untuk berkonsentrasi dan menyerap materi pelajaran. Sehingga memunculkan beberapa prilaku yang bersifat spesifik terhadap masalah pengintegrasian sensorinya.

Berdasarkan teori bahwa proses pengintegrasian sensori berada di otak yang mengatur jalur informasi sensori yang kemudian diproses hingga akhirnya menjadi respon atas situasi yang terjadi di lingkungan. Otak dalam hal ini berperan sebagai polisi yang mengatur lalu lintas informasi sensori sehingga dapat diproses secara efisien.

Sensori Integrasi dalam hal ini berperan menemukan jawaban kesulitan sang siswa selama proses belajar di sekolah yang berhubungan dengan masalah pada proses sensori. Penanganan dilakukan dengan melakukan pemeriksaan karakteristik dan keunikan yang dimiliki dengan masalah yang saat ini dihadapi.

Dengan sebuah keyakinan bahwa “setiap anak memiliki potensi yang perlu dikembangkan”, sensori integrasi melakukan penanganan dengan media permainan yang memiliki efek terapuetik sehingga masalah yang dihadapi saat disekolah dapat diatasi

Ada 7 sistem indera yang menjadi perhatian dalam Sensori integrasi yakni, pengelihatan, pendengaran, perasa, penciuman, taktil (perabaan) , vestibular (kesigapan tubuh), dan proprioseptif (posisi dalam ruang).

  • Organ vestibular terletak di mata, kanal dalam telinga, dan otak kecil. Fungsinya sebagai pengatur informasi dan pengatur kesigapan dan keseimbangan gerak tubuh. Bila organ ini bekerja baik, kita dapat dengan mudah mengatur gerak tubuh ke arah atas-bawah, kanan-kiri, depan-belakang dan membedakannya dengan baik.
  • Sistem proprioseptif adalah otot, sendi, dan ligamen. Sistem indera ini juga membantu kita dalam bergerak dan menyesuaikan posisi di dalam ruang.

Proses sensori integrasi terjadi secara bertahap, kegagalan di satu tahap akan berpengaruh pada tahap berikutnya. Anak yang optimal dalam proses sensori integrasi akan memiliki kemampuan komunikasi, kemampuan mengatur, harga diri, kepercayaan diri, kemampuan akademik, kemampuan berfikir abstrak dan penalaran, serta spesialisasi setiap sisi tubuh dan otak. Hasil akhir proses sensrori integrasi tersebut baru tercapai saat anak mulai usia SD.

Pada kebanyakan anak, perkembangan dari proses S.I. ini terjadi secara ilmiah ketika anak-anak ini melakukan berbagai aktifitas sehari-hari sejak masa bayi samapi dia siap untuk bersekolah. bila proses S.I. ini berfungsi dengan baik, maka otak dapat berkembang dengan baik, sehingga pada usia sekolah, si anak akan mempu :

  • memberikan reaksi yang baik terhadap berbagai informasi sensorik yang biasa diterima oleh anak sekolah.
  • menunjukan tingkat perkembangan sensori-motor, kognitif, emosi, dan sosialisasi yang sesuai dengan umurnya
  • menghadapi berbagai tuntutan akademis yang selalu bertambah sejalan dengan bertambahnya umur anak.

Dilain pihak, anak-anak yang mengalami gangguan dalam perkembangan Sensory Integration, dengan perkataan lain mengalami masalah Sensory Integration biasanya menunjukan berbagai masalah dalam belajar dan/atau perilaku. Anak-anak ini mungkin memperlihatkan satu atau lebih dari gejala-gejala dibawah ini :

  • hambatan prestasi sekolah
  • kurang percaya diri
  • masalah emosi dan/atau sosialisasi
  • tampak terlalu aktif ataupun terlalu pendiam
  • perhatiannya mudah teralih
  • kurang dapat mengontrol diri
  • terlalu peka atau kurang peka terhadap sentuhan, gerakan, suara, dsb.
  • gerakannya tampak kikuk tidak luwes atau tampak serampangan
  • hambatan pada perkembangan keterampailan motorik ,bicara ,dan / atau pengertian bahasa
  • kadang-kadang tamapak tidak perduli pada orang sekitarnya

Bila seorang anak menunjukan beberapa gejala gangguan sensory integration seperti yang telah diuraikan di atas, seringkali orang tuanya menanyakan mengenai penyebabnya. Pada saat ini penyebab gangguan sensory integration pada seorang anak tertentu biasanya sulit untuk ditujukan dengan pasti.

Pada umumnya masalah sensory integration ditemukan pada anak-anak yang mengalami masalah perkembangan seperti ADHD, Gangguan Perkembangan Pervasif (meliputi Autisme, Sindroma Asperger, dan Multi System Developmental Disorder), Gangguan Belajar, Gangguan perkembangan bahasa, dsb. Pada anak-anak tersebut, masalah sensory integration ditemukan menyertai masalah perkembangan yang utama (yang mendapat diagnosa medik).

Pada anak-anak dibawah tiga tahun kadang-kadang ditemukan sekumpulan masalah perilaku yang sangat erat kaitannya dengan kemampuan otak anak Anak-anak yang mempunyai masalah registrasi input sensorik, sulit memahami hal-hal yang terjadi, karena otaknya dari waktu ke waktu tidak dapat meregister input sensorik yang diterima oleh alat-alat inderanya. Dengan terapi sensory integration anak-anak ini akan dibantu untuk dapat meregister, memproses dan memahami berbagai input sensorik, sehingga dia akan lebih mengerti apa-apa yang terjadi di sekitarnya, dan bagaimana dia harus memberikan reaksi yang sesuai. Pada anak-anak di bawah 3 tahun, terapi sensory integration membuat mereka dapat melakukan eksplorasi dengan lebih bermakna; baik dalam lingkungan fisik maupun terhadap lingkungan sosial. Hal ini dimungkinkan karena dia jadi mampu melakukan analisa terhadap input-input sensorik yang dihadapinya, dengan lebih tepat. Hal ini berkaitan pula denga masalah modulasi yang sering disertai dengan masalah dalam memustakan perhatian. Setelah mengikuti sensory integration, anak-anak yang perhatiannya mudah teralih dan sulit untuk memusatkan perhatian akan menunjukan peningkatan kemampuan untuk memusatkan perhatian. Maka dia lebih mampu menyimak , mencerna dan memahami hal-hal yang ada disekitarnya.

Apakah Terapi Wicara itu?

Wicara dan Bahasa adalah sebuah sistem komunikasi yang dipakai untuk mengungkapkan dan mengerti proses berpikir yang mempergunakan simbul akustik.

Sistim ini dihasilkan oleh :

  • Adanya getaran/vibrasi dari pita suara dalam laring (ponasi)
  • Adanya aliran udara (respirasi)
  • Memberikan hasil akhir dalam bentuk gerakan bibir, lidah dan palatum (artikulasi)

Gangguan bicara adalah gangguan neuromuskuler yang di butuhkan untuk fonasi, respirasi, artikulasi, lapal dan prosodi

  • Adanya gangguan artikulasi
  • Adanya gangguan suara
  • Adanya gangguan fluensi (kelancaran)

Tahap perkembangan bahasa

  • Reflexive Vocalization : suara refleks bayi lahir sampai usia 1 bulan, sudah ada perbedaan saat lapar, popok basah ataupun digigit nyamuk
  • Babbling : sampai usia 2 bulan. Mengulangi bunyi pa pa pa atau da da da
  • Lalling : usia 6 bulan, bayi akan mengeluarkan bunyi-bunyi “suku kata” tanpa makna.
  • Echolalia : bayi usia 9-10 bulan terjadi tahap pengulangan suku kata atau kata, cenderung mengulang kata dari lingkungannya.
  • True Speech : pada tahap ini, bayi usia 12-18 bulan sudah dapat bicara benar, walaupun kadang artikulasinya masih kurang baik. Contohnya bing = mobil.

Gangguan bahasa menunjukkan adanya gangguan dalam memahami serta menggunakan lambang/simbol bahasa, baik secara lisan maupun tulisan sehingga menghambat kemampuan untuk berkomunikasi dengan lingkungannya.

Penyebab :

  • Kelainan Organ Bicara, misalnya kelainan gigi dan mandibuka, tali lidah yang pendek, palatoshiziz/Cleft Palatae, kelainan laring
  • Gangguan pendengaran, misalnya kelainan bawaan dan bisa juga didapat pada masa perkembangan
  • Retardasi Mental
  • Genetik Herediter dan Kelainan Kromosom
  • Autisme
  • Mutism Selektif
  • Deprivasi Lingkungan, misalnya lingkungan yang sepi, status ekonomi sosial, tehnik pengajaran yang salah
  • Sikap orang tua atau orang lain di lingkungan rumah yang tidak menyenangkan
  • Harapan orang tua yang berlebihan terhadap anak
  • Anak kembar
  • Bilingual
  • Gangguan emosi dan perilaku lainnya

Apa yang harus dipikirkan pada saat anak diperkirakan terlambat bicara dan bahasa

  • Periksa modalitas anak
  • Periksa apakah ada kemungkinan terganggunya produksi suara
  • Apakah ada gangguan pendengaran
  • Apakah ada gangguan masalah dalam perilaku
  • Apakah ada masalah dalam kemampuan kognitifnya

 

Apa yang harus dilakukan orang tua

  • Konsultasi pada ahlinya yang sesuai kompetensinya
  • Semakin dini akan lebih cepat intervensi sesuai kebutuhannya

Klinik Tumbuh Kembang Anak Lalita

Merupakan tempat yang tepat untuk memeriksakan kondisi tumbuh kembang sang buah hati.

Melayani:
1. Pemeriksaan oleh Dokter Anak Konsultan Tumbuh Kembang
2. Pemeriksaan oleh Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi
3. Fisioterapi
4. Terapi Wicara
5. Okupasi Terapi
6. Terapi Sensori Integrasi
7. Baby Massage
Klinik Tumbuh Kembang Lalita
Kompleks Ruko Emerald No. UG-29, Summarecon Bekasi
Call/WA : 021-292 855 47/0813 1607 9477
www.kliniklalita.com

Fisioterapi Pada Gangguan Perkembangan

Pertumbuhan dalam seorang anak adalah meningkatnya ukuran fisik tubuh anak, seperti berat badan, tinggi badan, lingkaran kepala.

Perkembangan dalam seorang anak adalah meningkatnya kemampuan dan ketrampilan anak, seperti kemampuan gerak kasar, gerak halus, personal sosial, bahasa.

Problematik Fisioterapi pada gangguan perkembangan ialah mencari keterlambatan perkembangan motorik kasar, motorik halus, refleks primitif dan respon tubuh fisiologis. Keterlambatan perkembangan ialah apabila anak tidak mampu mencapai perkembangan sesuai dengan umur anak.

Tahapan perkembangan motorik kasar

Bayi baru lahir                    : tonus fleksor dominan, pada telungkup kepala menoleh kesatu sisi, refleks jalan otomatis, bila didudukkan punggung melengkung.

Umur 1 bulan                     : pada posisi ditelungkupkan dapat mengangkat kepala sebentar.

Umur 2 bulan                     : pada posisi telungkup dapat mengangkat kepala 45 derajat.

Umur 3 – 4 bulan              : dari telentang dapat telungkup sendiri, pada posisi telungkup kepala 90 derajat,  dada tertumpu  pada lengan bawah, kepala terangkat bila pada posisi ditarik untuk duduk.

Umur 5 – 6 bulan              : dari telungkup ketelentang. Pada posisi telungkup mengangkat dada dengan kedua lengan lurus.

Umur 6 – 7 bulan              : mampu didudukkan, tungkai lurus menyangga berat badan bila diberdirikan, memasukkan kaki ke mulut.

Umur 8 – 9 bulan              : merayap ( merangkak pada perut ), duduk dari posisi berbaring

Umur 10 – 11 bulan         : merangkak, duduk berputar, berdiri sebentar.

Umur 12 –14 bulan          : jalan dipegang dengan 1 tangan

Umur 15 – 16 bulan         : berjalan sendiri

Umur 17 – 18 bulan         : berjalan mundur, duduk sendiri di kursi

Umur 19 – 20 bulan         : berjalan ke samping, naik tangga dengan dipegang

Umur 21 – 22 bulan         : turun tangga dengan dipegangi, jongkok waktu bermain

Umur 2 tahun                    : lari

Umur 2,5 tahun                : meloncat pada 1 kaki

Umur 3 tahun                    : naik tangga dengan bergantian, mengendarai sepeda roda tiga

Umur 4 tahun                    : menuruni tangga dengan kaki bergantian

Umur 5 tahun                    : berjalan jinjit

Umur 6 tahun                    : mengendarai sepeda roda 2

Tahapan perkembangan motorik halus

Bayi baru lahir                    : tangan mengepal, reflek menggenggam

Umur 1 bulan                     : gerakan lengan simetris

Umur 2 bulan                     : gerakan tangan bersamaan

Umur 3 – 4 bulan              : tangan sering terbuka bermain dengan tangan

Umur 5 – 6 bulan              : memegang 2 kubus

Umur 6 – 7 bulan              : memindahkan kubus dari satu tangan ketangan yang lain

Umur 8 – 9 bulan              : lateral tip

Umur 10 – 11 bulan         : mengambil benda yang kecil ( butir nasi ) dengan telunjuk dan ibu jari

Umur 12 – 14 bulan         : menyusun 2 kubus

Umur 15 – 16 bulan         : melempar benda

Umur 17 – 18 bulan         : menyusun 4 kubus, memegang dengan seluruh telapak tangan.

Umur 19 – 20 bulan         : menendang bola

Umur 21 – 22 bulan         : menyusun kubus terdiri dari 5 – 6 buah

Umur 2 tahun                    : menyusun kubus 8, meniru garis tegak, menggambar dengan gerak lengan

 

Tahapan Pemberian Makanan Pendamping Asi Berdasarkan Rentang Usia

Ayah dan Bunda perlu memerhatikan waktu pemberian, frekuensi, porsi atau jumlah, jenis atau pemilihan bahan makanan dan sebagainya agar kebutuhan gizi terpenuhi, tentunya pemberian MPASI dilakukan secara bertahap, sesuai dengan tingkat usia bayi. Dimulai dari makanan berstektur lunak (seperti bubur susu, lalu bubur saring), lembek (bubur biasa, lalu nasi tim), hingga padat (nasi biasa/makanan keluarga).

Penting orangtua mengetahui urutan-urutan untuk memperkenalkan makanan pendamping ASI pada bayi. Memperkenalkan satu persatu jenis makanan dengan urutan yang benar bertujuan agar ia dapat menerima semua jenis makanan tersebut dengan baik.

Berikut ini tahapan pemberian MPASI berdasarkan rentang usia

Pemberian MPASI berguna untuk merangsang tumbuhnya gigi, melatih kemampuan motorik yaitu saat ini memegang makanan sendiri (finger good).Untuk tahap awal, bayi diberikan makanan lunak dan cair seperti bubur susu dan biskuit. Bubur susu dapat dibuat dari tepung beras yang dicampur dengan ASI. Selingi dengan tepung beras merah, kacang hijau, atau labu kuning. Berikan dalam jumlah sedikit, lalu secara bertahap kentalkan dan tambah jumlahnya. Kenalkan makanan satu demi satu pada bayi, hindari dicampur. Tunggu beberapa hari untuk mengenalkan makanan baru lainnya. Ini untuk melihat apakah bayi alergi terhadap makanan itu atau tidak.

Kemudian bayi dapat diberikan buah-buahan seperti pisang raja, pisang ambon, jeruk, labu dan papaya. Pilih buah yang baik dan tak bergetah untuk menghindari diare. Buat jus dengan campuran susu atau buah dikonsumsi sebanyak dua sendok makan sekali makan dan dua kali sehari. Setiap jenis buah diberikan 2-3 hari berturut-turut agar si kecil mengenal rasanya. Selanjutnya dikenalkan buah lain.

Setelah ia mengenal rasa buah, kemudian ditambahkan bubur susu. Beri ia satu kali buah lumat dan satu kali bubur susu. Gunakan sendok kecil untuk menyuapkan bubur. Bila ia enggak makan, hindari memaksa tapi coba bujuk sehingga ia kembali mau makan atau tunda di waktu lain ketika ia merasa lapar.

Kemudian pada usia 7 bulan, selain bubur susu dan buah, mulai diberi bubur saring. Pilih bahan makanan sumber karbohidrat, seperti beras, kentang, makaroni, kacang hijau, atau roti. Lalu dilengkapi protein hewani maupun nabati serta sayuran. Protein hewani bisa didapat dari kuning telur. Campur bahan-bahan tersebut, lalu diblender agar halus atau diulek di atas saringan. Untuk tahap awal, berikan 2 sendok makan sekali makan untuk 2-3 kali sehari. Selanjutnya tingkatkan jumlahnya sampai setidaknya 7 sendok makan.

Berikut Contoh Jadwal MPASI bagi usia 6-7 bulan :

Pukul 06.00-07.00 atau setelah bangun tidur ASI
Pukul 09.00 : bubur susu
Pukul 11.00-12.00 : buah
Pukul 14.00 : bubur susu
Pukul 17.00 : buah atau biskuit yang dicampur susu
Pukul 18:00 : ASI

Usia 8-9 bulan :

Saat ini pencernaan bayi sudah lebih kuat dan bisa dikenalkan dengan makanan yang lebih padat. Selain bubur susu berbahan buah atau tepung, lengkapi dengan bubur saring. Pada tahap usia ini dapat diberikan bubur dengan jumlah pemberian minimal 8 sendok makan untuk sekali makan. Kenalkan makanan selingan seperti bubur kacang hijau, pudding dari susu dan buah atau biskuit dan lainnya.

Lalu, secara bertahap tambahkan kandungan gizi dalam bubur dengan zat lemak seperti santan, margarin, atau minyak kelapa. Lemak dapat menambah kalori makanan, juga memberi rasa gurih dan mempertinggi penyerapan vitamin A serta zat gizi lain yang larut dalam lemak. Selain telur, sumber protein hewani bisa didapat dari daging ayam atau daging sapi, serta ikan. Variasikan bahan makanan secara bergantian sehingga si kecil terhindar dari masalah sulit makan seperti hanya mau makan dengan menu tertentu atau pilih-pilih makanan.

Berikut contoh Jadwal MPASI usia 8-9 bulan:

Pukul 06.00-07.00 atau setelah bangun tidur: ASI
Pukul 09.00 : bubur susu (berbahan buah atau tepung)
Pukul 11.00-12.00 : bubur saring
Pukul 14.00 : bubur susu (berbahan buah, tepung atau biskuit)
Pukul 17.00 : bubur saring
Pukul 18:00 : ASI

Usia 10-12 bulan

Si kecil mampu mencerna makanan semi padat berupa nasi tim. Kenalkan pada makanan keluarga secara bertahap. Bentuk dan kepadatan nasi tim diatur secara berangsur mendekati makanan keluarga. Nasi tim dibuat dari beras dan dilengkapi protein hewani dan nabati: ikan, hati ayam, ceker ayam, tempe, tahu, telur, daging ayam dan sapi, serta sayur-sayuran. Tambahkan bumbu alami dalam nasi tim, misalnya ikan ditumis dengan bawang putih dan mentega, sayur sup dimasak dengan bawang merah, bawang putih, dan daun bawang.

Campurkan ke dalam makanan lembek lauk pauk dan sayuran secara bergantian.Lauk pauk sebaiknya diolah terpisah. Karena bila dicampur, lalu dihangatkan berulang-ulang, maka gizinya akan berkurang. Berikan makanan selingan bergizi seperti bubur kacang hijau, biskuit, atau buah-buahan seperti pisang, jeruk dan pepaya. Jadi perkenalkan dengan beraneka ragam makanan.. Pengenalan berbagai bahan makanan sejak dini akan berpengaruh baik terhadap kebiasaan makan yang sehat di kemudian hari.

Berikut contoh Jadwal MPASI bagi usia 10-12 bulan :

Pukul 06.00 atau setelah bangun tidur: ASI
Pukul 08.00 : bubur susu
Pukul 10.00 : buah atau biskuit
Pukul 12.00 : nasi tim
Pukul 13.00 : ASI
Pukul 14:00 : biskuit
Pukul 16.00 : ASI
Pukul 18:00 : nasi tim
Pukul 19:00 : ASI

Sekilas Tentang Obesitas Pada Buah Hati

Obesitas disebut juga kegemukan atau kelebihan berat badan. Ketika buah hati terlihat gemuk (obes), kerap orangtua menjadi senang dan bahagia karena merasa bahwa buah hati tidak mengalami kesulitan makan dan mendapatkan gizi yang cukup.

Seiring dengan pertambahan usia anak hingga remaja, berat badan tidak berkurang, tanda-tanda obesitas makin terlihat jelas dan akhirnya orangtua menyadari ada yang salah dengan kondisi ini. Nah, agar ini tidak terjadi, pahamilah obesitas sejak anak masih kecil.

Cara mudah mengetahui anak mengalami obesitas adalah dengan melihat bentuk pipi yang tembem, dagu rangkap, leher tampak pendek, perut membuncit dan berlipat-lipat, payudara membesar, kedua tungkai umumnya berbentuk x, paha dalam saling menempel dan pada anak-laki-laki penis tampak kecil dan terbenam.

Selain itu anak seringkali tidur mengorok, tidur tidak nyenyak karena sering terbangun pada malam hari, dan berkurangnya konsentrasi belajar di sekolah. Anak disebut obes jika berat badan menurut tinggi badan berada pada +3 danoverweight +2 menurut kriteria WHO 2006.

Indeks massa tubuh pada anak obes usia dibawah 5 tahun berada diatas sama dengan +3 pada kurva WHO 2006 dan pada anak usia diatas sama dengan 5 tahun lebih dari +2 simpang baku pada kurva WHO 2007.1

Obesitas dapat terjadi pada siapa saja dan pada semua umur. Obesitas pada anak dapat dimulai sejak usia balita hingga remaja. Obesitas terjadi karena ketidakseimbangan antara asupan makanan berupa energi yang dihasilkan dengan energi yang dikeluarkan. Kelebihan energi yang ada akan disimpan dalam bentuk jaringan lemak diseluruh tubuh.

Selain asupan makanan yang berlebihan, pengeluaran energi yang kurang disebabkan karena kurangnya aktifitas fisik, rendahnya metabolisme tubuh, dan rendahnya pemecahan jenis makanan tertentu seperti makanan yang banyak mengandung lemak dibandingkan makanan dari sumber karbohidrat dan protein.

Asupan makanan yang berlebih merupakan penyebab utama obesitas (sering disebut sebagai obesitas primer atau nutrisional) dan sisanya sekitar 10% oleh karena kelainan hormon, sindrom atau kerusakan gen (obesitas sekunder atau non-nutrisional).
Dampak fisik obesitas pada anak dapat menyebabkan kesakitan, kematian dan mengenai seluruh organ.

Penyakit kardiovaskular, hipertensi, stroke, diabetes, perlemakan hati, infeksi jamur dan kulit, gangguan panggul dan lutut, kista ovarium hingga gejala sesak atau asma, merupakan penyakit yang sering ditemui pada obesitas.

Dampak psikososial anak menjadi minder, depresi karena bentuk tubuhnya, bau badan yang kurang sedap, kesulitan gerak dan berisiko tinggi mendapat perlakuan bully baik verbal maupun fisik di sekolah.

Cara mencegah anak menjadi obes adalah dengan menjaga pola hidup sehat sedari dini, meneruskan pemberian ASI, makanan yang seimbang gizi dan kalorinya, mengurangi camilan dan makanan manis, memperbanyak aktifitas fisik dengan berlari, bersepeda, berenang, senam dan permainan lain yang banyak menggunakan gerakan motorik atau aerobic, serta membatasi waktu menonton televisi dan penggunaan media elektronik hingga 1-2 jam/hari.

Jika memang anak sudah menderita obes, maka berbagai hal berikut ini perlu dilakukan agar berat badannya dapat menjadi ideal kembali:

  • Menerapkan pola makan yang sehat dan gizi seimbang
  • Menggantikan camilan tinggi kalori dengan buah-buahan segar dan air piutih diantara jadwal makanan utama dan camilan
  • Memperbanyak aktifitas fisik, mengurangi bermain permainan di komputer atau menonton televisi dan modifikasi perilaku orangtua sebagai panutan
  • Motivasi buah hati untuk menurunkan berat badannya dengan pola hidup sehat
  • Beri target untuk menurunkan berat badan 0,5 kg dalam seminggu atau turun mencapai 20% diatas berat badan ideal atau cukup dipertahankan karena pertumbuhan linier (tinggi badan) masih berlangsung
  • Ajak anak banyak berjalan kaki dan berolahraga bersama
  • Ajak anak mengkonsumsi makanan sehat.

Pilih jenis makanan sehat yang disukai dan dapat diterima anak serta memperbanyak asupan berupa sayur mayor dan buah-buahan.

Serat akan cepat mengenyangkan, mengurangi rasa lapar dan meningkatkan pemecahan lemak. Panduan makanan berupa traffic light diet dapat diterapkan. Buah dan sayur termasuk green food pada traffic light diet yaitu dapat dikonsumsi setiap hari, tinggi vitamin, mineral dan serat.

Green food lainnya mengandung rendah lemak, rendah gula dan garam berupa daging tanpa lemak, ikan, kacang-kacangan, roti gandum, susu rendah lemak dan air. Yellow food/makanan yang boleh dikonsumsi dalam porsi kecil, tetapi tidak dianjurkan untuk dikonsumsi setiap hari yaitu daging olahan rendah lemak dan garam, produk roti dan sereal olahan, susu tinggi lemak, kue dan biskuit rendah lemak dan gula.

Red food adalah makanan yang boleh dikonsumsi 1x/minggu yaitu makanan yang mengandung rendah vitamin dan mineral tetapi tinggi kalori, lemak jenuh, gula dan garam, berupa gorengan, daging olahan tinggi lemak, kue, minuman manis dan coklat

  • Beri dorongan dan pujian terhadap setiap keberhasilan anak dalam perilaku sehat yang berhasil dilakukannya
  • Libatkan juga anggota keluarga yang lain serta guru dan teman di sekolah untuk menghilangkan obesitas.

Bila memang anak mengalami obesitas, sebaiknya kunjungi dokter anak anda, konsultasikan masalah nutrisi, aktifitas fisik, dan dampak psikis yang terjadi. Dokter anak akan memberi panduan makanan dan perhitungan kalori yang sesuai serta aktifitas fisik yang disarankan.

Terapi obat maupun bedah (gastric binding) hanya diberikan pada kondisi khusus dan keputusan tersebut harus dilakukan dengan hati-hati karena prinsip penanganan obesitas pada anak bukanlah obat maupun terapi bedah.

Terapi ini hanya dapat diberikan pada anak dan remaja obes yang telah berusia diatas sama dengan 13 tahun untuk anak perempuan dan diatas sama dengan 15 tahun untuk anak laki-laki, mengalami komplikasi obesitas yang berat dan tidak memberikan respon yang baik terhadap pemberian pola makan, aktifitas fisik dan perubahan perilaku yang benar.

Penulis : Dr. Fransiska Farah,SpA,Mkes
Reviewer : Dr.Titis Prawitasari,Sp.A(K)
Ikatan Dokter Anak Indonesia

Mengenal Lutut dan Kaki Bengkok Pada Bayi

Orang tua sering cemas ketika menyadari kaki atau lutut bayinya bengkok. Tidak sedikit yang datang ke dokter karena keluhan bayinya dengan lutut bengkok. Ada juga mitos yang menyebutkan bahwa lutut bengkok pada bayi akibat tidak dibedong. Apakah lutut bengkok pada bayi normal ? dan benarkan mitos tersebut?

Tahukah Anda bahwa sebenarnya semua bayi lahir ke dunia dengan lutut bengkok, yaitu kedua tumit saling mendekat dan kedua lutut saling menjauh sehingga terlihat seperti huruf O.

Normalnya, bayi terlahir dengan keadaan lutut bengkok sampai usia 3 tahun. Orang tua biasanya menyadari bahwa lutut anaknya bengkok saat anak berusia 12-18 bulan yaitu ketika anak mulai belajar berjalan.

Nah, jadi jika Anda memiliki bayi dengan lutut bengkok kemungkinan besar merupakan hal yang normal. Namun, ada juga lutut bengkok pada bayi yang disebabkan oleh kelainan medis, misalnya blount disease,cerebral palsy, penyakit riketsia, atau skeletal dysplasia yang membutuhkan penanganan medis lebih lanjut.

Oleh karena itu, orang tua harus mengetahui tanda bahaya lutut bengkok pada bayi. Jika terdapat salah satu tanda bahaya lutut bengkok pada bayi, sebaiknya orang tua datang ke dokter untuk berkonsultasi lebih lanjut.

Apa saja tanda bahaya lutut bengkok pada bayi?

  • Lutut bayi masih bengkok sampai di atas usia 3 tahun
  • Bengkok lututnya tidak simetris, yaitu ada sisi baik kanan maupun kiri yang lebih bengkok.
  • Progresif, yaitu semakin bertambahnya usia, semakin terlihat bengkok. Mengetahui apakah lutut bayi semakin bengkok atau tidak, dapat dilakukan oleh orang tua.

Caranya adalah dengan merekam anak saat berjalan. Anak direkam saat berjalan mendekati dan menjauhi orang tuanya. Video berfokus pada gerakan ibu jari kaki, lutut dan panggul. Orang tua sebaiknya merekam cara berjalan anak ini minimal 6 bulan sekali. Anak memakai pampers atau celana pendek saat direkam sehingga terlihat ibu jari dan lututnya.

  • Lutut bayi terlihat sangat bengkok, yaitu sudut antara tulang paha dan betis lebih dari 15 derajat.
  • Adanya gangguan aktivitas, misalnya terlihat anak lebih dominan menggunakan kaki kanan.
  • Lutut bengkok disertai dengan perawakan pendek.
  • Jika bayi Anda dengan lutut bengkok dan memiliki salah satu tanda bahaya dari 6 hal yang disebutkan di atas disarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter.

Lalu, benarkah bedong dapat mencegah lutut bengkok pada bayi?

Di atas sudah disebutkan dengan jelas bahwa baik dibedong atau pun tidak, secara normal seluruh bayi lahir dengan lutut bengkok. Jadi, bedong tidak bermanfaat untuk meluruskan lutut.

Bedong pada bayi yang terlalu kencang dan kuat justru dapat menyebabkan panggul bergeser. Jika anda sudah terbiasa membedong bayi anda dengan alasan supaya bayi lebih hangat boleh saja asalkan saat dibedong panggul bayi tetap dapat bergerak bebas.

Selain lutut bengkok, pada bayi juga sering ditemui kaki bengkok. Kaki bengkok pada bayi yaitu daerah kaki dari mulai pergelangan kaki hingga ke bawah memutar atau bengkok ke arah dalam.

Dalam bahasa medis disebut dengan club foot. Kaki bengkok atau club foot merupakan keadaan yang sudah ada sejak lahir.

Mengapa ada bayi yang lahir dengan kaki bengkok?

Kaki bengkok pada bayi baru lahir bisa merupakan kondisi postural atau bisa juga merupakan kelainan struktural.

Pada clubfoot postural kaki bengkok pada bayi disebabkan oleh karena posisi bayi di dalam rahim si ibu. Biasanya bayi yang lahir sebagai anak pertama dengan ukuran besar.

Pada keadaan ini tidak ada kelainan struktural pada kaki bayi. Jika tidak ada kelainan struktural, kaki bengkok akan membaik dalam waktu 2 sampai 3 minggu.

Pada kasus clubfoot yang merupakan kelainan structural dibutuhkan pertolongan medis. World Health Organization(WHO) telah menyatakan bahwa penatalaksaan structural clubfoot yang mengikuti metode Ponseti dapat mencapai angka keberhasilan 98% bila dilakukan secara dini, dilakukan oleh dokter yang kompeten, tidak ada gangguan tumbuh kembang dan dilakukan dengan melaksanakan seluruh protokal metode Ponseti dengan paripurna.

Protokol Ponseti adalah koreksi kelainan bentuk pada kaki depan dan tengah dengan menggunakan gips serta bila perlu melakukan operasi dengan sayatan 1 cm untuk koreksi kaki belakang. Protokol Ponseti juga mensyaratkan pemakaian sepatu Dennis Browne selama 23 jam pada 3 bulan pertama dan pemakaian sepatu Dennis Browne selama 12 jam sejak usia 4 bulan sampai 4 tahun.

Pemakaian sepatu 12 jam artinya sepatu hanya dipakai malam hari si anak tidur, sedangkan siang hari si anak bebas beraktifitas tanpa sepatu khusus.
Bagaimana cara membedakan kaki bengkok pada bayi yang disebabkan oleh kelainan struktur dan yang bukan karena kelainan struktur?

Pada kaki bengkok akibat posisi dalam rahim, ketika telapak kaki bayi disentuh dengan halus atau dirangsang maka bengkoknya akan berkurang sedangkan pada kelainan struktur, bengkok tidak akan berkurang walaupun diberikan rangsangan pada telapak kaki bayi.

Penulis : Dr.Lina Ninditya
Narasumber : DR.Dr.Aryadi Kurniawan,Sp.OT (K)
*tulisan berdasarkan wawancara dengan DR.Dr.Aryadi Kurniawan,Sp.OT(K) pada tanggal 7 Juni 2016 di Departemen Orthopedi dan Traumatologi RSCM.

Warna Tinja, Apakah Berhubungan Dengan Penyakit?

Warna tinja normal pada bayi dan anak secara umum adalah kuning atau cokelat yang disebabkan oleh sterkobilin, yaitu bagian dari empedu yang dikeluarkan lewat tinja.

Jadi, yang mewarnai tinja kita adalah empedu yang diproduksi oleh hati, disimpan di kantong empedu, lalu disalurkan ke usus halus lewat saluran empedu (duktus koledokus).

Oleh karena itu, gangguan dari saluran empedu dan hati dapat mempengaruhi warna tinja. Pada anak yang mendapat susu formula tidak jarang tinjanya berwarna kehijauan. Apabila seorang anak memperlihatkan warna tinjanya di luar seperti yang disebutkan di atas, perlu dipikirkan kemungkinan adanya suatu kelainan.

Tinja yang berwarna kehijauan, pada bayi dapat disebabkan karena warna empedu. Pada keadaan normal, makanan saat berada di usus halus akan bercampur dengan empedu. Makanan tersebut kemudian akan mengalami penyerapan dan sisanya akan diteruskan ke usus besar.

Di usus besar, tinja kemudian mengalami suatu proses yang akhirnya akan menyebabkan perubahan warna menjadi kuning atau cokelat. Bila tinja di usus besar hanya singgah dalam waktu yang singkat, tinja tidak memiliki kesempatan atau waktu untuk mengalami perubahan warna tersebut.

Keadaan ini sering disebut sebagai rapid transit atau penurunan waktu singgah di usus besar yang akhirnya menyebabkan feses berwarna hijau.

Tinja dapat berwarna seperti dempul karena tidak adanya warna empedu yang mewarnai. Apabila keadaan ini terjadi, dapat dipikirkan kemungkinan adanya gangguan pada saluran empedu yang disebut sebagai atresia bilier. Tinja yang berwarna seperti dempul ini merupakan keadaan yang harus segera dievaluasi untuk dipastikan penyebabnya.

Tinja yang berwarna kemerahan atau kehitaman dapat diasumsikan ada perdarahan saluran cerna. Tinja yang berwarna merah bercampur lendir dengan konsistensi cair merupakan pertanda penyakit disentri.

Warna tinja hitam seperti ter merupakan tanda perdarahan saluran cerna bagian atas seperti kerongkongan dan lambung. Warna merah segar seperti darah dan menetes merupakan tanda kelainan usus besar bagian bawah seperti polip, hemoroid, luka di daerah anus (fisura ani).

Di masyarakat, berkembang suatu anggapan bahwa tinja yang berwarna hijau mungkin saja disebabkan karena ibu mengonsumsi banyak sayur- sayuran. Jika diperhatikan makanan yang dikonsumsi ibu satu hari sebelum atau pada saat bayi yang minum ASI mengeluarkan tinja berwarna hijau, mereka memang makan makanan seperti daun papaya, kacang hijau, daun katuk, bayam, kembang kol, kangkung, gado- gado, dan capcay.

Namun, hal tersebut masih belum jelas apakah ada hubungan atau tidak, dan masih memerlukan penelitian lebih lanjut.

Warna tinja kehijauan juga sering terjadi pada bayi yang mengonsumsi susu formula khusus seperti formula kedelai, formula hipoalergenik, formula asam amino, dan beberapa formula dengan kandungan zat besi yang tinggi.

Diare pada anak yang berkepanjangan bisa menyebabkan warna tinja yang hijau akibat overgrowth bacteria karena toksin yang dikeluarkan bakteri akan mengikat sebagian empedu di tinja sehingga empedu tidak diserap kembali oleh usus dan akan mewarnai tinja lebih hijau.

Secara umum warna tinja normal bervariasi antara kuning, kecoklatan, dan kehijauan dan tidak terlalu berkaitan langsung dengan penyakit pada bayi dan anak. Bila ditemukan warna tinja yang putih seperti dempul, merah darah, hitam seperti ter atau kopi,hijau tua disertai diare barulah kita curiga adanya penyakit yang serius pada bayi dan anak.{*}

Penulis: Muzal Kadim
Ikatan Dokter Anak Indonesia
Artikel pernah dimuat di Kompas, Kolom Klasika, tanggal 12 Juli 2015

1 7 8 9